lagu-lagu sakral kita juga tampak kurus dan hampa.
pijar-pijar pesona menipis dan melambat
bersama keengganan untuk tertawa dan memuja.
-
madu tidak pernah turun dari pohon selera kembali.
kulum-kulum delusi mengedor-gedor segala pahit kemungkinan.
tengara pupus mulai tangkas menagih piagam.
-
suamiku, kita hampir bercucu dan makin menggersang.
bayi-bayi kita memadat di warna-warni ruang-ruang perburuan.
apakah nama-nama itu mesti diinjak-injak
ke kutub-kutub nestapa?
-
dengus pluralisme antara aku dan kau
telah tumpul dan goyah.
silabus kongsi dan proteksi tersapu jeladri penafsiran.
maulid-maulid kesalehan diam tanpa kostum autentik.
maka, haruskah zahir kita menangkap kesal dan letih tersebut
lantas memusatkannya di atas piring-piring kotor?
-
bila langitku terlalu dalam menerpa,
aku siap dirantai dan dijemur sebagai tera. tapi,
jangan ceraikan pusaka dan derajat benua syariat ini
lantaran memoar sayang kita dipelihara
oleh mukjizat-mukjizat sejak kali pertama kita berpurbakala.
kita mahasiswa, masih perlu dewasakan akal
sepanjang lever tetap bertengger.
-
Pasuruan, Juli 2016
*