Minggu, 02 Oktober 2011

Diktum

         : Matahari

aku
tegak lurus. dengan keringat tiada mahkota. berdiri. di ujung spiral kehidupan. kuas dan buku gambarku kuseret ke gudang. tak ada lagi seni mulia tentang kata-kata cinta. ya, aku lara. 
-
kau
memetik buah dari sketsa milik Tuhan di keintiman malam; tentang isi. lantas, membidik lalu lemparkan satu tanda ketakramahan. menderu lantang menuju hatiku. dan clapp… menembus tujuh lapis makna. aku nestapa. 
-
kita
pernah bersua pada pernak-pernik semampai. jua bersitegang dalam iritasi, tercopot dari jalur-jalur api. opsi kita masih panjang. memang sukar dan ekstrem. tapi, aku telah mengusut. bahwa, mungkin kau tidak nyaman, pun alergi, berada di antara kerut-kerut ketakwajaran ketika kutempelkan pada tembok-tembokmu. jadi, lebih baik aku memungut kembali hatiku saat dulu pernah jatuh di depanmu. 
-
Sleman, September 2011

*

Candle Light Dinner

         : Matahari

ini malam sudah sepenggala.
dingin tengah menguliti gaun hangatku.
tapi, kersik-kersik kedatanganmu belum bersaksi
         di sulur waktu.
-
gerak-gerik bias di sekitar serentak kibaskan satu tema: cinta.
mereka mabuk di padang rindu.
menggelayut pada cabang-cabang mega muda.
-
mereka leluasa memekatkan busa asmara.
saling menyentuh takik-takik hati
untuk menawar ambigu tentang tengkar
juga membantar ruapan haru
agar senyum tak lompat menjauh.
-
di sudut, diri tinggal sendiri.
kaku seperti mayat tanpa denyut biru.
teraduk-aduk oleh kicau-kicau hitam dan sinyal-sinyal kelam,
menjamah sais pikiran.
ahh …
-
lilin di depanku adalah kado untuk sepi.
bagai terapis, menyambung patahan-patahan bilur luka.
ia menyisakan beberapa inci,
namun percik-perciknya ialah luhur, menghibur.
meningkahi guncang-guncang longgar supaya aku tak terdampar.
-
kau!
kau memang sempat melabur pasir-pasir keringku dengan air.
membentuk bangun-bangun indah sepanjang desah terkilir.
tetapi, ada gelegar ringkas mencucupku.
berat! padat! mewartakan konklusi tentang lusa amat jahat
bila kutempuh.
-
nun, di mimpi basah,
aku melaju tanpa arah menujumu.
lewati liku-liku jalan dalam gerah dan penuh petaka
(ternyata) tetap saja kau tak sanggup kuajak
‘tuk sekadar menikmati secuil ngiang merdeka.
-
hufff …
mungkin, aku harus segera mengungsi dari sini
sebelum lumen merunduk lantas mengajakku
         untuk mati.
-
Sleman, September 2011

*

Anoreksia Cinta 1

         : Matahari

dalam gelap
lahap membelukar pada keteduhan dada tak lagi mengkilat.
ia terberai. telentang. mati.
terendam bisik-bisik, berkunang-kunang.
mereka datang dari balik pintu jangkung. dengan tajam!
-
organ-organku tersekap dan tersimpul.
terbalut energi negatif tanpa mediasi.
dan, suaraku terjejal oleh hilir mudik pekak-pekik
tentang janji-janji tak akur.
melafalkan mawar dalam basah,
mengelupas elok dalam lara.
-
adrenalin ini telah mengental.
tersunduk kerawanan halus bertebaran.
esok, mungkin saraf-saraf ini akan pulih,
namun jejak-jejak gelombangnya tetap terjaga.
permanen di tiap fase-fase indera.
ahh …
-
Pasuruan, September 2011 

*

Paranoia

         : Matahari

hehee…
fatwa atau ocehan buku-buku itu tak perlu kau reguk.
ayunan bahasa tubuh dan deru ledakan mesin-mesin mereka, pun
damparkan saja di atas tumpukan sampah.
-
gelimangan buai-buai jerammu hanyalah genangan.
suatu waktu menyusut pada etape tertentu.
percayalah! lambat-laut sebilah hijab akan menetak.
kau akan terasing tiada pelita
bila kau tak segera bercocok cinta.
-
hei, apa kau akan terus melengos menjauhi?
jika demikian, kau benar-benar antagonistis.
-
kau harus menenggang satu rasa.
setidaknya, kau belajar mengeruk lantas memetik ciprat-ciprat sayang,
meresap di antara badai-badai energik. memapasimu.
itu adalah entitas, mesti kau bangkitkan.
-
apa, kau bertirakat dan bermunajat?
doa tanpa laku adalah lesu, sayang!
kau akan tercemar dalam penjara.
cibir-cibir itu akan memijatmu,
mencincangmu, bahkan mampu menebasmu hingga hilang damai.
timbulkan dendam dan angkara,
terkucil dalam mihrab sengketa.
lalu, kau hanya sisakan ladang untuk mengadu.
-
Tuhan ciptakan aku untukmu, cinta.
apa kau tak merasa?
-
Pasuruan, September 2011 

*