Kamis, 03 Oktober 2013

Dongeng Kematian

aku ingat tentang satu cerita mitologi.
paket itu diantar oleh astronout suatu angkasa.
bak ketuban, ia mendahului ingar-bingar pertanyaan.
-
barang itu hantu, menetap di balik kedua pelipisku.
berarakan seiring seliwerannya sang waktu.
mengharuskanku menyusun skema atau silsilah misteri
pada saban lengking sang berahi.
-
kadang, zat itu menegur melalui sebilah keris,
bayonet, atau pistol mandraguna.
bagai jaksa, ia membawa ke alam gerutu.
hamburkan tepuk tangan busuk sampai rekuiem itu meletup.
memecundangiku hingga ke sumsum tulang
dalam kelambu kenistaan.
-
hasta demi hasta harpun hitam itu mengulas tubuh
‘tuk berikan tetanus biru.
pepohonan keseimbangan hilang digdaya;
morat-marit dan bengkok-bengkok
seperti terlucut dari nampan doa-doa.
-
meski kincir kesyirikan mulai terjaga
dan hijab cemooh mulai terbenam,
aku sama sekali tiada ingin terkerek
maupun terseruduk tanpa pamit ke sana,
ke puak-etnis berideologi benci. kuping manisku
masih sanggup dengarkan suara-suara orkes merah muda
juga lonceng-lonceng magenta.
dan itu adalah monumen apiku
untuk kembali kupakai berlaga
di palagan asmaraloka.
-
Sleman, September 2013

*

Perayaan Cinta

sebenarnya, memorabilia turnamen cinta lalu
masih tergantung pada beberapa dengkur.
selalu berdamping dengan tingkrangan kreasi
saat kucipta proyeksi-proyeksi baru.
-
entah, tiba-tiba organisme seperti ini
muncul begitu saja bagai portal. mencegat,
laksana ingin bertengkar secara terbuka.
ketaatan ibadah di atas ketabahan ini pun semburat.
berlayar ke sana ke sini
kendati perban belum tergugah sempurna.
-
ada ingin untuk melepas kekang
dan kembali bertarung ke dalam sasana bak kesatria.
coba mencuci segenap buntu
supaya tak lagi latah dan berani menangkap konsekuensi.
namun ingatan mengenai pusara-nisan itu
senantiasa bergelantungan di titik-titik gigih.
menggugatku ‘tuk menekuk pintu rapat-rapat.
-
aku tahu bahwa amplitudo penolakan ini bukan manipulasi.
itu adalah pesan di mana aku harus tentukan parameter
di antara kepatuhan dan egoisme.
belajar membina artefak tanda-tanda
dan perlahan-lahan memamah catatan idealis agar lebih adaptif
‘tuk temukan satu warsa istimewa
berdasar kabulan birokrasi doa-doa.
-
ini semacam arisan tanpa figuran.
aku cuma butuh menganut undi,
menunggu para kepiting dan ikan-ikan selesai
bermain teka teki.
-
Sleman, September 2013

*

Pemutilasian Cahaya

         : Maryama al Kad

saat jati diri ini terbakar
tiada satu pun definisi dapat menguntit.
-
kejadian itu terlalu sumir.
mengubahku bagaikan seekor laron terbusuk
         di kolong sunyi
meski ada gumam gerutu di laci daya.
-
kau adalah titipan dewa.
partikel ideal ‘tuk kutautkan di telapak cahaya.
namun aku sendiri juga belum tahu
mengapa transaksi itu harus terjadi.
dan ketika tombol itu bergerak ke belakang
maka alur kerisauan itu menjadi lara
dalam konfigurasi kepedihan paling sempurna.
-
mungkin segenap cengkok artikulasi maafku
takkan pernah sampai di kelingking hatimu.
kuakui bahwa aku memang tak punya institusi
untuk melawanNya
tapi kau mesti tahu bahwa pada kebimbangan itu
kuselipkan doa di antara tangisan api
agar kau selamat dari tangan dan lidah berahi.
-
Sleman, September 2013

*