Sabtu, 04 Juli 2015

Kaleidoskop

         : Matahari

malam Minggu. satu kiblat sibuk ‘tuk melangkah,
mengencanimu.
-
aku ialah hamba pengabdi ranum asmara. tergoda
oleh senyum sunyi kala duri mawar di wajahmu
mentransfer sebuah hipotesis kenangan indah. maka,
medan laga jadi sakralku, tempat aktualisasi
untuk memberi ingatan tentang prinsip genetis pribadi.
-
pada tanah sepi nan dingin
kuturunkan kata-kata dari kerlip-kerlip salju. tapi,
selalu saja sulit menyembahmu melalui karikatur
atau lukisan seperti ini lantaran embusan cantikmu
nyaris tiada tanding, juga luhur.
bahkan bisik-bisik ragamu merupakan elemen amanat.
hanya dapat dibungkus dengan hamdalah
sebagai gugatan termulia.
-
pernah aku dibekuk derita dan duka karena
ujung tampar terbuka kita
cuma belaka mendikte dongeng.
tak ada dekapan atau sekadar membuka bahagia.
kau tetap mematung dan merapal lampu merah. namun,
kubiarkan lilin romantis di atas yuridis ini terbakar
dan apinya gerogoti napas dalam seleksi
sampai grafik pujaku terpotong belati pada nanti.
-
ini adalah etika di mana aku masih berdiri
menantang iring-iringan pertaruhan.
fokus senantiasa berambivalensi
antara berteriak atau menyudahi,
antara membulati arsip atau diam-diam
melangitkan siksa.
hingga suatu saat taburan tusukan bersaksi
bahwa tuan putri tidak lagi
menyambut kobaran aksara.
atau aku malah menangis sebab
sayang telah tergelar di balai epilog ini.
-
Sleman, Juni 2015
sajak ini mengalami reinkarnasi dari dua judul sajak; Rindu #1 dan Rindu #2
yang dibuat pada April dan Mei 2009 di Babatan, Wiyung, Surabaya

*