Kamis, 02 Februari 2017

Kado Terakhir Lelaki Biadab

5
kata seekor semut, dulu para Zabaniah pernah memereteli berhala.
di dalamnya ditemukan jagat dan narasi.
bibit-bibit dosa berceceran di bangku, di sulur,
dan di tebing pirangnya.
mereka dipungut dan segera digugurkan ke kolam mahacahaya.

4
suatu ketika, angin mencuri salah satu cita rasa.
ia jatuh ke satu bakal awak di mana zikir
hanya sebatas lucu-lucuan belaka di sana.
dari kuntum, ia bermetamorfosis menjadi kera kuning.
itulah sebabnya sang satwa seakan-akan berada
pada daftar sebuah mafia. padahal,
ia sudah menikah. ialah suamiku.

3
diplomat, polisi, dan bahkan relawan
sempat memarkir proyektil-proyektil angker
di tajuk sanubariku. kata mereka,
lelakiku punya kuku-kuku hitam penyambut rupiah.
perawakan juragan sawah, namun beda cangkang di lain kota.
gurat noda lantangnya telah ditanak orang-orang kidal.
jadi, tak perlu terkejut jika lakiku kelak ditikam lawan.
meski begitu, kubuang percaya.

2
bagaimana bisa benar stimulusnya
bila lingkar sujud kami masih sebaya?
bagaimana bisa benar wartanya
bila transfusi lelap kami masih sengaja?
dan bagaimana bisa benar lukisannya
bila polarisasi matematis di tubuh kami
masih konstan hadapi dunia?!
ledakan mereka sekadar isapan jempol.

1
film dan teater tentang abang
tiada pernah mengguruiku untuk durhaka.
panorama kampung kami memang kurus dan busuk,
tapi gemercik perselisihan dan lolong pertikaian
cuma secuil polutan pertumbuhan.
singkong kami bertutur merdu.
tahu-tempe di rumah kami pun terjamin mutu.
kendati banyak kesaksian horor,
kado pungkasannya tetap kunanti:
mengukir kata “ayah” ‘tuk sanggar kami.

0
dor!
-
Pasuruan, Januari 2017

*