Sabtu, 09 Maret 2013

Tarikan Terakhir dari Sebuah Eliminasi

surya di jenjang teratas itu
hanyalah infrastruktur sebuah tatanan.
seperti musik, ia melintas sekejap
selaku penyangga khitah dan kriteria
lalu pergi tanpa tinggalkan kesakralan
di balai-balai harap dan doa-doa.
-
di titik tenggat, ia terhenti
pada satu kombinasi pembatas.
seberkas anasir hambar mengantarnya
masuk ke dalam konstelasi metafora.
didudukkan di atas kursi
dengan suguhan pagelaran penuh aniaya.
-
ia menyaksikan mesin-mesin sakti
berkoar dan mendekat
dari pelataran reruntuhan pasir-pasir kemapanan.
tentakel-tentakelnya terudar.
kulitnya tersentuh oleh serabut-serabut lancang.
merambah temperamen di kandungan
lantas setubuhi ketakutan
‘tuk jadikan sarang kelemahan.
-
kedewasaannya takluk.
urat-urat hayatinya tergetar hingga terbelalak.
tergusur dari keharuman esensi dan kreasi
tanpa sempat bertanya
dan tak tercatat di menu resmi sebagai siapa.
-
ia mengerti
bahwa rohnya ialah titipan Tuhan.
sekadar sempalan pendek tiada makna,
dicocol-cocolkan ke dadu hitam beriskan
untuk diuji dan berjuang
atas nama cinta. tapi ia kalah.
tertendang dari lini upaya
dan kian menciutkan diri dalam diam tak bertepi
di batin ini.
-
Pasuruan dan Sleman, Februari 2013 

*

Teror Mental

debur mimpi-mimpi itu
semestinya terjangkar dan tersekat jauh
dari ufuk kerasionalan;
dimakamkan di sebuah resor tak berpeta
atau dijemur di hadap api mentari
agar lekas binasa. nyatanya,
ia justru sanggup merayap dan bernapas di kesadaran.
bahkan menari-nari di atas meja rias kudusku
pada tekstur waktu tertentu.
-
resonansi lolongnya adalah tur sarkastis.
seakan-akan memapah panik
menuju detik-detik negatif.
terasa sumir, melayang dalam kelebat.
namun senantiasa mencium kerut galah-galah stamina
tatkala tangguhku tumpah
dan berceceran di pantai asing;
serasa membunuh usia, jadi sebatang kara.
-
para penggarong itu meluncur
dari gayung-gayung kenangan.
seperti lahar, mereka adalah menyilaukan.
meledak menjadi pasukan hujan
kemudian mengganas di sekeliling dua mataku
dengan bintik-bintik ngeri
‘tuk berebut mengangkut kenyataan dari harapan.
-
memang, sekelumit hidayah sempat terpahami
di balik huruf-huruf braille kehidupan
saat kerumunan totol-totol sucinya termakna.
tapi, tampaknya tiada kans ‘tuk awali misi baru
di zona gelap ini
meski aku berlama-lama memegang percaya
demi satu titik di sudut prahara.
-
Pasuruan, Februari 2013 

*

Pohon Cinta

pada sepasang cangkir gembur di pekak sang waktu,
kami berusaha menggali ekspresi
untuk sama-sama menyentuh ngarai di dasar itu;
mencetak busa-busa baru ‘tuk dijadikan guna-guna
pada permulaan.
-
lambat laun, bentang pematang pemisah
berangsur terampas oleh alam.
prosesi kasih dari dua kiblat berbeda pun
dapat disatukan. merawatnya sebagai platform nabati
untuk ditempa dan disiram
dengan percak-percik koreografi.
-
saat merayakan bincangan psikologis
dalam keesaan hati di tiap-tiap dermaga itulah
racun tersebut berkunjung perlahan-lahan
dari terompet hitamku.
mereka adalah unit-unit lacur, bak semut amoral.
dengan kapak bermata setan, mereka membuat retakan
pada tatanan dan baiat tertanam.
mengisinya dengan kurikulum penuh iri-emosi,
juga dengan argumentasi penuh caci-benci.
manis pun akhirnya tak lagi tersenyum
dan bergelantung di jari-jari ranting,
namun menjadi reruntuhan busuk
dalam kapar dan hening.
-
tiada satu pun pihak berikan awal
atau benahi gelar milik kami.
mungkin karena kemudi sudah telanjur terpeleset
dan tercopot dari tangkai berahi. mau tak mau,
aku pun segera memadam-rapikan sisa-sisa.
memasukannya ke dalam peti kemas metawicara
lantas membuangnya ke atas bara.
meninggalkan angan-angan nisbah
meski sempat menepi di samping rumah.
-
Sleman, Februari 2013 

*