bel di dalam kabin ragaku meriuh.
redup sebuah pelita pun menjadi akta ampuh, bahwa
kunjungan untaian sekar putih wangi padanya
telah terberai dan melebur.
-
dengan desah
aku bergerak pada jalur-jalur fakta.
coba mereka kembali sesal dan timpang terjelajah.
-
di sana, terbayang dirimu tampil jelita.
melintang di depan diamku,
terbujur di antara panik dan pusingku.
perlukah kita berdiskusi lagi?
-
nada-nada bahasa ini mendesak untuk segera mengelak.
helai-helai tafsir sudah hilang surya, juga setia.
hanya haus tersisa,
menyusul pula tikaman-tikaman nirsengketa
menguruk hangat cintaku di dalam parit berparasit.
-
aku berada pada jagat superhening.
leluasa persepsikan ambisi-ambisi alami. terpental.
pun lekas pipihkan rinai rindu. mengencang.
agar sebuah mahakarya tak luput lagi dari kelokan tak bertuan.
-
Surabaya, November 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar