Minggu, 02 Oktober 2011

Candle Light Dinner

         : Matahari

ini malam sudah sepenggala.
dingin tengah menguliti gaun hangatku.
tapi, kersik-kersik kedatanganmu belum bersaksi
         di sulur waktu.
-
gerak-gerik bias di sekitar serentak kibaskan satu tema: cinta.
mereka mabuk di padang rindu.
menggelayut pada cabang-cabang mega muda.
-
mereka leluasa memekatkan busa asmara.
saling menyentuh takik-takik hati
untuk menawar ambigu tentang tengkar
juga membantar ruapan haru
agar senyum tak lompat menjauh.
-
di sudut, diri tinggal sendiri.
kaku seperti mayat tanpa denyut biru.
teraduk-aduk oleh kicau-kicau hitam dan sinyal-sinyal kelam,
menjamah sais pikiran.
ahh …
-
lilin di depanku adalah kado untuk sepi.
bagai terapis, menyambung patahan-patahan bilur luka.
ia menyisakan beberapa inci,
namun percik-perciknya ialah luhur, menghibur.
meningkahi guncang-guncang longgar supaya aku tak terdampar.
-
kau!
kau memang sempat melabur pasir-pasir keringku dengan air.
membentuk bangun-bangun indah sepanjang desah terkilir.
tetapi, ada gelegar ringkas mencucupku.
berat! padat! mewartakan konklusi tentang lusa amat jahat
bila kutempuh.
-
nun, di mimpi basah,
aku melaju tanpa arah menujumu.
lewati liku-liku jalan dalam gerah dan penuh petaka
(ternyata) tetap saja kau tak sanggup kuajak
‘tuk sekadar menikmati secuil ngiang merdeka.
-
hufff …
mungkin, aku harus segera mengungsi dari sini
sebelum lumen merunduk lantas mengajakku
         untuk mati.
-
Sleman, September 2011

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar