Rabu, 09 Agustus 2017

Cemburu

dulu, monumen otonomi kita tegakkan
di antara pasir kembar sebagai jamahan nyata
adanya kasmaran dari dua adegan.
kita duga bahwa rona itu kan jadi menhir. tapi,
kini kita malah pelan-pelan tampak
menggelar nestapa dan meningkat karat.
-
di keluarga, kaulah mamanya.
dewi pribadi di tiap pekik dan langkah.
patron-patron istiqomah petakan dedikasi.
prosedur-prosedur gamblang benarkan silaturahmi.
sayangnya, mitos dan teror menjawab tirakat dan hikayat.
monster-monster ketus samarkan anugerah,
muntahkan teologi kaku.
perkara-perkara mesum mengocok persepsi.
iklim ambin memproses dikotomi.
-
kejayaan keruh. aksara dan angka surga belum matang,
belum berkilauan. fase kakek dan nenek menjadi objek gelap.
mendamba not-not simetris di tengah lagu-lagu rawan.
seringai dan taring somasi tumpah.
balikkan gubuk-gubuk wajar di turnamen sarat makna.
apakah olok-olok trengginas ini akan datangkan kiamat, sayang?
-
Pasuruan, Juli 2017

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar