Minggu, 07 Agustus 2011

Ratu

         : Matahari

sayang,
lembut cantikmu menghibur di antara puisi-puisi kuyu.
penaku bersimbah pasir-pasir dendam,
menjelma jadi kerikil dan batu.
mereka mencekik seluruh aksara
dan erang membelitku seketika.
-
saat kesimpangsiuran jiwa merepresi, petir menyerang.
memecah, lalu menghilang. tak terkubur,
berkeliaran dan berloncatan
hingga menyentakku ke dalam alamat panjang.
-
ruang gerak pun terisolasi. lidah tercekal.
ceceran cahaya dari lampu cinta menerus mengerjap,
mendorongku ke arah igauan.
terguling, lantas jumpai imitasi ringan.
-
kau berjalan kepadaku dalam hablur memaksa.
nafsuku tersepuh oleh ketaklaziman.
empaskan segenap runyam,
termuat di dalam mesin-mesin lokal.
-
kau adalah putri.
seberkas tiara rubungi helai-helai sebagai lambang abadi.
sebuah legitimasi putih berkuasa
dalam derajat tersangga.
-
kau hinggap padaku.
kujulurkan serial ide-ide suci dari lumbung negosiasi
namun kau menolak.
membuang senyum tipis.
ingin pula kuutak-atik lika-liku rautmu dengan sayang
namun kau berangsur membayang.
terbang menuju satu selter singkat.
-
dari pekat lamunan, kubebaskan pikir.
coba mentotal manik-manik khas, masih berpusing.
ada lolongan pribadi di sana, tawarkan satu keampuhan.
kacau dan kasar, meski kekar.
tapi, kini dambaku tak lagi sepenggalah.
warna-warniku gontai, terbengkalai.
dan mungkin segera membusuk di kaki telaga.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar