saat mentari bersandar di balik gigir awan
dan dingin datang diantar oleh tangan-tangan hujan
kau tiba-tiba menjenguk saat kuberada di ruang angan.
-
di sisiku, ikatan di antara kita sepertinya masih berkokok
dalam hangatnya cinta.
masih teringat jelas bagaimana tetes-tetes asa
kita susun menjadi setumpuk genangan.
meski keruh, kita tetap mengerami
dengan harap agar ia menetas di bawah naung
segala restu dan doa.
-
tapi, Tuhan ternyata melirikkan cerita lain.
bangunan air-air itu jadi samudra,
membentang-melebar pisahkan semua kerlap-kerlip rencana.
ada sampan kayu namun tak ada mampu.
ada bahtera bertiang baja namun tak ada daya.
ombak terlalu tinggi dan menembok di tengah ngeri cuaca.
ingin kumelesat terbang di atas petir biruku
namun gelegar guntur terlampau gelap untuk membunuh.
-
barangkali, getar pedih ini sempat tersangkut
pada salah satu ranting-dahan logika-rasamu.
menggugahmu ‘tuk sejenak berpikir dan hadirkan air mata.
barangkali, tidak sama sekali.
meski demikian, aku mengerti bahwa niscaya angin kan pergi.
aku dapat menitip kisah putih ini seiring gemulai tubuhnya
supaya dilayang ke satu taman berbidadari jelita.
-
aku tak tahu di mimpi mana pesan itu akan tiba.
mungkin saja ia memilih membuangnya
karena ia lebih paham tentang makna indah.
-
Sleman, Oktober 2013
*