Sabtu, 08 Desember 2012

Menimang Luka

pada denyar margin ujian sumbangku,
aku ditepuk sebuah ngarai ketabahan.
-
leherku tertambat oleh sebuah laso dalam kuasa.
kelemasan dan kekalahan menjadi dera, terus mengintip
dari eksotisme kegarangan. tak lagi utuh.
-
kucoba meloloskan diri
dari coretan kematian dan kontur kesekaratan.
kelak melambangkan hitam
namun aku terbanting dan terbanting kembali
hingga terpental dan meluncur ke titian lebih ngeri
menuju ke sebuah pematang tak berbatas.
mungkin saja akan segera membuang dan menjatahku
ke hunian tak beralas.
-
Sleman, November 2012

*

Malaikat Kematian sedang Menungguku

         : Maryama al Kad

jaringan frustrasi ini adalah gemericik aral.
diguyurkan dari tribune kegagalan
hingga menjuntai jadi kemurungan.
lantas disuguhkan ke jantung belakangku
sebagai dokumen lisan. mengacaukan.
-
aku terselubung oleh parasit (merebut detik-detik tangkasku).
terjebak di dalam botol fiktif
dan terbasuh oleh nanar benderang.
tak kutemukan satu pun tengara,
gegaskanku ke balok kearifan.
dan tahajudku adalah rumah. tak lagi utuh
hanya terbujur malu di samping gelanggang kesabaran.
-
pada kemekaran kritis itulah
ada sinyalir kian mendekat.
(tanpa kode, tanpa bahasa).
hanya sekadar uar mengumbar, nyala dan kuasa
di puncak kegelisahan membara.
-
Sleman, November 2012 

*

Arus

         : Maryama al Kad

saat kubenahi pandang
dan mengoreksi kehampaan kejut ini,
maka saat itu pula aku membesukMu
dalam ziarah kelam.
-
aku berjalan dengan tangan lumpuh
pada pipa-pipa tak berwarna untuk menembusMu.
sekadar mencoba mengungkai sebuah hidangan suci.
tersimpan dalam kuntum kaleng,
tersampul rapi oleh pita-pita.
-
kuikuti alur rendah, menggauliku
dengan sirkulasi meletihkan
seakan-akan tungkai ini telah terantai
oleh simpulan tanya. menumpuk
dalam curah tak terbaca dan tak bernama.
dan aku akan tetap menagih janji dariMu untuk berjumpa
walau aku harus bergentayangan
di antara arus membabi buta.
-
Sleman, November 2012 

*

Seberkas Lebam yang Masih Membekas di Ingatan

         : Maryama al Kad

dulu, ada kerutinan puji-puji. kutamparkan padamu
dalam rikuh. menjadikanmu seorang gadis rupawan
dengan ekspresi puitis. ditegaskan
namun akhirnya kau menampik resah.
kutempelkan di kakimu
tentang kasidah cokelat. kuangkut
ke dalam buku kenangan.
takluk di bawah kubah-kubah kredo gelapmu,
terentang.
-
mungkin saja kau cap diriku sebagai wira sejati.
menilapmu dalam cinta,
tapi aku menduga bahwa kau mewartakan diriku
sebagai pengecut. kerap mengkritik
dengan lembayung celaan di dalam kotak bencana.
maka aku belajar untuk membeli igamu
dengan animo tersadar.
namun tetap saja tak kuraup sepeser pun keakuran.
kita timba dari perigi percintaan.
-
Sleman, November 2012 

*

Pembakar Senyum

         : Maryama al Kad

kau adalah aransemen tunggal. steril untukku
dengan akurasi dan frekuensi hangat.
mampu membuat teror menegangkan
di tiap adegan. kita mainkan
dengan sugesti simultan.
-
ada kalanya kau melukisku sebagai suami
dengan dekorasi membanggakan.
namun terkadang kau mengujiku dalam debat.
buatku merasa bagaikan pecundang usang,
memilih untuk berkhianat.
-
kau tampak seperti jagoan penghancur museum.
kita bangun dengan diskusi dan berlipat-lipat kontribusi.
koleksi konfirmasi kita pajang
di dinding-dinding kemenangan, kau bakar
hingga tak ada lagi makna untuk status kita
selain dikotomi janggal, memekakkan telinga.
-
Sleman, November 2012 

*

Minggu, 04 November 2012

Sekelumit Kisah dari Mimpi Seberang

         : Maryama al Kad

pada sebuah ladang emosi – dicuci oleh cinta –
kau lesatkan kecantikan. menggigit berahi.
aku mengancam dalam desak sepi
dan rebak tenaga terkremasi.
namun ruaman kejengkelan meruam di gorden tulangku
membuntu. tergantikan oleh trenyuh.
lantas, kita saling mengisap dan melahap asap kenikmatan
di ujung bibir.
-
aku membelahmu dengan telatah suci.
menjubeli kelajanganmu dengan sentuh-sentuh erat
‘tuk luluhkan panggilanmu. bergolak dan dadak.
kau rebut sikapku dan merajuk dalam gairah.
aku hanya mampu menimpali memar rindu pada air tubuhmu
dengan segenap nafsu. dan giatkan kebodohan naif
agar kita beranjak terbang
untuk sejenak lupakan benih-benih tragedi
saat kita permanenkan di ruang kenyataan.
-
di akhir ingatan, kita mengenakan pakaian.
telah tercopot
di bawah lindung puji dan niat. telah dicetuskan.
aku menggambar gundah di hatimu
dan kau menjemur sinis di punggungku.
dan kita sama-sama mengerti bahwa kita masih belajar
untuk menuntaskan tugas dan harapan
berupa teka-teki dan misteri
di sebuah klinik milik Tuhan.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Sekar Arum di Gigir Duka

         : Maryama al Kad

padu batu merah beranjak menjulang,
kian membungkam racau buku tua.
sebuah kitab kupijak dalam privasi, saban hari.
-
pada beberapa kertas belakangan
ada banyak elegi terlacak.
menginisialkan sebuah gagasan
tentang potongan jaringan interaksi;
larik demi larik. tapi, hari ini
di punggung haru itu aku melihat sekuntum pucuk
mulai berdiri dari bungkuk.
-
ia coba menguasai wangi. tak lagi menjalar
dan mengitari tubuhnya.
belajar mengepung panasnya medan
dengan pita-pita di badan. bergerak bebas
dan ia berhasil mengaitkan secuil benih laten pada jiwanya.
membuatnya tersenyum dalam kesadaran cinta
dan tak lagi mencangkungi gunung kesedihan
penyebab luka. maka,
aku pun segera menutup arsip itu meski telah tertoreh
dengan canting tak bertinta
lantas menembuskan doa ke titik pusat bersama cahaya.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Vaksin

         : Maryama al Kad

pada dasarnya roh sedang bersandar
di tubuhku ini kian berjarak. menjauh
terdampar di sebuah tebing untuk bertirakat.
mengenakan jubah perang, senjata, dan sebuah jurus sakti
telah masak. seperti pejuang,
siap hanguskan harapan.
namun ia masih menyimpan nota pertanggungjawaban
antara dia denganku. tersimpan di sebuah tabung haru.
gemetar.
-
di sana, tertulis peran ganda.
masih kuhafal dalam langkah
tentang tatacara merawat jentik-jentik koneksi
antara aku dan Dia. tanpa interupsi
berperan sebagai antibiotik
untuk mereparasi dehidrasi dan koma.
tapi, akhir-akhir ini perihal itu menjadi slogan.
berguling-guling dan jumpalitan tak keruan.
membuatku penat dan berkecipuk dalam kepayahan.
maka, aku pun kerap terkulai,
terapung di atas luapan tanya hingga terkunyah
oleh kubah racun,
menerobos lambung kesadaran.
-
rohku menyorot kasus itu.
seperti peranti, ia menggagas sebuah akurasi
untuk menyelamatkan lagu-lagu Kami
demi sebuah reputasi. mungkin,
ia sedang menyiapkan sebuah autopsi
untuk menaruh vaksin di dalam tubuhku
agar merah bayi asmara
tak terkubur di bawah nisan air mata.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Anotasi Seorang Lelaki

         : Maryama al Kad

ketika mengulum cinta, semua orang di dunia ini pasti
pernah menikmati huni di kesegaran tiang-tiang pelindung.
atau berpingit di sebuah kamar
sebagai selimut dari hawa onar dan juga petir-petir nahas.
gemar berbincang, namun tidak denganku.
-
aku sudah mendaki asap arifku dan juga berenang di pangkuan doa
namun aku masih saja berada di simpang bimbang.
di sebuah sasana, dihilirmudiki oleh geram
dan sepat tangkas menyapa.
-
khayalku pun menyepi. tak sanggup menampung islah menepi.
bagan-bagan mewah –
kunyalakan dengan ilmu secara autodidak –
telah terlipat. terganti oleh gempuran fragmen-fragmen halusinasi,
muncul dari magasin kekecewaan.
-
aku merasa tak ada esok
pantas tersangkut di jiwaku. kian getas.
semuanya mengabur dan hangus. sisakan sirene kematian,
memadati esai-esai kehidupan.
dan aku tak perlu lagi menuntaskan rindu
karena aku akan segera merilis diri
sebagai korban tersisih di selat biru.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Jalan Sunyi Seorang Penyair

         : Maryama al Kad

ada sebuah catatan buruk, hendak kuhapus.
tentang memori liar dan rancu.
melebat di sekujur urat-urat putihku.
-
ia bagaikan intonasi kelam,
tanduskan jalan.
telah kupintal dengan perban dan keluh kesah.
memelantingkan pikiran dan hatiku
lalu mendamparkannya di tengah-tengah antariksa hitam.
layaknya seorang musafir, terusir dari kodrat alam.
-
aku ingin membuka memoar itu
lantas menggosok-gosok tera titel merah
hingga binasa. lalu akan kuisi dengan derit masa kanak-kanakku,
menyenangkan melalui transfusi
tanpa harus meraih sentimen berotasi.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Sirep

Tuhan, bergegaslah membahasakan inisiasi arkaismu itu
agar aku sejenak pingsan.
-
berat ini membuatku terperangkap
di dalam lorong kelam.
berkali-kali aku tersungkur
dan kesetiaanku kerap terbelah.
aku ingin mendapatkan suaka dari kejaran siul liar –
ia ingin membedah rohku sebagai tumbal kekecewaan.
-
Tuhan, segeralah! lagukan sirep itu untukku
sebelum ibadahku untukmu adalah dusta.
sebelum bandul keyakinanku padamu menjadi aus dan nista.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Animasi Duka

         : Maryama al Kad

aku mereka sebentuk rasi dengan kelincahan otak
di dalam sentimenku. ada aku dan dia
sedang berbincang perihal kitab batin.
kami hirup dalam kiblat dan rambu sama,
tapi kami menangkring dalam jajar berbeda;
sepatu dan terompah
saling menderetkan aspirasi
dengan versi dan tren berbeda.
raung kami sama-sama kukuh pada tiap perkencanan
dan kami tetap membawa kode-kode sentral tak sama.
-
kami telah membuat skema.
saling menyidik secara adil dan lamban
agar kami tak gugup dan dikuasai kembali
oleh ombak murka.
tapi kami masih saja terguncang
dan gagal menciptakan siklus indah.
koalisi kami hampa. nampak lancip dan eksotis di hayat
namun hanya pahit dan kaku kami dapat.
tubuh kami dirimbuni bilur duka.
konon akan kami akhiri
dengan lapang hati menyala. benarkah?
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Minggu, 07 Oktober 2012

Solilokui Hitam

         : Maryama al Kad

saat ini
aku duduk manis di atas pualam kerisauan.
terbungkus tong maya
berisikan karut marut kekecewaan.
tak kunjung tercatut
oleh jemari Tuhan.
-
tubuhku memancarkan radiasi keputusasaan.
tergerai, membentuk pose-pose rancu,
taklukkan lugu. meremas dan hancurkan kegirangan,
pun musnahkan senyum sipit, coba kutambunkan.
-
aku sekarat dalam pigura mencekam
tanpa pintu. membeku di antara kebisingan estafet.
timbulkan kerak di hati,
terpasung di dalam persegi tak berwarna.
acap galak
dan mengkritik dengan tuas-tuas verbal.
mengerikan.
-
ahh…
andai saja waktu berempati,
akan kuacungkan desir serakku padanya
agar segera menuntaskan gelisah
sebelum ruam dengki menggoyangkan centil ranumnya
lalu memaku diri dan bersemayam di raga.
-
Sleman, September akhir – Oktober awal 2012 

*

Distabilitas

         : Maryama al Kad

kini, aku berada di biduk gelap
di sebuah gurun hitam. tergolek,
berkawan sepoi-sepoi fantasi berjelaga
dalam linangan balada tak berpola.
-
tak ada lagi kelepak-kelepak hijau
tumbuh dari bantaran kasih,
kerap membasuh debu-debu onar di tubuhku.
pun tiada lagi tarian ombak darimu,
acap buatku terkesima dan tertawa.
-
kau terlihat menjauh
dalam kilometer tak mampu teraba dan terterka.
tinggalkan pasal-pasal, pernah kita ujarkan
di sabtu purba.
-
dengan saksama
kupunguti kilah-kilah tak bernama.
mulai menyapa terumbu otakku
agar tak menjadi definisi beringas;
melibas kejernihan arifku.
-
‘kan kusimpan isakku di saku.
suatu waktu mungkin akan kau jenguk
untuk kembali mencoba meramu karir cinta kita
sebelum hayatku menjadi tabu.
-
Sleman, September 2012 

*

Membran

         : Maryama al Kad

cinta kita kobarkan
dalam temaram rumbai-rumbai cerlang
adalah penjarahan. kita nazarkan
kepada dunia sembari memincingkan konsepsi.
perlahan kita saling melacak dan meraba.
tanggul-tanggul gaib nan buram
berharap temukan istana bercat kain sutra
untuk kita pikniki, lantas menghuni
sampai ruh kita pulang ke tangan Ilahi.
tapi,
kita hanya bersua dengan gedung-gedung tua dan suram.
nyalangkan getir-getir parsial,
mereduksi butir-butir kasih kita
seperti membran.
mengufuri segenap kegesitan dan memori indah,
kita dirikan dengan titir emotif
di tabung gaib, masih kita coba dendangkan.
-
Sleman, September 2012 

*

Kamis, 06 September 2012

Dikotomi

aku berada pada sisi misteri
di mana semuanya harus kupikul dengan perih.
-
itu adalah harta mewah, sekaligus noda.
terkadang mengusik temperatur dinamis.
membuat lengahku terapung
hingga menjadi kusam dan usang
di atas riam mengerikan.
-
tak ada mundur di hari ini dan kelak
walau senyum harus diluruhkan ke dasar ajal
demi mencipta relaksasi puitis menawan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Ijtihad

         : Maryama al Kad

perjalanan ini tak perlu aku peringati dengan seremoni.
ini adalah jarak, harus dikikis.
membujuknya agar ia sudi melekang beberapa prahara.
kerap mengerkah anggukku dalam dilema.
-
leher dan lenganku acap murung.
hambar. seperti terbungkus perangkap
bahkan tonjolan sakral. selalu kueram.
hanyut tak berdaya,
terasa cempreng dan mencekik.
meski begitu,
aku takkan pernah menepi dari selam ini
walau genting kepakkan sayapnya untuk kendala.
walau ganjal kian mengepung demi sengsara.
-
mungkin, semuanya akan bermuara pada sebuah episode terakhir
di mana alur akan menorehkan isyarat
tentang sepetak sahaja.
dipenuhi leleran tirta amerta
dan semerbak mawar putih.
lahirkan restorasi dalam diri.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Pelayan Cinta

         : Maryama al Kad

dengan mulut,
‘kan kujahit resonansi igamu di aromaku
seperti mengelem dua kutub, menyeruak
di dalam nuansa pelik.
sepertinya mustahil untuk kita ikat
dengan cinta.
maka, aku melengkapimu.
-
kau adalah beda.
dan aku adalah perak renik, berikan markah
di sudut-sudut intern. kau namakan kedaluwarsa.
sejenak, kau pikun untuk itu
namun kau akhirnya merasa bahwa itu adalah nubuat Tuhan.
menggebuk format pikirmu dan kau pun tersadar
bahwa ini bukanlah sebuah keributan.
lalu, kau tersenyum
seperti buah delima terpanggang.
-
meskipun kau membentak dengan sayatan kidung sintal
aku akan berkukuh bahwa upah itu tak perlu.
aku akan tetap melabuhkan daksa secara kifayah
sebagai pesan tiada punah
agar kau tak tanggal dalam ambigu
di antara kusam kenyataan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Minggu, 08 Juli 2012

Sindrom

         : Maryama al Kad

pertama,
aku berada di tikungan emosi.
menggeser bait-bait kemilauku.
tak dapat kuelak
meski kugugat dengan lagu-lagu dari kandang doa-doa.
sebabkan kicau radang rinduku s’makin menderu
dan menggelegar.
-
kedua,
aku terbakar di atas tangis. taklukkan segenap senyum-canda
tanpa portir dan busana pelindung.
mampu mengelak agresif, menyala deras.
mengeruk seluruh ketenangan pulasku
hingga sisakan nostalgia
di tempo berdebu.
-
ketiga,
aku terguncang oleh desak. sudutkan interpretasiku
menuju afeksi dan petaka
dalam dualisme saling menyapa.
terjebak butir-butir salju optimistik nan lancung
dan inisiasi-inisiasi fiktif. merias malam-malamku
dengan gemuruh ombak laut hitam menantang.
-
keempat,
aku pun lecek di antara situasi berkabut.
kian melebar dan berulah,
membatu di bawah teduh kesal, tak sanggup kuenyah.
menyeretku menuju titik-titik proporsional nan akumulatif
untuk segera menguburku dalam kesenjangan banal
paling naif.
-
jadi, tunas pohon filsafat mana harus kucanangkan
untuk sebuah ritus suci
demi cinta amat kudambakan?
-
Sleman, Juni 2012 

*

Meditasi

di musim – tak lagi akrab dengan muhibah ini –
aku berteman infus bening. pitanya menjuntai dari arasy.
tergelincirlah angsuran embus-embus sublim
ketika sabtu tua menyelisik ke celah-celah baju
untuk menggahar disorientasi. telah bersinergi
di dalam sistem navigasi sang tubuh.
-
beberapa kelebat ilahi menyigi kampung-kampung pikirku.
semena-mena gerimiskan seribu nota visual bersih
untuk sekadar mencetak waswas di atas mispersepsi,
telah lama mengiritasi.
-
tibalah aku pada titik elitis di mana sebuah palagan memapas
dengan setangkai pulpen bertinta hitam.
aku merekam dan memburu obat, terselip
di balik pepatah-pepatah renta.
tapi, hanya kutemukan jingkat-ingsut kedaluwarsa.
menjadi dian di antara goyangan lebat kemustahilan.
maka, kututup saja aksi ini dengan segera
seiring keguyuban hidup, masih berlari mesra.
-
Sleman, Juni 2012 

*

Anoreksia Cinta 2

dari dalam kamar – tersekap oleh tembok-tembok terka –
aku merangkak ke luar dalam rintik-rintik gelak tawa barbar,
turun dari langit-langit.
aku duduk di atas relaksasi berteman meja
sedang tiarap dan bersahaja.
di atasnya
sekepal kopi cair berkacak harum dengan lancang.
piring putih bersila, merendah.
sajikan sebuah dekorasi kudapan, mengernyit
dan terkesan galak untuk sebuah diskusi dwibahasa
-
aku diam. berada pada tampuk opera hening,
menggelinding di paruh tempo.
dikelilingi kentara giris-pening,
rembesi gerigi kerongkongan
dari sekecup tanya – mulai menyelinap turun –
untuk tawarkan maut di palung dada.
-
perlahan, aku menyeka pergelangan insangku dengan setangan
sembari menunggu kurir, akan berikan nomor-nomor sentosa
‘tuk sebidang neraca. meski lapar terus meledak,
meski hura-hura ‘kan bermalih rupa
jadi khianat amat menyiksa.
-
Sleman, Juni 2012

*

Minggu, 03 Juni 2012

Primadona

aku pernah mendengar tentang gadis fantastis.
terselip di antara rak-rak lacur sang hidup
namun masih steril dari pijar-pijar cela.
pun terhindar dari nyala zona ateis.
-
ia tak tertayang pada peta
karena telah tenggelam di balik tenda,
lindungi dari relasi destruktif
penuh mantra.
-
di sudut antah-berantah itu
ia bersandar pada rangka khidmat.
tersimpul oleh linting-linting kristal
seperti ada sugesti, menerkam intuisi.
melabur hati dengan energi belia.
hati menempuh perca-perca tragedi dan insiden;
beriring lesat panah,
juga duri kaktus lazim menyapa.
-
demi cinta, ia menutup nada-nada fobia itu
dengan selintang plester suci
agar beberapa remuk redam tak meniris
dan tulari kosakata ceria,
mulai ia gendong di atas beranda.
-
di sana, ia menanti sebuah ricik dekorasi seorang wira.
menunggu afirmasi, ‘kan mengadopsi rindunya
menuju termin kemenangan.
-
Sleman, Mei 2012 

*

Ulayat Cinta

sepanjang hari ini
aku memproteksi diri dari segenap palka-palka,
dapat mengagitasi secara arogan. pasti,
roda-rodanya akan tingkahi keceriaan dalam diam (seperti dulu)
ketika ia menirus steril oksigen.
kuselipkan pada lipit-lipit prestise hijauku.
aku pun goyah dan tergulung
oleh rentetan oposisi, memelintir inti. serupa bom,
ia menggodam ketaman ketulusanku
pada ranting-ranting Rajab. dan aku pun teringkus
di antara gelang semak-semak abnormalitas.
-
sepanjang hari ini
kumampu lirikkan mata dengan muhibah.
tak gegabah untuk menguntit beberapa omongan gurih.
mirip firman Tuhan
agar aku tak lagi terperosok ke dalam skandal oriental.
sesat dan memabukkan.
-
Sleman, Mei 2012 

*

Sabtu, 05 Mei 2012

Resesi

suatu ketika, pernah ada adagium
turun dari sanad para elitis;
tersenyum dan di depa.
menggantung tanpa langkah lantas
mulai menganyam riuh tentang
sebuah hijab mesti diulas.
maka, kami pun menyungging runding.
-
pada nadi kesebelas,
kami temukan kompetisi;
menjalar dan rambati pergelangan insani
seperti obat. stimulasi itu kian pudarkan
tancapan jam-jam di antariksa hati.
menyentil kegesitan lajang
lalu menganulir banalitas otak ketika berusaha
menyerbu kata-kata dalam kamus cinta.
-
seketika itu juga,
aku mengerti perihal hela di antara rongsokan gesa.
maka, nikmat mana kembali harus kudustakan?
-
Sleman, April 2012

*

Minggu, 05 Februari 2012

Sebuah Jali di Pelupuk Mata

         : Maryama al Kad

kau hanyalah sehelai bunga putih kecil
di antara lebat ilalang,
berorasi. mengobral air susu pada titik didih tertinggi
untuk kupu-kupu, juga lebah dan kumbang.
-
dalam siraman bayang-bayang dedaunan,
kau menyudut. barikademu kau kikis.
sempat kulihat beberapa peluru meliuk-liuk lihai padamu.
menyembul-nyembul laksana gagap bersahutan.
-
paesanmu tak lagi empuk di mata.
sepertinya, bekapkan setagen pada netra telah luntur.
tiada sendu ataupun sembilu tatkala aku
melompat tinggalkanmu.
kerlingan detak-detak listrik bergegas kupadamkan
sebelum kau rebahkan segarmu dalam liang paranoia.
-
ya, kutimba risiko ini sebagai pilih. memang pedih.
meski terengah dan menderu tanpa stamina,
orientasiku kusemai di ladang
agar antan tak mendebu dan hilang genggam.
-
Sleman, Januari 2012

*

Pelaminan

         : Matahari

memang, tambang cinta gembur di renda-renda senyummu.
tiada lagi mulia untukku
meski pintal pinta dan belukar paksa kutandangkan
tatkala rinai bunyi dawai-dawai ungu bersulang
seiring bising busa lisan.
-
semut di jalur itu pun pasti berempati
bahwa rakitan organ-organ asmara
tak sanggup lagi kutopang hanya dengan firasat
atau taksir meloncat-loncat.
suara tik.. tik.. tik.. pun mengacak peti-peti angan.
bubarkan segenap spasi. ingin kuhias dengan kaca-kaca mesra
meski kini aku hilang simak
untuk seberkas ritu, tak sempat kupinjam
dari tangan Tuhan.
-
selamanya, mungkin pelaminan itu akan tetap kosong dan terigal.
sisakan bercak-bercak asa. telah reda
dan terjemur di bawah batas gubris. kian linglung
atau beringsut roboh
lalu tanggalkan hari esok. tertendang
ke dalam arus pikun para manusia.
-
Sleman, Januari 2012 

*

Minggu, 01 Januari 2012

Secarik Cinta di Etalase Depan Rumahmu

         : Matahari

samar-samar. di sorak rintik-rintik rupa
kau taburkan tari dalam telanjang belia
pada satu lokasi di tengah angkasa.
laksana buah. tumbuh lantas ranum di pelataran.
baunya berkeliling. warnanya menyeruak,
mengundang dusta
juga luka-luka dari perziarahan suka.
-
dia di sana.
terengah-engah memikul kegalauan derita dan dendam.
ia telah merobek kerumunan ragu, lingkari angan.
setia. terdorong kecamuk arus didih
‘tuk seberangi takut. demi satu pengorbanan: Cinta.
-
namun, ia telah kotor
lantaran embun tak lagi meramu asa.
sisakan runyam dan bau-bau bangkai,
melekat pada senar-senar isak.
ia terabai. tercebur ke samudra risau, meruncing.
ditemani nyanyian kodok memantik frustasi
juga suara harmonika menabrak sukma
di ambang pejam masih mentah.
-
Sleman, Desember 2011 

*

Anjangsana Semu

         : Matahari

ingin sekali aku hijrah.
keluar dari buai-buai getir melalui kisi-kisi.
terbang. tunggangi suara. lantas menghilang.
namun aku tak bisa.
jika mampu, ‘kan kuarungi terang langit malam,
silau karena kening bintang.
menujumu. senandungkan puja dan terbitkan erat di antara kita.
-
dialog-dialog teduh ‘kan kugelar ‘tuk cuatkan afeksi.
memantik pola ingatan agar kita terkatup dan terselimut
dalam zat-zat cinta, terpasung di palung asmara.
bila ayumu dapat tersentuh, maka tabumu ‘kan kupetik
untuk pelipur lava batin merindu.
-
tapi gaung itu hanyalah rias fiksi.
terukir di atas resah, lemah, dan ragu.
tertanam pada kelenturan ideologi
juga terpajang pada hitam sang estimasi.
seperti kodrat takkan kujemput dengan doa
atau kupancung dengan untaian isak.
-
Sleman, Desember 2011 

*

Mahaduka

         : Matahari

         kuingin menghamilimu dengan cinta
         lahirkan sayang untuk kita berdua
         tapi, …

aku terhanyut pada konstan jelajah tak berperangai.
mengayuh di antara lara, kelu, jua kusut.
-
tuangan tapak tilas di belakang
hanyalah serpih-serpih beku. mesti kuluputi.
ada takzim-kudus di sana
namun itu adalah benalu. bisa menarikku lagi dengan keji
ke dalam hangat sang luka.
-
prinsip menyusut dan mekar mencair
berputar simultan.
mendesak, menggeser warna sutra menyaput syukur
hingga melentur.
tenda-tenda keteduhan pun melambung.
terganti oleh kemarau, timbulkan teori-teori duka
kian merajalela.
-
dewa-dewi di sana ialah para pandai.
menempa teks-teks nirsadar.
ciptakan akar-akar segar, mencakar kulit tidurku.
tatkala bangun, aku tak lebih dari logam gurem. terubrak-abrik
tuli dan mengering tanpa daya
di seberang cermin menegang.
-
Sleman, Desember 2011

*

Distorsi di Sebuah Titik Senja

         : Matahari

tetes-tetes sinyalemen mencuat dari zona barat-utara.
berkesiur laksana infus, berikan ringkih tunggal.
aku pun menunduk dan terpejam.
-
sejak detik itu mengapung.
aku tersangkut gagap. iman menghantam lolong renta.
runtuhkan napas gersang pada timang sore nan sia-sia.
detak legam telah sepenggalah saat tabah menetek tulah.
isyarat bahwa derita kian ranum
dalam kerenggangan umpat sang daun-daun.
-
aku melompat di atas jembatan tentatif di atas sungai mesiu
namun terjerembab. aku berdiri di secarik halaman tua,
mematung di antara aneka beledu hitam.
mulai merangkum semesta usaha hingga mematah.
-
jadi, nama siapa lagi harus kupikul kali ini?
-
Sleman, Desember 2011

*