di sela-sela relung nyawa, kau setubuhi dengan setia.
aku datang; tanpa kabut, tanpa hujan.
aku bersimpul di hadapmu.
bertekuk nafsu, menunduk, dan memegang rahasia
tentang setangkai serbuk sari, kuboyong dalam wujud asasi
dari butanya halaman umurku.
-
sayang, sudikah kau menerimanya?
-
Sleman, Oktober 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar