Minggu, 02 Februari 2014

Damn!

         : Maryama al Kad

pada tumpukan kerlap-kerlip planet-planet itu
terlampir satu rona: “Mu”.
akulah peletaknya. sewaktu-waktu
dapat sekadar kujenguk dengan cinta.
-
aku memungut janin itu saat ia bertudung sendu.
kami memulainya dalam suka
ketika segalanya adalah opsi untuk berbuah.
perlahan, akar kami saling bercengkerama.
membiarkan umbi-umbinya sungsang dan menari
hingga tumbuh subur di bawah letup berahi.
-
tatkala semuanya tampak muda
kami pun melarut ke alam negosiasi.
membarter beragam dahan dan ranting kualifikasi.
mencoba bertahan di batang keyakinan
bahwa kami mampu menerjang racun
penyebab pertengkaran. tapi, kami ternyata tiada.
lesap ke pelukan takdir dan beringsut
ke liang duka.
-
di gelap itulah aku tahu
bayang-bayang ingin menculik kenanganku.
tak ada hasrat ‘tuk melepas bening
kendati harus melawan segenap jelaga di raga dan jiwa.
namun kusadar, gigih nasib terlalu tegar.
aku berlari, ada hadang di ujung terbang.
aku melayang, ada halang di pangkal kecepatan.
maka, di kepanikan kala itu
aku pun membuang bulir itu ke angkasa,
ke suatu entah tanpa nama singgah.
dan lambat laun aku tertidur
setelah berjuta pikir berdoa
demi selamat dan afiatNya di sudut sana.
-
malam ini, kembali
sinarNya menemani sepi. Ia mengerti
bagaimana merawat dan membelai gelisah
meski harap sudah tandas ditelan arah.
aku hanya sanggup biarkan gamit-gamit ini
bergerak di saban renung. memang perlu,
sekali-kali menantang auroraNya.
setidaknya, dapat tetap ingat
dan menghadiahiNya sari hikmah melalui tafakur
walau mesti dimaki oleh Tuhan
juga para malaikat di setiap dimensi perjumpaan.
-
Sleman, Januari 2014

*

… di Kaki Pelangi

komando agar menyisir lantai tanjakan
dan menyabari polah tingkah guncangan
akhirnya tak sia-sia.
perjalanan ke satu jurusan itu telah purna. tapi…
-
di bawah situ ada sesuatu sinar nan ayu.
dalam lambat ia melar dan mengempis,
pun bergeser perlahan ke kiri dan ke kanan
di atas sebuah pualam hitam.
laksana seorang bocah,
daya pikat itu sungguh seperti guna-guna.
hati ini terasa terseret ‘tuk segera menyeruduk.
nyungsep di dekatnya dan tengkurap pada suatu gap.
-
namun, sebelum tindak benar-benar bergelora
tiba-tiba ia terpental ke arahku.
muncul terali dari tubuhnya
lalu secara cepat melendir di kulit dan mata.
mendadak, aku terdiam bak maneken.
-
di bawah kuasa
ciap-ciap berisiknya mulai membasmi kesadaran.
bukan siksaan, tetapi lebih dekat kepada berbagi ciuman.
entah kenapa aku tidak berteriak
atau melakukan rekonsiliasi terhadapnya
seakan-akan ini merupakan inovasi prematur.
-
meski demikian, tantangan itu kubiarkan saja berkonspirasi
karena epik di kantung ruh ini tiada lagi berfungsi.
sudah waktunya haus-getir ini mesti direm.
jadi, kuterima saja
semburat-semburat warna baru ini di belasan titik arteri.
hingga lelap kian mengganda,
hingga gumpal-gumpal nada di palet kalis
berhenti bicara dengan wajahNya.
-
Sleman, Januari 2014

*