Kamis, 06 September 2012

Dikotomi

aku berada pada sisi misteri
di mana semuanya harus kupikul dengan perih.
-
itu adalah harta mewah, sekaligus noda.
terkadang mengusik temperatur dinamis.
membuat lengahku terapung
hingga menjadi kusam dan usang
di atas riam mengerikan.
-
tak ada mundur di hari ini dan kelak
walau senyum harus diluruhkan ke dasar ajal
demi mencipta relaksasi puitis menawan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Ijtihad

         : Maryama al Kad

perjalanan ini tak perlu aku peringati dengan seremoni.
ini adalah jarak, harus dikikis.
membujuknya agar ia sudi melekang beberapa prahara.
kerap mengerkah anggukku dalam dilema.
-
leher dan lenganku acap murung.
hambar. seperti terbungkus perangkap
bahkan tonjolan sakral. selalu kueram.
hanyut tak berdaya,
terasa cempreng dan mencekik.
meski begitu,
aku takkan pernah menepi dari selam ini
walau genting kepakkan sayapnya untuk kendala.
walau ganjal kian mengepung demi sengsara.
-
mungkin, semuanya akan bermuara pada sebuah episode terakhir
di mana alur akan menorehkan isyarat
tentang sepetak sahaja.
dipenuhi leleran tirta amerta
dan semerbak mawar putih.
lahirkan restorasi dalam diri.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Pelayan Cinta

         : Maryama al Kad

dengan mulut,
‘kan kujahit resonansi igamu di aromaku
seperti mengelem dua kutub, menyeruak
di dalam nuansa pelik.
sepertinya mustahil untuk kita ikat
dengan cinta.
maka, aku melengkapimu.
-
kau adalah beda.
dan aku adalah perak renik, berikan markah
di sudut-sudut intern. kau namakan kedaluwarsa.
sejenak, kau pikun untuk itu
namun kau akhirnya merasa bahwa itu adalah nubuat Tuhan.
menggebuk format pikirmu dan kau pun tersadar
bahwa ini bukanlah sebuah keributan.
lalu, kau tersenyum
seperti buah delima terpanggang.
-
meskipun kau membentak dengan sayatan kidung sintal
aku akan berkukuh bahwa upah itu tak perlu.
aku akan tetap melabuhkan daksa secara kifayah
sebagai pesan tiada punah
agar kau tak tanggal dalam ambigu
di antara kusam kenyataan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*