Minggu, 04 Desember 2011

Kausalitas Biru

         : Matahari

pernah kubertanya kepada takdir
apakah bahasa kepada mentari adalah normal.
(tiada jawab)
-
terka tunggangi dahan ingatan,
tak sanggup kulucuti dengan seka keceriaan.
berdenyut pada selaput firasat,
melansir remah-remah penyesalan.
hantui segala performa tatkala kucoba menjadi biasa.
tapi, gumam sayu itu tetap saja mengibar-ngibarkan asing
seperti cengar-cengir genta amat menjemukan.
-
seperangkat pelaminan hiasi taman kencana.
ada sepasang merpati sedang bercumbu
jua satu gua menembus ke satu bilik
di mana aku bisa mendekapnya dalam guncang berahi.
juga kisahkan tentang rindu terpompa dari liat asmara.
namun diri tiada mengerti
mengapa hanya lirik mata ia oleskan di atas sekarat.
setidaknya, ia berusaha menekan tuts-tuts konspirasi
agar mampu pahami sebuah raung sumbang. tawarkan cinta
atau sekadar dengarkan rentetan siul ikal.
hadirkan seruan ‘tuk meninjau cuaca kemesraan
-
hilang sudah semesta sebab.
terisolasi oleh bambu-bambu derita
dan, sepi ialah ritual kremasi sempurna.
-
Sleman, November 2011 

*

Apologia

         : Matahari

mungkin, tak ‘kan pernah ada sinar ataupun aura
untuk sekadar bertegun mengenai sebuah resepsi.
kita untai dalam naung panggang
di atas bara gairah membentang.
-
mungkin, kau pun tak ‘kan pernah mengerti
bahwa ujian sesal padaku meregang.
melimpah dari satu dunia lusuh
lantas mengalir ke bait-bait aksi dan mimpi.
bergerak seiring getar landai sang kelana
hingga tiada lagi cerita.
juga sejuk senyum para boneka.
-
mungkin, kau juga tak ‘kan pernah tahu
tentang pekik lemah dan garis kegentaran.
belum sempat kuserut ‘tuk kujadikan simbol-simbol ampun.
berharap bisa segera kutuai, lalu kutembakkan padamu
sebagai mata air sekaligus saksi bisu.
lambaikan permohonan mungil
perihal ketaksanggupan diri
saat mencoba luluri cuping hatimu dengan cinta.
-
mungkin, dirimu ‘tak kan pernah menduga
jika gurat maaf tengah kukelola
adalah alienasi berat dan menganga.
-
Sleman, November 2011 

*

Menawar Nestapa

         : Matahari

remuk ini menggelegak.
sekian lama terkurung dalam cangkang beta.
seperti celoteh timbulkan nyeri dan sembilu
tanpa peneduh.
-
tiang-tiang beta melentur.
tanggul-tanggul pengikat perkasa, pun
telah tergerus dan tak lagi terbaca.
sisakan serumpun engah, tengkurap tiada daya.
-
pernah beta lari, tuju tanjakan.
cari kepatutan ‘tuk sinergikan geliat
agar beta tetap beriak dan mampu merancang kemesraan.
tapi, beta cuma temukan lompong dan beling.
jua bongkah-bongkah undi, sudah putus dan menghangus.
-
beta hanya tergantung di atas dipan tua.
hilang sirip, juga nircipta.
bertempur dengan rumus-rumus tak terinci.
sekadar menanti getar bening ‘kan berikan rasa
dari tetesan samudra cinta.
-
Sleman, November 2011 

*

Sasmita

         : Matahari

bel di dalam kabin ragaku meriuh.
redup sebuah pelita pun menjadi akta ampuh, bahwa
kunjungan untaian sekar putih wangi padanya
telah terberai dan melebur.
-
dengan desah
aku bergerak pada jalur-jalur fakta.
coba mereka kembali sesal dan timpang terjelajah.
-
di sana, terbayang dirimu tampil jelita.
melintang di depan diamku,
terbujur di antara panik dan pusingku.
         perlukah kita berdiskusi lagi?
-
nada-nada bahasa ini mendesak untuk segera mengelak.
helai-helai tafsir sudah hilang surya, juga setia.
hanya haus tersisa,
menyusul pula tikaman-tikaman nirsengketa
menguruk hangat cintaku di dalam parit berparasit.
-
aku berada pada jagat superhening.
leluasa persepsikan ambisi-ambisi alami. terpental.
pun lekas pipihkan rinai rindu. mengencang.
agar sebuah mahakarya tak luput lagi dari kelokan tak bertuan.
-
Surabaya, November 2011 

*

Minggu, 06 November 2011

Katastrofe

         : Matahari

lembab tangis masih saja masif dan tertambat pada ambang nirsadar.
melayang-layang seperti perantau, tak pernah pulang
jika belum temukan restorasi sebagai pungkasan.
-
di sana, aku dapat melihat rangkaian kesakitan. menerus terajut,
terpahat pada kilauan khusyuk-khusyuk hati.
seperti penulisan naskah, pena-penanya digeser oleh para ahli
tatkala langit menjingga dan usia masih bersantai.
ada pula tuangan tembakan.
sesaki kabur kendurku, terbang di tubir keutuhan.
-
hmm…
pinangan semu ini takkan pernah tercabut dari semangatnya.
takkan pernah menguap lantas lenyap beriring sengit doa-doa.
takkan pernah!
-
Sleman, Oktober 2011 

*

Tentang Hujan, Gitar Tua, dan Sebersit Cinta

         : Matahari

hujan ini ingatkanku tentang karakter. pernah meletus kala kuterjemahkan merah. seperti sebuah gambar, tertuang dari kegemilangan ke dalam satu inspirasi. lebat, menggempur, dan mengikis kenyataan lugu, telah lama kuanggit seiring kelugasanku. apakah ini asli? entah.
-
gitar ini sebagai saksi. tentang tercerai-berainya nada-nada ramah tingkat iba. di balik medium-mediumnya ada enggan; apakah harus kucomot atau sekadar kurobohkan? tidak tahu. kumengerti hanyalah lupa. tertanam pada igaku, hilang di jalanan.
-
aku bermutasi ke sebuah lokasi janat. coba hindari petaka dan taji-taji. mungkin akan mengganjarku dengan kerumitan tak bertuntas. aku lari untuk kunjungi sekuntum benak. selalu berikan revisi. jika peluangku telah mati maka mendekatlah. kau akan maklum dengan sang cinta. dan tangis adalah ulah setimpal untuk rayakan merdeka.
-
Sleman, Oktober 2011

*

Serbuk Sari

         : Matahari

di sela-sela relung nyawa, kau setubuhi dengan setia.
aku datang; tanpa kabut, tanpa hujan.
aku bersimpul di hadapmu.
bertekuk nafsu, menunduk, dan memegang rahasia
tentang setangkai serbuk sari, kuboyong dalam wujud asasi
dari butanya halaman umurku.
-
         sayang, sudikah kau menerimanya?
-
Sleman, Oktober 2011

*

Pesona

         : Matahari

pada gagang malam
kutemukan dirimu. lunglai di atas selembar pualam.
kusentuh, lantas kuremas dingin sensual tanganmu.
lalu, kupanjati tubuhmu
         untuk menggugat.
-
sayang, aku telah berlari. kitari tujuh samudra dunia
dengan satu akselerasi. terpatri dalam satu rute
         untukMu.
apa hanya geming dan kerling kau sembahkan untuk piluku?
-
aku kerap menghuni tekstur-tekstur maut, terpajang
         di lorong-lorong tua
bertelekan teror dan tusuk-tusuk celaka.
tubuhku terkoyak. ditimang keabsurdan, timbulkan cengang.
kau bisa mengidentifikasi bercak-bercak luka
pada kepolosan hati ini.
bercak-bercak akan buatmu mengerti
bahwa aku adalah aktor, setia menggubal cinta
         untukMu.
-
         sayang,
sampai kapan kau menerus mencangkung tanpa ekspresi,
hiraukan diriku, ingin melamarmu dengan kasih?
-
Sleman, Oktober 2011

*

Chaos

         : Matahari

dengar!
saat ini fondasi jantungku meliar.
tertepuk-tepuk daulat halus,
datang seiring endap oksigen bola-bola meriah
         dari luar.
-
ia mencambukku; kau.
kau.. kau.. kau.. kau.. kau…
lagi-lagi kau berkibar di atas sayat-sayat rapuh.
membikin pori-pori itu kian lebar, dan
kali ini kau adalah aral.
menelungkup padaku. menghijab hingga hilangkan pesta.
karamkan jiwa ini ke hatimu tanpa kata.
uhh…
-
kau menjibaku.
daya tarikmu bertumpu di atas kestabilanku.
ada kagum, juga dendam
seperti konsep-konsep. tak sanggup kueja dengan gagah
atau sekadar kutelan dalam tegas cahaya bulan.
-
tapi, di edisi ini
kau terlalu cantik, sayang.
memadat pada kesingsetan rindu.
buatku membatu.
asimetriskan lalu lintas mengalir deras
di sulur-sulur darah.
tertutup oleh tirai-tirai kemuakan.
-
kau ialah bintang.
masuk ke bubung mimpi-mimpi ajaib
dengan aksesori menawan.
kau piawai permainkan sendu. instruksikan akalku
agar senantiasa mengimpor lekuk-lekuk merah muda
         demi semerbak cinta.
         kerap kuteken dalam doa
         sembari tuangkan air mata.
-
sayang,
apakah kau akan menerus mengikat lalu menggulungku
         seperti ini?
-
Sleman, Oktober 2011 

*

Minggu, 02 Oktober 2011

Diktum

         : Matahari

aku
tegak lurus. dengan keringat tiada mahkota. berdiri. di ujung spiral kehidupan. kuas dan buku gambarku kuseret ke gudang. tak ada lagi seni mulia tentang kata-kata cinta. ya, aku lara. 
-
kau
memetik buah dari sketsa milik Tuhan di keintiman malam; tentang isi. lantas, membidik lalu lemparkan satu tanda ketakramahan. menderu lantang menuju hatiku. dan clapp… menembus tujuh lapis makna. aku nestapa. 
-
kita
pernah bersua pada pernak-pernik semampai. jua bersitegang dalam iritasi, tercopot dari jalur-jalur api. opsi kita masih panjang. memang sukar dan ekstrem. tapi, aku telah mengusut. bahwa, mungkin kau tidak nyaman, pun alergi, berada di antara kerut-kerut ketakwajaran ketika kutempelkan pada tembok-tembokmu. jadi, lebih baik aku memungut kembali hatiku saat dulu pernah jatuh di depanmu. 
-
Sleman, September 2011

*

Candle Light Dinner

         : Matahari

ini malam sudah sepenggala.
dingin tengah menguliti gaun hangatku.
tapi, kersik-kersik kedatanganmu belum bersaksi
         di sulur waktu.
-
gerak-gerik bias di sekitar serentak kibaskan satu tema: cinta.
mereka mabuk di padang rindu.
menggelayut pada cabang-cabang mega muda.
-
mereka leluasa memekatkan busa asmara.
saling menyentuh takik-takik hati
untuk menawar ambigu tentang tengkar
juga membantar ruapan haru
agar senyum tak lompat menjauh.
-
di sudut, diri tinggal sendiri.
kaku seperti mayat tanpa denyut biru.
teraduk-aduk oleh kicau-kicau hitam dan sinyal-sinyal kelam,
menjamah sais pikiran.
ahh …
-
lilin di depanku adalah kado untuk sepi.
bagai terapis, menyambung patahan-patahan bilur luka.
ia menyisakan beberapa inci,
namun percik-perciknya ialah luhur, menghibur.
meningkahi guncang-guncang longgar supaya aku tak terdampar.
-
kau!
kau memang sempat melabur pasir-pasir keringku dengan air.
membentuk bangun-bangun indah sepanjang desah terkilir.
tetapi, ada gelegar ringkas mencucupku.
berat! padat! mewartakan konklusi tentang lusa amat jahat
bila kutempuh.
-
nun, di mimpi basah,
aku melaju tanpa arah menujumu.
lewati liku-liku jalan dalam gerah dan penuh petaka
(ternyata) tetap saja kau tak sanggup kuajak
‘tuk sekadar menikmati secuil ngiang merdeka.
-
hufff …
mungkin, aku harus segera mengungsi dari sini
sebelum lumen merunduk lantas mengajakku
         untuk mati.
-
Sleman, September 2011

*

Anoreksia Cinta 1

         : Matahari

dalam gelap
lahap membelukar pada keteduhan dada tak lagi mengkilat.
ia terberai. telentang. mati.
terendam bisik-bisik, berkunang-kunang.
mereka datang dari balik pintu jangkung. dengan tajam!
-
organ-organku tersekap dan tersimpul.
terbalut energi negatif tanpa mediasi.
dan, suaraku terjejal oleh hilir mudik pekak-pekik
tentang janji-janji tak akur.
melafalkan mawar dalam basah,
mengelupas elok dalam lara.
-
adrenalin ini telah mengental.
tersunduk kerawanan halus bertebaran.
esok, mungkin saraf-saraf ini akan pulih,
namun jejak-jejak gelombangnya tetap terjaga.
permanen di tiap fase-fase indera.
ahh …
-
Pasuruan, September 2011 

*

Paranoia

         : Matahari

hehee…
fatwa atau ocehan buku-buku itu tak perlu kau reguk.
ayunan bahasa tubuh dan deru ledakan mesin-mesin mereka, pun
damparkan saja di atas tumpukan sampah.
-
gelimangan buai-buai jerammu hanyalah genangan.
suatu waktu menyusut pada etape tertentu.
percayalah! lambat-laut sebilah hijab akan menetak.
kau akan terasing tiada pelita
bila kau tak segera bercocok cinta.
-
hei, apa kau akan terus melengos menjauhi?
jika demikian, kau benar-benar antagonistis.
-
kau harus menenggang satu rasa.
setidaknya, kau belajar mengeruk lantas memetik ciprat-ciprat sayang,
meresap di antara badai-badai energik. memapasimu.
itu adalah entitas, mesti kau bangkitkan.
-
apa, kau bertirakat dan bermunajat?
doa tanpa laku adalah lesu, sayang!
kau akan tercemar dalam penjara.
cibir-cibir itu akan memijatmu,
mencincangmu, bahkan mampu menebasmu hingga hilang damai.
timbulkan dendam dan angkara,
terkucil dalam mihrab sengketa.
lalu, kau hanya sisakan ladang untuk mengadu.
-
Tuhan ciptakan aku untukmu, cinta.
apa kau tak merasa?
-
Pasuruan, September 2011 

*

Sabtu, 10 September 2011

Karikatur Malam Milik Tuhan

         : Matahari

dengar! dengarkan satu gegap gempita di atas sana.
Tuhan mulai tumpahkan wangi jingga
pada riak-riak lelah dalam tidur.
-
Ia persuakan diriku dengan garis-garis ungu.
garis-garis meracau dan membius
serupa jasad tajam membungkam.
-
seperti puisi, rangka-rangka itu terhidang lalu memikat.
ujung puncaknya terkulai di awang-awang
dengan jalur sinar-sinar melandung.
-
nur-nur menggumpal di tentang.
satu depa; perempuan.
astaga!
ia menjorok, berkontak
lantas luluhkan hati menjadi huruf-huruf kuyu.
-
dua cuil matamu saksama lemparkan hina.
tebaran senyummu adalah racun.
penuh ranjau dan hardik.
lalu tiba-tiba kau lari memelukku
kala mata kita bertatap. serta merta kau menggigit bibir ini.
tassst…
-
… terjengkang.
tergeletak beriring kekalutan menyeramkan.
kau telungkupi raga ini. dingin
hingga kita menyatu
bersama gemerincing tangis membiru.
-
saat gerutup semu terpiuh, aku terkesiap.
melalui jendela
kusaksikan malam masih melamban.
tergosok kerlip bintang-bintang
seiring deru angin terbata-bata.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Di Tepi Kanal

         : Matahari

di tepian ini
sejarah pernah sajikan dua nyawa.
saling menimbang tara dan benturkan bisik-bisik mesra.
kujilati suhu tubuhmu
dan kau selalu melalap habis lekuk dan gerakku.
-
jika perumpamaan, maka kita adalah kerdil terasing.
mulia dalam hening badai menawan.
-
seiring ceceran tetes-tetes bius di pedalaman nurani
kita mengidam. tentang sengat-sengat muda
juga visualisasi hambar namun berat.
segalanya, kita gugah dalam derai-derai rotasi
hingga petang meraih kita
dengan cintanya.
-
tapi, sampiran ciri-ciri kita pada tingkap tidur telah lapuk.
berjajar cela dan loreng di sana
tanpa sengketa.
-
ini adalah karamnya petaka di dasar pasir kegundahan.
pengap-patah menyemburat,
menggedor-gedor pitam,
dan beberkan jaring-jaring senjang amat menyakitkan.
dan …
tiba-tiba saja aku terngiang.
terpana pada satu niscaya memaksa.
-
di tepian ini
dengan lantang aku menyesap kesah.
melebihi garis duka
agar pahit berangsur reda.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Sarang Laba-laba

         : Matahari

aku adalah penyair.
dengan kepingan kata-tanda kucipta ornamen-ornamen impresif
seperti laba-laba di atas sana.
-
sajak-sajakku berbingkai. kau boleh menyebutnya sarang.
ya, sarang penuh tali-temali telanjang.
bersiku, sempit antarjarak, juga ringan.
-
o.. o.. ow…
jangan kau terka bahwa kalimat-kalimatku adalah elegi.
memuat kelabilan dan payah berlarat-larat.
sungguh, kau terlalu lelah jika bermimik seperti itu.
-
ini adalah jerat halus dan licin.
mampu menandaskan tumbal sampai ke ulu ajal.
sekali tertikam, maka keriuhan simpul-simpulnya akan membebat.
melibas sang korban hingga terbantai dan tergilas.
-
tapi, itu hanyalah embusan kisah lapat-lapat tentang masa lalu.
segar untuk telinga, namun hanya kecumik bila dibaca.
-
kini, bait-baitku kehilangan mara.
sebuah lantunan nujum berkata bahwa syair-syairku tak lagi lincah.
semua terkikis karena cinta.
ya, cinta. cinta mengejang pada satu waktu.
timbulkan infeksi dan demam meremukkan.
-
aksara-aksara terkoyak.
menderik. jeritkan nyeri akibat erosi
lantas jadi remah-remah tanpa titah.
berserakan di antara perdu-perdu kekacauan.
-
jadi bagaimana,
apa kau sudi menganggapku sebagai penyair?
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Gerhana Matahari

         : Matahari

di satu terik berat
kulihat kerlap surya tersentuh oleh tualang.
sensor cahayanya terengkuh,
juga hangatnya raib untuk dijimpit.
-
dari balik tabung suram telentang, kau berbisik.
“cinta ini bukan untukmu”.
aku mengerlip sejenak
lantas kubalas gaung itu dengan kokok keberangan.
dan kau pun tersumbat oleh penjara,
kernyitkan reputasiku pada lirih sang tepi.
-
dalam kelugasan, langitku berkaca-kaca.
sengat mencengkeram posisi.
tempelkan janin hitam seiring tenggat
sebagai cikal bakal alergi dan infeksi.
seperti satu tawa, sekadar sisa.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Minggu, 07 Agustus 2011

Nirmala

         : Matahari

konser cinta kian melamban, masih debami luka-luka.
bergerak menuju sengau
lantas berjuntai pada seluk resah.
hanyalah bayi. melata dengan renta
tanpa sirip.
-
kutebar pandang. berseri namun keruh pada cabang.
saat menegak, kudapati dirimu sedang memamah hijau.
bersihkan pahit jalanan
juga membangun tahun-tahun lebam.
-
pada satu potong malam, aku menyebut dewi.
meretas rambut, lutut, dan dagingmu secara deras
hingga terangsang.
nyawa pun bergolak
kendati karut-marut mengokoh dan bermukim
untuk turunkan friksi, jua frustasi.
-
pernah aku menghadap dalam kepatutan
disertai paradoks demi menyingkap serabut tanya.
tapi izin itu senantiasa cacat saat pulang.
mengencer dan aus karena ketus,
tertindih beberapa modus sampai putus.
-
selamanya, kau adalah nirmala
meski bulan sabit
telah membanting satu presisi dalam ruangmu
tentang ranum istikharah
seiring derai-derai hari di atas bulu-bulu kreasi.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Sedap Malam

         : Matahari

karisma terlilit pada tiang-tiang malam, melulus.
melesat seperti tombak lantas melambat.
suguhkan empati tanpa kekusutan.
dan pendar-pendar itu tahu, ini adalah masa tikai
tentang racun-racun teremban.
menyindir. nihilkan konsep-konsep tentang cinta,
jua tamatkan satu arena,
vonis beranjak lumrah.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Kisah Seorang Kerani

         : Matahari

pada lanskap kata-kata aku berburu.
seperti bidak aku tersendat di antara lekuk-lekuk aksara
demi satu makna: menyongsongMu.
-
pernah kau membias pada lambaian tajuk.
lirih, murni, juga berwarna.
namun itu hanyalah stimulasi kilat. lantas lenyap,
sembunyi di balik dominasi tanda baca.
tak mampu kupungut dengan rasa.
-
kupikir itu adalah firasat
tentang petaka kata-kata atau sekadar ironi
tinta-tinta pembongkar haru.
merekat pada palung jiwa
hingga tensi meninggi dan menggiling ekspresi di atas kertas.
-
seiring ledakan-pukulan kalimat-kalimat irasional
saat itu pula lubang-lubang risiko kian matang.
bentangkan paragraf-paragraf keriput, menguzuri psikis.
sedang di sana, jalan pintas hadir sebagai nadir.
tawarkan halaman baru demi sebuah usai menggelambir.
-
aku pun melunak
meski catatan tambahan tak sesegar ilustrasi.
bahkan tanda itu adalah asing
sebabkan sebak dan sesak, gemetarkan pedalaman.
-
semangat ini hanya bertemankan fantasi.
tiada karunia. bila mujur, ‘kan kutemukan angka-angka.
akan kutenggak laksana pil penawar duka
dalam gemintang tema.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Ratu

         : Matahari

sayang,
lembut cantikmu menghibur di antara puisi-puisi kuyu.
penaku bersimbah pasir-pasir dendam,
menjelma jadi kerikil dan batu.
mereka mencekik seluruh aksara
dan erang membelitku seketika.
-
saat kesimpangsiuran jiwa merepresi, petir menyerang.
memecah, lalu menghilang. tak terkubur,
berkeliaran dan berloncatan
hingga menyentakku ke dalam alamat panjang.
-
ruang gerak pun terisolasi. lidah tercekal.
ceceran cahaya dari lampu cinta menerus mengerjap,
mendorongku ke arah igauan.
terguling, lantas jumpai imitasi ringan.
-
kau berjalan kepadaku dalam hablur memaksa.
nafsuku tersepuh oleh ketaklaziman.
empaskan segenap runyam,
termuat di dalam mesin-mesin lokal.
-
kau adalah putri.
seberkas tiara rubungi helai-helai sebagai lambang abadi.
sebuah legitimasi putih berkuasa
dalam derajat tersangga.
-
kau hinggap padaku.
kujulurkan serial ide-ide suci dari lumbung negosiasi
namun kau menolak.
membuang senyum tipis.
ingin pula kuutak-atik lika-liku rautmu dengan sayang
namun kau berangsur membayang.
terbang menuju satu selter singkat.
-
dari pekat lamunan, kubebaskan pikir.
coba mentotal manik-manik khas, masih berpusing.
ada lolongan pribadi di sana, tawarkan satu keampuhan.
kacau dan kasar, meski kekar.
tapi, kini dambaku tak lagi sepenggalah.
warna-warniku gontai, terbengkalai.
dan mungkin segera membusuk di kaki telaga.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Magenta

         : Matahari

sebuah analis mengajak tatkala aku telantar.
menumbuk tegas, tanpa identitas.
jerumuskan diri ke dalam satu parade
sarat dengan siut-siut kemurungan
dan nihil kebinaran.
-
seakan murka, aku teduh di antara spasi-spasi liar.
pecahan-pecahan ritme pergunjingan itu masih melapisi galeri maya.
seperti tamu menyiksa.
namun, aku melihat sangkar di sudut itu.
teronggok, jua menyala.
hatiku terdorong. selangkah demi selangkah
hingga sampai pada bibir jernih nan berapi-api.
(blastt…)
-
aku tergenggam sinergi antara merah dan ungu:
megah dan mapan.
bulu-bulu sukacita terjun dari atas
bagai maklumat tentang merdu dahsyat.
-
sepintas, ada kelebat senyum tentangMu di pahatan buram depanku.
terasa kerontang dan terjal. pucat!
kuhampiri lalu memeluknya, namun duka.
kuraba gelombang cantiknya, namun haru.
tiba-tiba terpecah
dan aku pun terayun ke belakang hingga menyentuh cangkang.
-
cambuk datang dengan berang.
sengit tercium. ibarat momok memenjara nyali.
ia bertanya,
kenapa?
bunuh saja!
aku tak segarang itu
lantas mengapa?
karena dosa-dosa sulungmu.
-
aku terdiam. fatwa itu telah menggigitku:
kau adalah rentan.
kepandaianmu didominasi oleh onak-onak menagih kematian.
bersemadilah!
cuci kembali kesaktianmu agar bertuah
agar desersi tak memukaumu menuju sumur darah.
(blastt…)
-
pada kestabilan awam, kudapati bubuk-bubuk retak terngiang.
kubasuh muka, tapi goresan taring sang magenta masih menumpuk
seakan terkucil dari bongkahan spekulasi.
-
tak ada lagi elu-elu asa
hanya sisakan demam dan ranjau serbahitam,¬ siap menantang
di ujung pertempuran.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Minggu, 10 Juli 2011

Enigma

         : Matahari

tiba-tiba, kobar ungu tentangmu melindap.
beri tabik lalu terlarung ke dalam belantika fana.
tegak.
-
senyampang ada waktu
ingin kutelusuri kental nyatamu.
merantau bersama gila
atau sekadar mengintip kidung-kidungmu
di dalam bejana.
-
kau tetap halus dan sejuk.
tak sanggup kutakluk.
garis-garis molekmu
tawarkan kesan pada katup-katup cinta.
-
siasat kugenangkan pada otakmu, tak ampuh.
janggal. seperti noktah riil,
tak mampu kugeledah dengan busa.
-
sayangnya,
hingga kini aku tak kuasa merunut sisik-sisikmu.
engkau telah tenggelam.
bertasbih di sela-sela daun azali
sembari berinteraksi bersama ratusan peluang.
-
di sini, hanya membujur kaku.
sedang mengapit pangkal siksa sebagai candu.
-
Sleman, Juni 2011

*

Telepati

         : Matahari

sari-sari, aku temukan cemberut pada gagang hati.
relief-relief di sana hidangkan timpang
seperti arometerapi tawar, bubuhkan dilema.
-
hai sayang, sudahkan kau aktifkan lampion telepatimu?
-
aku masih berdiri di selit canggung, tanpa kopi.
ingin sekali kuziarahi paru-parumu
untuk kupagut
atau sekadar memahat tujuh daging sucimu
dengan motif cinta.
atau, kutindik saja sukma bening itu
dengan anting-anting asmara.
-
ambisi picik ini harusnya terdengar di sana.
setidaknya, beberapa legiun maharku mampu menyergap.
tapi diammu terburu mengebiri tanpa indikasi.
-
kala jenuh, pernah kulayang banyak upeti. seketika
coba melawan kaku, terbeber di atas rumput
agar mampu kumenghafal tanah basah pada bibirmu.
ingin kupinang dengan air hujan
namun kau tak berkutik.
-
kini, pada kepulan pejam ini
tak lagi kumenyelam dalam pot-pot palsu.
semuanya telah kedap.
riak-riak jingkrak tersisa pun akan segera luluh.
mengalir bersama kuah curiga dan bimbang.
lantas, sendi-sendi teramputasi akan enyahkanku
dari rayu peraduan.
-
Sleman, Juni 2011

*

Kontemplasi Biru

         : Matahari

sembilan batang hio kunyalakan. dan keping-keping asapnya berteriak ke segala penjuru. merayu, sesatkanku. hingga aku tenggelam dalam kerumitan intuisi; tentang cinta.
-
molekmu terendus oleh umurku. ada decak di sana. lembut, namun menyekap nalar. buatku linglung. terbuang dari petak kreasi. lantas opsi-opsi ilusi tertulis sebagai isi pada utuh sujudku. miris menginfeksi. melaknat segenap opini. dan sodorkan teror, berlalu-lalang di alamku. ah…
-
ingar-bingar sosokmu adalah elang. mengintai, lalu membuas. menghantam, menggerogot, menggulung, dan melahap pion-pion proteksi. seperti mendikte. merombak belasan juntaian inisial nyawa. bahkan sesekali menggugah curam saat aku bersekutu dengan santai.
-
kau menaruhku di atas tungku. tangan-kakiku merangkak di atas kawat derita.
kau menyumpalku. agar bibir ini tak jadi potlot yang lukiskan doa.
inikah eksekusi untukku
?
-
kini,
habitatku tersobek. buraikan embus-embus skeptis untuk ranting-ranting curiga.
di sana,
sang iblis masih bercinta dengan para selir.
tapi ia siaga membidik
tatkala seonggok tubuh tercelup dalam kolam getir.
-
Sleman, Juni 2011

*

Pilu

         : Matahari

jika kendali adalah suatu tanya
maka gelinjang jawabku.
-
ya, sabtu-malam ini kembali aku menimang isak
tentang titik reses. menampung timbunan gerah
di ketakziman hampa.
-
pada tampah Tuhan ini, aku murka.
sebagai jelata, ada harap ‘tuk membuka mendung.
mencungkil sengkarut pada cakrawala hati,
hati milik Sang Michie.
-
mentari pun menggarang.
semburkan menu-menu kumal tak tertangkal.
kucoba loncat ‘tuk menghuni kegigihan, namun dusta.
limbung membebat
seiring degup kilat. gencar memantrai, satu formasi.
-
pada irisan kuno ini, aku adalah lugas tanpa apresiasi.
tergerai bersama kutuk, memamah kekar.
menunggu sepasang gelitik, menelan pilu.
-
Sleman, Juni 2011

*

Sabtu, 04 Juni 2011

Sepotong Duka di Rimba Tak Bernama

         : Matahari

takdir adalah sesuatu.
terkadang mencekik
hingga karamkan logika tiap manusia
(seperti diriku).
-
saat ini, aku terjangkit kecemasan.
pusing menerus menggelinding dalam tempurung kepala.
gelaknya timbulkan kemelut. krusial
dan tabir-tabir tragis itu tak mampu kukunci
atau sekadar kukemas.
-
jujur, ingin kumerengek kala hadapi kemelut ini.
bukan ujian pertama, --akut--
-
raut-raut bara telah jungkalkan jenjang kewarasan
tanpa antisipasi. hanya intervensi
berjibun. penuhi kolam keramikku
lantas larut seiring kehausan.
-
di ujung parak ada cengir memijat.
sepertinya, ia membina antibodi
agar lenganku mampu menangkal puruk-parakku
dengan presisi.
-
Sleman, Mei 2011

*

Inkubasi

         : Matahari

senja menyapa tatkala aku membuas di tentang altar.
merintis rindu
setelah guyuran pelangi membekap atensi.
-
baharimu telah menciumku, bersama paras.
buatku bergelinjang. tergelepar dalam kelesuan.
rona terkelupas
dan sedap cuka tak segera lekang di bantaran mapan hati.
-
aduhai, bahkan tolehmu kerap menyergap.
berondongi fiksiku dengan mimik-mimik
hingga asmaraku berkabung.
bersimbah cemburu
di adukan kopi mendung.
-
kosong ini pun tergerai.
melandai seiring khilaf melata.
tinggalkan orisinalitas magis,
kerap kukuak di balik kerdil sang fana.
-
oh Tuhan, jangan izinkan lintasan kucel ini menggapai!
aku masih ingin mematut di rida primaMu.
-
Sleman, Mei 2011

*

Ayat Alam

         : Matahari

dimensi buram ini senantiasa kurawat.
dari atas singgasana, kurebakkan ramah sebagai media.
nyatanya
megah cinta hanyalah jarum, teramputasi oleh cuaca.
-
hati lapang kian punah.
terlilit rajam dan kungkung di liang limbah
tanpa jendela.
-
takdir pun siap menguburku.
denting pedang inapi dada, bertalu-talu.
berisik, bersahut.
melejit bersama kalap, kucerna
tanpa benah.
-
ingin kutancapkan sayang padamu dengan renyah
atau rembesi indahmu dengan kesatria.
agar cecapku ringan,
agar aku tak terperangkap oleh kotak pengap.
-
Sleman, Mei 2011

*

Sajak Butut

         : Matahari

di ujung kebutaan aku berziarah.
menggali ideologi
meski gelagap begadang di titik hitam.
-
tiba-tiba,
kutemukan sajak di barat.
kugahar, dan cantiknya menculik tahta.
api terdeteksi pada kata-kata.
aku tergiur, lalu berdansa.
na.. na.. naa…
-
kuberlari menerobos dini, --padamu--
menabrak kekusutan guram, seperti lelaki
tanpa beban.
lari.. lari.. lari…
-
badan adalah baju, mental adalah tajam.
istimewa!
seperti madu mencuci hasrat.
-
tapi,
tak pernah kugapai gelarmu.
janggal. tanpa prediksi
bagai gelaran potret jumbo.
tak mampu kurengkuh dengan pita merah.
-
pada murung, atmaku telah jumud.
hausku berlutut di tentang almanak tua.
menunggu secangkir nikotin, bebaskan luka.
-
Sleman, Mei 2011

*

Madah untuk Michie

         : Matahari

pada hangat secangkir teh, aku berorasi.
kuawali dengan decak ‘tuk sang primadona.
lengkungkan rumbai rambutnya dalam imaji.
-
sepasang bayang kuhadirkan; Kau dan Aku
tanpa peluk. hanya sekadar jamuan minum.
ingin kuduplikasi
untuk hari-hari sebelum binasa.
-
kumanjakan kau dalam setangkup layar kolosal.
jangan berpaling!
harapku, ikon-ikonmu kujelma jadi nyata.
kuisap, lalu ‘kan kubela dari kemungkaran sang fasad
agar kau tetap agung,
terjinjing rantai kepolosan sang adiluhung.
-
tapi, kau menjerit kala tunggal kurengkuh.
terbunuh.
capaianku hilang, sisakan kebohongan.
dan, aku terusik oleh sitir malam,
mengukir bulan dengan kecerdikan.
-
pada hangat secangkir teh, aku menangis untukmu.
-
Sleman, Mei 2011

*

Minggu, 08 Mei 2011

Perihal Pohon yang Berlangit Tujuh

         : Matahari

konon,
pohon itu berkebaya. terkadang terbang.
-
berselendang,
tampak berlaktasi kepada tengadah samar.
asri.
tak terlukis oleh pena.
tak mampu dicerna oleh rumus-rumus dunia.
-
lalu, kupetakan sekujur itu.
coba mendiagnosis gelombang-gelombang di pinggangnya
dan aku terjerumus.
-
         kau siapa?
         hanyalah pemula.
         kau dalam resesi?
         tentang cinta.
         apa hendakmu?
         lemparkan Dia padaku!
-
pada parau ikhtiarku, ada segan.
merebak dengan sigap, membelit dengan jahit.
-
aku menunggu gusur
seperti boneka di dalam kapsul.
-
Sleman, April 2011

*

Capung

         : Matahari

aku punya kepak sayap.
kupetik dari endapan kabut bening
di bahu kota.
-
‘kan kulego sumpah serapah kepada para kesatria
agar mereka menghunus tenaga
lalu menguras sepoi nyawa.
kemudian, Tuhan menerbitkanku
sebagai capung.
-
ketika ungu, aku bergegas bersambang.
menengok ayumu, asrimu, manismu
sampai tercenung,
sampai anomali mengembung.
-
nyatanya, lamaran telah terungkap tanpa debat.
lembut,
seperti sapa kalbu kepada otot
dan aku terpaku;
hilang nutrisi, polah tak lagi lihai.
-
aku, sang capung,
beralas limbung berselimut buncah.
masih menanti hangat bumi
(saat ini tak sudi menanduku)
dalam cinta penuh hikmah.
-
Sleman, April 2011

*

Bintang

         : Matahari

prahara, aku cicip takkan pernah terurai.
ini tentang karma.
-
koleksi corak pahit adalah arsip.
sehampar ladang tangis tanpa warna-warni ikan
kupikul sendiri bersama ufuk menjelang busuk.
-
ingin berlabuh di lehermu.
membuka pintu perisai, lalu mentato lubuk ratumu
dengan kental tekad, percikkan api
agar kau tak lagi tuli.
-
untukmu, cintaku adalah keramat. murni
tak terlalai oleh zaman
dan
gelegak niskala ini mengharapmu, sungguh.
merebutmu dari lapis-lapis seringai para pria
supaya kau bisa menabung rindu
demiku.
-
ternyata,
saujana mata memandang, konsensus kita ialah tiada. wafat
seiring estimasi sungsang
akibat singsingan sihir Tuhan
oleh restu bapak-ibumu.
-
Sleman, April 2011

*

Moratorium

         : Matahari

akan menjadi beban bila dadaku tersuap cinta.
seperti ekspatriat di ujung gegana. tidak!
-
paket itu menerombol,
terbingkai oleh ketimpangan.
berat. terlarung lantaran seorang penjaja telah
membungkusnya beserta aroma.
ia hujaniku dengan permai
tanpa konspirasi.
-
saat dekat, aku tersambar. berkaca-kaca.
ah, …
-
misiku: hanya alirkan sadarku ke segala entitas.
mengolah romantis menjadi keju atau cokelat
agar biang dosa tak jadi kuman,
lahirkan didih dan iritasi di atas tilam.
-
aku memilih ikon di kanan; misteri.
sebuah spekulasi untuk hindari derita pada sekujur ulah
ketika sore sabdakan desau kepada seorang bocah.
-
Sleman, 3 April 2011

*

Sabtu, 02 April 2011

Katarsis

         : Matahari

jejak-jejak libas melanda. bercokol di dada, mesra.
seperti perigi, senantiasa pancarkan gundukan-gundukan petaka
tiap edisi.
-
seakan menimba aral,
lengket itu tak henti-henti tawarkan secuil stereotip.
tentang pasir putih berkutu,
merebut imun batinku.
-
sudah lama aku menafsir secara resmi,
namun hanya lapar dan sia-sia terbuka.
bahkan kau panik;
pintu khusyukmu kau tumpas dengan selenting siut
hingga dingin darahmu ciptakan laga.
-
menjelang lelap, secarik patron terdampar.
menggeser lelah
lalu menukar palsu, tergantung di usiaku
dengan sekedip edukasi tentang gengsi.
-
dan,
aku pun pulas dalam kawah aspirasi
-
Sleman, Maret 2011

*

Selubung Putih yang Melambai Padaku

         : Matahari

kau tampil bersama ritmis hujan.
serupa peri membetot mentari pada petang.
-
selubungmu embuskan suci, menumbuk hati.
paparkan narasi tentang sebilah wajah
menggiringku kepada senyap tanpa nama.
-
lambaian itu mendedah cinta. asmaraku tercoreng warna.
ah, indah…
bagaikan gravitasi.
gemparkan dada, getarkan jiwa.
-
kucoba merentas.
ikuti alurmu di atas pilau.
sesekali kau tawarkan ujian
dan aku kerap mati dalam perangah berkesan.
-
kau menembakku.
memblokir urat-urat napas.
erat, timbulkan patuh ciutkan jasad.
kau menerawangku.
sterilkan raga dari nista
lalu aku terapung.
terkucil tuduh tak terarah.
-
sepertinya
aku hanya roh, saat ini.
bermeditasi di atas bunga-bunga.
berdoa, agar mu-dan-ku ialah padu
hingga kita mendiang di dalam peti sayu.
-
Sleman, Maret 2011

*

Merias Malam

         : Matahari

ahai!
bulan telah garang. menumpas segenap kantuk menghunjam.
skema sajakku kuketuk, namun sepi. tiada getar.
hanya resah terkabar.
-
amboi!
bintang merayap. bawa makna untuk perawan-perjaka.
syair-syairku pun berkolusi. merias dongeng-dongeng ragu
tentang aku luruh.
-
di dasar semak aku menyimak. seraya membelalak.
bertahan. kaku. tanpa nada dan suara.
ciptakan inspirasi demi sirkulasi.
-
kau;
dara berambut cahaya. berbibir ranum. bermata bianglala.
menegurku pada kealpaan gulita. seperti panah.
bangunkan euforia.
serupa ngiang singgahi kerjap mata.
-
kau;
sahaja. pemilik senyum tipis pemamer surga.
bulat tekadmu kuanggap kilah.
sebabkan perasaian menebas harapan.
-
malam ini, sesak mengguyur. kutuk pun merebus. menginjak.
kreasikan satu sensasi. perihal cinta tak segera kulanda dari seseorang.
bernama Michie.
-
Sleman, Maret 2011

*

Melacak Ombak

         : Matahari

teriakan ombak bergerincing. mengekang cuaca,
tanpa semburatkan segan pada jantung malam,
meretas wangi dedaunan.
-
ia, tuangkan segelintir misteri
pada puncak pekan tentang sunyi dan imaji.
kuhirup. terpental ke rona jiwa,
bangkitkan anestesi,
sebabkan radang lalu seorang dayang terpampang.
-
hatiku merunduk; tersayat, hingga tersesat.
-
tak terelak.
merahnya telah merebus nyaman.
putihnya muskil kala kugenggam.
kebalku tertantang.
andalkan lungsuran peluh dalam kelenggangan.
tonggak asa terpancang.
angsurkan semilir asmara
di suatu tradisi penuh demarkasi.
tapi ternyata, derak cinta terkulum cerita
sederet kungkung pun mengimpit cahaya.
-
ada gerutu di punggung air mata.
sedang menenteng rengek demi wujudkan cakrawala.
-
Sleman, Maret 2011

*

Sabtu, 05 Maret 2011

Menuntun Perih

         : Matahari

         “andaikan malam yang sepi dapat bicara,
                 mungkin aku takkan kesepian”


lirik-lirik itu mendera bersama makna.
menukik, menuju hati butut tiada rindang.
-
kemolekan kerubuti angan, tak mampu kuelak.
manis namun memeram perih dalam semak penuh lambang.
-
babad cintaku hanya riak.
cuatkan anomali, jahili rahim mimpi.
-
asmara bergelayut. tanpa euforia, juga sentosa.
gelambir rindu pun liuki peranti raga.
umbarkan sengau hingga saput lajang jadi perkara.
-
pada interval malam bulan mengelus dahi.
jabarkan dongeng perihal tata bintang.
kusimak, lalu terdesak.
seperti abrasi, tanpa abadi.
-
malam ini aku merunduk di kandang.
masih dekutkan maklumat tentang kegandrungan.
coba mengayuh damai
di bantaran mahligai kian landai
-
Sleman, Februari 2011

*

Terowongan

         : her on valentine day

cintaku kepada Michie adalah terowongan.
penuh kuasa. bertabur kanopi petaka.
nalar terkelupas.
bahkan analogi mulai geripis dengan antusias.
-
helai malam tercium semarak di sela-sela hijau beton.
ada asmara, bercokol.
terbalut jaring emas. tengkurap dan lugas.
tapi secuil nanar mengasah lekuk lemasku.
lampiaskan pedas kala sesat meresap alamku.
-
ada pinta. tergarit kasar dan kawak di tampuk dahaga.
-
ombak tanya menerus jajaki dewi.
menempuh kepuasan demi eksistensi.
berbekal awam kuajukan entakan brilian.
coba mencegah si cantik
         agar tak amblas didongkel orang,
         agar tak nahas dibibiti setan.
-
namun, (ternyata) aku tercebur.
terjerembab ke dalam liang duka.
hilang subur lantaran stigma.
ayal pun jadi ujian melimpah.
-
Sleman, Februari 2011

*

Kisah Ubun-ubun

         : Matahari

dengarkan!
kala subuh, kunamai cinta.
percik salju di kitarku, kelabu.
terpenggal oleh tabur benalu hingga sepuh.
-
saat pagi, kusebut rindu.
di selasar, ada kompensasi.
hilir-mudik, pun berarak namun letuskan tuli.
-
ketika cerah, kujuluk asmara.
gerimis berempati saban jengkal. hambar.
nyaris munculkan agitasi sarat benci.
cih…
-
sahaya hanyalah ubun-ubun. alami dehidrasi.
terpatri, terpendam dalam lunglai tanpa saripati.
dirantai piknik kuno.
dipayungi kasak-kusuk biru.
dipukul batu berapi.
dijemur di gedung ekstradisi.
dihajar lancip piramida.
hingga
ditelan kolong merah muda.
-
panas bak revolusi: tak ramah, penuh jarah.
dan pecahkan dahan air mata.
jam tunjukkan pelik.
kedap berbelintang, bubungkan selentingan senggang.
-
rentetan lapar terendus.
seolah seringai galau di ujung gemericik halus.
secuil pesan direnggut seram.
dupa semampai raungkan episentrum malam.
(bersitegang sambil bergelimpang).
-
aku ditimang di lengan Tuhan
bagai lelaki ingusan, jelajahi pengap panjang.
-
Sleman, Februari 2011

*

Selusin Angka

         : Matahari

dua belas angka, kutampilkan.
kuulas pada Tuhan ibarat retak merangkak.
rela agar dahaga tak kandas hingga durhaka.
-
maharku berlabuh di teduh mentari bakar.
tensinya meluap, lantas bergeming dibungkam usia.
cahaya merah muda enggan ceria
digerus janur gagah, segera.
-
rindu hanyalah candu bagai sandang lincah nan lumrah.
ringan namun timbulkan tegang (pada petang).
cinta. halilintarnya setia mensketsa.
ialah tudung berkelok-kelok. oleskan getir pada tiap singgah.
bila kekar, maka madu.
jika getas, jadi abu.
-
kalap. syahdan memungut sisa-sisa sandar
sembari lisankan gentar.
ada integrasi, rancak dan lonjak ngeri.
kendati parah terbalur manja oleh disparitas belia.
-
hening ini, aku memanjat silam.
coba cari celoteh pernah tertebang.
berharap temukan sedu sedan terjaga
lalu kusulam bersama rintih di segumpal pigura
-
Pasuruan, Februari 2011

*

Minggu, 06 Februari 2011

Amnesia

         : Matahari

         Tuhan, izinkan sahaya!

ia hanya perempuan; langsing, tanpa tinta, ceria.
tersenyum semringah di sudut koridor.
laksana mawar lembap, siap lenyap.
-
pada lumpur, sahaya mengincar.
berkelindan bersama cinta dan merah muda.
rindu menyelundup kala lengah.
dan, episode pun tertabur, sembari
cakapkan luput di kulit pipi.
-
gamang terengkuh. hingga, opium jadi empu.
cantiknya, munculkan amuk dan riuh pada tiap lirik.
coraknya menyergah.
lambungkan sayang, lantas
tandus terbentang.
-
hai Jingga,
lipatlah puja sahaya.
tinggal puing-ironi belaka!

-
Sleman, Januari 2011

*

Menaksir Sakura

         : Matahari

  sungguh, bukan mudah

seperti iman,
mengasah penat dalam gemerlap rimba.
gunung teremban layaknya kantuk terlarat.
-
leher mulai terbenam. lantang.
lima mata angin tak lagi cantik.
(hanya) sisakan hangus pada titik nol.
keluarkan gurat asap keguguran.
nyeri. pun kian usang dan lamban.
-
aku terbersit.
jera menyusup,
genangi sehat dengan tera lesu-kelu.
turut pula sejumput rute merah muda; tunjukkan palsu.
dan merpati pun berkoar tentang bangkai jadi arang.
-
di balik panggung aku bergulung-gulung.
  daif.
menyongsong sayu berkicau angkuh.
-
Sleman, Januari 2011

*

Matahari

         : peri

yah …,
debarku mengucur kembali.
leleh. lewati istana di pucuk uzlah, hanya.
-
tak kunyana, kumenyaruk lantai berhijau taman.
musik selimuti malam. beberapa tambur bersinden merdu.
pada pancar, terbentang sayap.
… aku pun menyuruk.
-
di ambang duga, aku melihat kau.
kau, kau, kau, dan dia.
saling mengisap cinta di lahan pesta.
-
tegapku lungsur.
seuntai onak mengoceh deras.
takjub pada kebekuan hampa.
matahariku jadi tumbal seorang Arjuna.
-
ah,
darat tak lagi dangkal.
lahirkan senjang dan jenuh di atas ratusan pinggan.
-
aku pulang.
dalam gerai jiwa cuma muram menyalang.
-
tumbangku tertiup dingin hawa.
dan segarku tertetes gelap tanya.
-
Sleman, Januari 2011

*

Pengendara Sampan

         : Matahari

  di laut.

ada perbincangan di antara lemas-lumpuh dan jepit-kernyit.
kadang, lontarkan senyum kusam kala picing terjerang.
-
cintaku didih dalam seraut cerek.
rindunya berjibun. lamat, penuhi ujung jangkung.
-
laut mengibas, mencangkung di bawah awan rumpang.
payauku rindang. arungi sayang kian bergelombang.
-
aku tersingkir, terbelah, patah.
bunuh diri seakan arah.
pun disuguhi luluh menerkam darah.
ah,
-
tak ada mutiara. tiada mawar rekah.
hanya tempias ungu berbau teluh.
selubungi rumbia nyali
tuk merajut aliran kiri.
-
di laut,
aku membesukmu.
-
Sleman, Januari 2011

*

Histeria

         : Matahari

ya, pepatah mengata bahwa tebing ialah surga.
memang berdesis.
teguhkan konstelasi dan kibarkan mahkota, tapi
di gelap ini sahaya mengerkah.
ringkih terpenjara.
-
kerap muram. pasrah pada merah menikam.
seperti jerat, sembunyi di hampar lelap.
nuansa tiada ringan
hiasi detik hingga tegun adalah pungkasan.
-
cinta sahaya pucat: kumuh, kuyu, bungsu.
tanpa senyum dan gaun beledu.
rindu sahaya tercecer
dimangsa sumpah, diolok angka.
ah …
dan hujan sengkarut pun tiba-tiba tiba
tambatkan napas pada suntuk persepsi.
maka, sahaya cium.
berharap simpuh-ringkik jadi bukit
di akad nikah milik misteri.
-
Pasuruan, Januari 2011

*

Minggu, 02 Januari 2011

Fitrah yang Tersamar

         : Matahari

…, “abu merah muda ialah kuburku”.
-
di gua penantian samarmu melanglang.
lentingkan kecipak senyum penyulut rindu
pada sabtu.
-
jemu tergelepar. tajuk warna kian lapuk, dihuni lengang dan hitam.
pendar tersita.
pukau terlarung lalu terendam dalam cawan asmara.
terlunta,
segan menepuk arah.
-
daun-daun cinta jilati hati.
pantang kadang tersaji.
oh, langit... dengan inikah kau mengunyahku?
-
kekang teguh merengkah.
dipeluk oleh tanya belantara
di tepi tancapan ajal
pada darah.
tak tercabut.
panas.
paparkan kremasi di tentang prosesi.
-
hmm…
aku mulai lugu.
coba menggembala hablur dengan telunjuk
agar biru.
-
Sleman, Desember 2010

*

Sajak Parau Seorang Jawara

         : Matahari

sanubari menangis.
terlecut oleh getar kemarau lincah.
tertekuk. rebahkan kelana karena ngilu kian duka.
-
cinta lusuh.
tengkurap selepas asmara tergigit kelembutan aksara.
  - ia telah memantik pedih -
-
dan, purnama-cemara ialah saksi.
cerah terbentur.
terpantul menuju enggan
lalu meresap tinggalkan medan.
-
rindu takluk.
bertikai bersama tabuh malam, bergincu bintang.
lembut hawa liuki dada
ingatkan diri kala menganut sumpah.
-
kerikil tereguk.
tanda tulang sudah tunduk.
-
Sleman, Desember 2010

*

Ornamen Cinta

         : Matahari

ornamen cinta.
kurangkai dari nebula
dengan peluh
saban purnama.
-
ornamen cinta.
bukan keramba.
ialah karisma
berisi rindu, laraskan asmara.
-
ornamen cinta.
terikat ribuan tambang
di pucuk-pucuk seni tanpa destinasi.
-
ornamen cinta.
terpencar di punggung, telapak, dan sebagainya.
bawa tegar,
menguras hambar.
-
aku
tanpa ornamen cinta.
seperti kaleng kosong terbuka.
            siap diganyang
            lalu tendang hingga masuk keranjang
            “klontang…”, …
-
Sleman, Desember 2010


*

Secarik Ingatan

         : Matahari

tipumu menganga,
uarkan kelakar emas dari barat.
ramah teringat, satu tembang bising bersayap.
-
putihmu melaju bersama genderang semu.
ingar-bingar kian tersibak.
secarik duga terhanyut. berkelok, lalu
entakkan damai malam mingguku.
-
linglung memungutnya.
bagai jarah telah arwah.
iringi perih. beranjak didih di sangkar tengara.
-
mimpi tercuri.
terlalu keruh. terselam dalam rabun resah tanpa napas.
jari-jari jiwa tersentuh.
mengungkit batin, telah terjarit pahit
tanpa kelonggaran.
-
ku, menguntit sejarah.
siap menebar taring di ladang laga.
-
Sleman, Desember 2010

*