nun…
tatkala
Tuhan menumpahkan jarak, Dia bertutur
di setiap kuping ternak-ternaknya bahwa
sayembara autentik akan terbentang:
sumsum pria-wanita pasti saling menjajal
kepatuhan.
.
aku melek
bumi ketika pohon kurma perdana
mengacungkan sunyi ke langit dini.
tiada susu,
bubur, dan kasih. alam embuskan perang
hingga ingatan tidak lagi merebus dengki
dan menanak dendam.
.
aku
mengenal dan memikir perkara genit
kala Jumat pertama disuntikkan ke palka
dirgantara.
ia bak angin segar di gigir badai. belakangan
tetes-tetes petang
selalu menggenangi jeda-jeda malam
di mana kelelawar bertukar berita.
sepenggal
kabut belia memapah interaksi.
.
aku membaca
bayang-bayangmu saat jam zaman
menginjak pukul purbakala. kasmaran mengejang.
tabung-tabung kepribadian lupa daratan.
sejak anasir lezat beredar di
babak-babak ruang dan waktu,
drama terhormat ini mulai membingkai tenaga dan
lelah.
.
saban momentum,
kubaca jejak telapak tangan dan kaki
di sela-sela gravitasi. bahkan 1083 Masehi
di Medan Kurusetra
kutegakkan kebaktian mulia. semua hewan piaraan dari tanah
leluhur
diarak demi sebuah suara. namun, luput kembali melanda.
.
di panggung
Bali tema-tema dakwahmu terpasang di pintu-pintu paria.
kutekuni interpretasi
kenes itu sungguh-sungguh.
bergulung-gulung bahan dibahas, bersungut-sungut
pundak
pada saban destinasi. kau tak terjangkau.
.
rayuan
betina liar bebaskan jubah kesementaraan.
ilmu hitam letupkan tarung batin di
kendil telanjang.
gonggongan kucing lucu-lucu banjiri relung lamunan.
segala
kekisruhan takkan bisa pupuskan referensi.
.
kendati
angka-angka merah nodai jatuh tempo,
kincir memoar dan roda safari masih cerah
dan gagah perkasa.
siang setia terhadap matahari, begitu pula nasi terhadap
padi.
mausoleum memang terbaring, tapi sinden belum tunduk kepada gending.
maka
aku tetap maju sampai bulan sirna ditelan sangkakala.
.
Pasuruan,
Januari 2021
*