Rabu, 10 April 2019

Mengunci Ingatan

entah setan dari lapis mana pulihkan daya.
oceh tidak, komentar tidak. ujug-ujug jatuh di selat mata.
.
benteng-benteng sistem terbabat. benang-benang kompetensi terlumat.
mereka pojokkan adat individu ke tangsi kerontang.
.
sebetulnya aku sudah mempan menangkap lupa,
menganggap keping fiktif ialah gagasan kering semata.
nyatanya, badai megah.
.
kerut mimik, pantat, wangi, tato, anting, dan mahar patuhnya
menindih mimbar malam hingga subuh.
kusangka berita acara itu lunas di atas tikar, ternyata
matra-matra terjalnya masih berdenyut sebagian.
.
televisi di otakku menyala, dedahkan rupa telanjang
perihal warna-warni di mana garis-garis jiwa terbaring,
terdampar miring. sebuah tur identitas tayang,
memutar suara baku dan visual sendu.
.
kucoba saja menipu karya sang seniman,
menggugat sesi-sesi lugas bak hama korosif agar
tak tegak mendendang jeram. namun, jengkal-jengkal bencana
telanjur merundung sekotak soja.
menggiring malu ke depan laguna ingatan.
.
ingin sekali kuserahkan aura legit ini
ke satu gudang di alas bumi tergersang.
membungkusnya dengan peti sederhana dan pasir emas.
bila sekadar hanyut, kembali ia kan bisa jelajahi kembara
ke tajuk-tajuk dirgantara. mereduksi laga atau malah menubuhi
pilar-pilar lelakiku secara radikal.
.
Surabaya, Maret 2019

*