paket itu diantar oleh astronout suatu angkasa.
bak ketuban, ia mendahului ingar-bingar pertanyaan.
-
barang itu hantu, menetap di balik kedua pelipisku.
berarakan seiring seliwerannya sang waktu.
mengharuskanku menyusun skema atau silsilah misteri
pada saban lengking sang berahi.
-
kadang, zat itu menegur melalui sebilah keris,
bayonet, atau pistol mandraguna.
bagai jaksa, ia membawa ke alam gerutu.
hamburkan tepuk tangan busuk sampai rekuiem itu meletup.
memecundangiku hingga ke sumsum tulang
dalam kelambu kenistaan.
-
hasta demi hasta harpun hitam itu mengulas tubuh
‘tuk berikan tetanus biru.
pepohonan keseimbangan hilang digdaya;
morat-marit dan bengkok-bengkok
seperti terlucut dari nampan doa-doa.
-
meski kincir kesyirikan mulai terjaga
dan hijab cemooh mulai terbenam,
aku sama sekali tiada ingin terkerek
maupun terseruduk tanpa pamit ke sana,
ke puak-etnis berideologi benci. kuping manisku
masih sanggup dengarkan suara-suara orkes merah muda
juga lonceng-lonceng magenta.
dan itu adalah monumen apiku
untuk kembali kupakai berlaga
di palagan asmaraloka.
-
Sleman, September 2013
*