5
kata seekor
semut, dulu para Zabaniah pernah memereteli berhala.
di dalamnya
ditemukan jagat dan narasi.
bibit-bibit
dosa berceceran di bangku, di sulur,
dan di
tebing pirangnya.
mereka
dipungut dan segera digugurkan ke kolam mahacahaya.
4
suatu
ketika, angin mencuri salah satu cita rasa.
ia jatuh ke
satu bakal awak di mana zikir
hanya sebatas
lucu-lucuan belaka di sana.
dari
kuntum, ia bermetamorfosis menjadi kera kuning.
itulah
sebabnya sang satwa seakan-akan berada
pada daftar
sebuah mafia. padahal,
ia sudah
menikah. ialah suamiku.
3
diplomat,
polisi, dan bahkan relawan
sempat
memarkir proyektil-proyektil angker
di tajuk
sanubariku. kata mereka,
lelakiku
punya kuku-kuku hitam penyambut rupiah.
perawakan
juragan sawah, namun beda cangkang di lain kota.
gurat noda
lantangnya telah ditanak orang-orang kidal.
jadi, tak
perlu terkejut jika lakiku kelak ditikam lawan.
meski
begitu, kubuang percaya.
2
bagaimana
bisa benar stimulusnya
bila
lingkar sujud kami masih sebaya?
bagaimana
bisa benar wartanya
bila
transfusi lelap kami masih sengaja?
dan
bagaimana bisa benar lukisannya
bila
polarisasi matematis di tubuh kami
masih
konstan hadapi dunia?!
ledakan
mereka sekadar isapan jempol.
1
film dan
teater tentang abang
tiada
pernah mengguruiku untuk durhaka.
panorama
kampung kami memang kurus dan busuk,
tapi
gemercik perselisihan dan lolong pertikaian
cuma secuil
polutan pertumbuhan.
singkong
kami bertutur merdu.
tahu-tempe
di rumah kami pun terjamin mutu.
kendati
banyak kesaksian horor,
kado
pungkasannya tetap kunanti:
mengukir
kata “ayah” ‘tuk sanggar kami.
0
dor!
-
Pasuruan, Januari 2017
*