pernah kubertanya kepada takdir
apakah bahasa kepada mentari adalah normal.
(tiada jawab)
-
terka tunggangi dahan ingatan,
tak sanggup kulucuti dengan seka keceriaan.
berdenyut pada selaput firasat,
melansir remah-remah penyesalan.
hantui segala performa tatkala kucoba menjadi biasa.
tapi, gumam sayu itu tetap saja mengibar-ngibarkan asing
seperti cengar-cengir genta amat menjemukan.
-
seperangkat pelaminan hiasi taman kencana.
ada sepasang merpati sedang bercumbu
jua satu gua menembus ke satu bilik
di mana aku bisa mendekapnya dalam guncang berahi.
juga kisahkan tentang rindu terpompa dari liat asmara.
namun diri tiada mengerti
mengapa hanya lirik mata ia oleskan di atas sekarat.
setidaknya, ia berusaha menekan tuts-tuts konspirasi
agar mampu pahami sebuah raung sumbang. tawarkan cinta
atau sekadar dengarkan rentetan siul ikal.
hadirkan seruan ‘tuk meninjau cuaca kemesraan
-
hilang sudah semesta sebab.
terisolasi oleh bambu-bambu derita
dan, sepi ialah ritual kremasi sempurna.
-
Sleman, November 2011
*