Rabu, 10 Februari 2021

Hati Batu

nun…
tatkala Tuhan menumpahkan jarak, Dia bertutur
di setiap kuping ternak-ternaknya bahwa
sayembara autentik akan terbentang:
sumsum pria-wanita pasti saling menjajal kepatuhan.
.
aku melek bumi ketika pohon kurma perdana
mengacungkan sunyi ke langit dini.
tiada susu, bubur, dan kasih. alam embuskan perang
hingga ingatan tidak lagi merebus dengki dan menanak dendam.
.
aku mengenal dan memikir perkara genit
kala Jumat pertama disuntikkan ke palka dirgantara.
ia bak angin segar di gigir badai. belakangan
tetes-tetes petang selalu menggenangi jeda-jeda malam
di mana kelelawar bertukar berita.
sepenggal kabut belia memapah interaksi.
.
aku membaca bayang-bayangmu saat jam zaman
menginjak pukul purbakala. kasmaran mengejang.
tabung-tabung kepribadian lupa daratan.
sejak anasir lezat beredar di babak-babak ruang dan waktu,
drama terhormat ini mulai membingkai tenaga dan lelah.
.
saban momentum, kubaca jejak telapak tangan dan kaki
di sela-sela gravitasi. bahkan 1083 Masehi di Medan Kurusetra
kutegakkan kebaktian mulia. semua hewan piaraan dari tanah leluhur
diarak demi sebuah suara. namun, luput kembali melanda.
.
di panggung Bali tema-tema dakwahmu terpasang di pintu-pintu paria.
kutekuni interpretasi kenes itu sungguh-sungguh.
bergulung-gulung bahan dibahas, bersungut-sungut pundak
pada saban destinasi. kau tak terjangkau.
.
rayuan betina liar bebaskan jubah kesementaraan.
ilmu hitam letupkan tarung batin di kendil telanjang.
gonggongan kucing lucu-lucu banjiri relung lamunan.
segala kekisruhan takkan bisa pupuskan referensi.
.
kendati angka-angka merah nodai jatuh tempo,
kincir memoar dan roda safari masih cerah dan gagah perkasa.
siang setia terhadap matahari, begitu pula nasi terhadap padi.
mausoleum memang terbaring, tapi sinden belum tunduk kepada gending.
maka aku tetap maju sampai bulan sirna ditelan sangkakala.
.
Pasuruan, Januari 2021
 
*