Rabu, 09 Agustus 2017

Cemburu

dulu, monumen otonomi kita tegakkan
di antara pasir kembar sebagai jamahan nyata
adanya kasmaran dari dua adegan.
kita duga bahwa rona itu kan jadi menhir. tapi,
kini kita malah pelan-pelan tampak
menggelar nestapa dan meningkat karat.
-
di keluarga, kaulah mamanya.
dewi pribadi di tiap pekik dan langkah.
patron-patron istiqomah petakan dedikasi.
prosedur-prosedur gamblang benarkan silaturahmi.
sayangnya, mitos dan teror menjawab tirakat dan hikayat.
monster-monster ketus samarkan anugerah,
muntahkan teologi kaku.
perkara-perkara mesum mengocok persepsi.
iklim ambin memproses dikotomi.
-
kejayaan keruh. aksara dan angka surga belum matang,
belum berkilauan. fase kakek dan nenek menjadi objek gelap.
mendamba not-not simetris di tengah lagu-lagu rawan.
seringai dan taring somasi tumpah.
balikkan gubuk-gubuk wajar di turnamen sarat makna.
apakah olok-olok trengginas ini akan datangkan kiamat, sayang?
-
Pasuruan, Juli 2017

*

Sabtu, 08 Juli 2017

Dinding Bata Merah

gugusan dinding dari hulu bekukan raga. kandang-kandang strategis tumpang-tindih menghimpun kuarsa. benua misterius di atas samudra. duel antargending dipaksa hitam. saksi-saksi keabadian menulis stori lekat-lekat. tingkah memungut haru, kiblat dihalau waktu.
-
urat-urat geofisika tak pernah mengasah bata-bata. bertahun-tahun mereka mengunci garis edar pribumi dan menumpang bumi. akar-akarnya piawai mengandung bocah-bocah lugas. mayat-mayat imajiner tempati tenda-tenda nasional. sumpah serapah hantam kitab-kitab wahid. ikan-ikan menggumpal, gelisah dalam pendeknya bait-bait flamboyan.
-
kabin-kabin merah itu terapung bagai osean. hantui tiap-tiap penetrasi dan jihad bertuan. sirkus pasaran terusul lumrah. suhu peduli menyusut dan sesekali merebah. milenium ini direbut torso-torso hitam-putih. mari betulkan saja pahala dan memadu era. cagar-cagar bening disamar, corak-corak matang disisih. ke mana lagi suatu dusun digelar kalau pedati masih keder dipacu ke planet pancamuda.
-
Pasuruan, Juni 2017

*

Rabu, 07 Juni 2017

Menjaring Bulan di Ranjang Pengantin

malam ini tempik sorak terlepas.
mega-mega zaman terlena di birunya pohon-pohon spiritual.
-
di suatu bidang alang-alang ada satu rumah beton.
gelanggang emas tersebut menampung sepasang manten.
-
gender mereka bagian dari akar rumput.
bertautan dalam serikat dan tak canggung melansir simpati.
-
badan bengkok lelakinya ialah aku sedangkan
molek awak wanitanya ialah milikku.
aku tumpah di atas ranjang, namun istriku masih pandangi
kertas-kertas kering berisi enigma-enigma belang.
-
di sarkofagus supernatural ini kuingin menciduk alkamar
ketika kami melaku persepsi.
kulit saling bertukar pandang,
bongkar-pasang gerakan klasik di pusat peraduan.
-
kontur silsilah hendak kami kabulkan.
hierarki cicit dan eyang setidaknya dibetulkan
sebelum ditengok nisan.
-
bila nanti biniku terbaring dan tampak puitis ‘tuk dijinak,
maka binar-binar tempurku akan bangkit.
saraf-saraf berkah menyasar harkat.
-
dua boneka pasti kan berpindah-pindah dan
terpantul-pantul ke kanan dan kiri.
semua pendekatan kan menyatu dan jadi spektrum
di akhir geger mini.
-
kini aku menanti secara girang dan rendah.
berharap ia sambut takhayulku dengan sebait gairah.
-
Pasuruan, Mei 2017

*

Rabu, 03 Mei 2017

Merindu Janur Kuning

         : Aro

pada pramusim peradaban, biografi masih berupa fiksi.
berbaur dengan bibit-bibit lain di rak alaihi salam
berdasarkan plot.
belum beriman dan belum saling sambang.
-
pada suatu orde pluralis, sore terbelah.
sumsum bahagia mengembang lantas terbenam
di lumbung legawa.
satu pria dan satu wanita lakoni kompilasi.
kami memadu, panjangkan lebar dalam sungguh.
-
jejak-remah citra kami ialah presentasi muhibah.
hajat-hajat sejati sepakati deru merdeka.
maka, tak ada eksepsi untuk ditelan.
patah asa dipecah. tolak bala ditunjang.
-
coretan-coretan marga melilit kuat.
meracik lingkaran autentik di garis depan.
dalil-dalil tinggi bertabur.
dokumen-dokumen becus ceritakan konsensus trilateral.
dadu-dadu sesat surut. gang-gang pedas tandas.
kami berkobar, menenteng semarak ke tampah lapang.
-
sinkretisme hilir mudik dan bertubi-tubi goyah
di trek pendek nan pudar.
sekuintal fibrasi tidak cukup menitah tekanan.
jaksa dan patriot menyodor tombak,
sarjana dan pialang membujuk paguyuban.
mendung kian menggalak petir,
kami pun mesti segera mengerek takbir.
-
Pasuruan, April 2017


*

Sabtu, 01 April 2017

Sekeranjang Kecil Tembang Rindu

         : Aro

studio teater ini tumbuh seiring derum kosakata pesertanya.
siapa saja boleh pasang mahakarya atau
sekadar beradu dalih.
ada manipulator kondang, ada pula
tetangga nan pongah dan kejam.
sebagian besar kaya citra, sebagian besar lainnya
leluasa jalani pesugihan.
-
sedangkan kami adalah tubuh-tubuh fakir.
mengapung di tengah lingkaran tekanan dan ancaman.
di baratdaya pun surya mengunggah seriosa kritis.
mantra-mantra sinis naikkan adrenalin.
syiar-syiar asin banjiri arwah kami.
-
padahal, kami hendak melebur nafsu dan
syahwat lunak kami dalam sinkretisme suci.
animasi-animasi saleh kami ingin kami unggah
ke satu prasasti monumental.
sembahkan satu dosis mewah demi
menyulut marga tanpa tara. dan
semua urat-urat rasional mengarah bahagia.
-
meski begitu, kami tetap membentuk meditasi tunggal.
buat tepian-tepian berderet-deret selangit agar
cengir-ulah runcing para tiran tak menghardik
atau memotong mimbar lentik.
cengkok kami masih teracung.
tegap, rapi, dan padat bunyikan ihwal-ihwal ulung.
-
sebab kami sama-sama sarjana muda.
eksponen-eksponen binaan sang maharaja.
tunabaca terhadap populasi dan tiarap
terhadap pialang serta pemonopoli.
kami bertahan seraya tajamkan coretan-coretan renik dan
kerahkan transkrip-transkrip keyakinan.
menunggu gerimis datang supaya menyeret kami
‘tuk tinggalkan kawah bebuyutan.
-
Pasuruan, Maret 2017


*

Jumat, 03 Maret 2017

Cinta Monyet

umur masih mungil, namun euforia bisa amboi.
di atas mimbar tergelar proklamasi.
semua ejaan dan notifikasi dilepas.
kabel-kabel rekreasi membentang,
api identitas dinaikkan.
-
bulan belum lengkap, tapi dalang mampu beri gerhana.
urat-urat energi leluasa batasi proyeksi.
tenggat berlutut, debat merendah.
kubah dan balai hiperbol terus disedia.
gunung wasilah seakan menyasar keluarga.
-
menara kembar menyimak para wujud.
badai-badai berkala diam, tunggu taklimatnya.
kabinet resmi jelajahi asuransi dan motivasi.
tapi nomina tentu harus menambah olah otak
agar turis-turis delusi tak jadi kambing kedaluwarsa.
-
Pasuruan, Februari 2017

*

Kamis, 02 Februari 2017

Kado Terakhir Lelaki Biadab

5
kata seekor semut, dulu para Zabaniah pernah memereteli berhala.
di dalamnya ditemukan jagat dan narasi.
bibit-bibit dosa berceceran di bangku, di sulur,
dan di tebing pirangnya.
mereka dipungut dan segera digugurkan ke kolam mahacahaya.

4
suatu ketika, angin mencuri salah satu cita rasa.
ia jatuh ke satu bakal awak di mana zikir
hanya sebatas lucu-lucuan belaka di sana.
dari kuntum, ia bermetamorfosis menjadi kera kuning.
itulah sebabnya sang satwa seakan-akan berada
pada daftar sebuah mafia. padahal,
ia sudah menikah. ialah suamiku.

3
diplomat, polisi, dan bahkan relawan
sempat memarkir proyektil-proyektil angker
di tajuk sanubariku. kata mereka,
lelakiku punya kuku-kuku hitam penyambut rupiah.
perawakan juragan sawah, namun beda cangkang di lain kota.
gurat noda lantangnya telah ditanak orang-orang kidal.
jadi, tak perlu terkejut jika lakiku kelak ditikam lawan.
meski begitu, kubuang percaya.

2
bagaimana bisa benar stimulusnya
bila lingkar sujud kami masih sebaya?
bagaimana bisa benar wartanya
bila transfusi lelap kami masih sengaja?
dan bagaimana bisa benar lukisannya
bila polarisasi matematis di tubuh kami
masih konstan hadapi dunia?!
ledakan mereka sekadar isapan jempol.

1
film dan teater tentang abang
tiada pernah mengguruiku untuk durhaka.
panorama kampung kami memang kurus dan busuk,
tapi gemercik perselisihan dan lolong pertikaian
cuma secuil polutan pertumbuhan.
singkong kami bertutur merdu.
tahu-tempe di rumah kami pun terjamin mutu.
kendati banyak kesaksian horor,
kado pungkasannya tetap kunanti:
mengukir kata “ayah” ‘tuk sanggar kami.

0
dor!
-
Pasuruan, Januari 2017

*

Minggu, 01 Januari 2017

Perempuan Pesisir dan Rumah Cinta

         kado pernikahan untuknya

sekarang primadona telah tertulis di metropolitan baku.
seperti bayi, ia akan memuji dan menghirup adat moyangnya.
demon-demon liar pun pasti kan tertimbun terangnya lantunan akad.
-
dulu, situasi pernah suarakan traktat.
berawal dari insting dan ilustrasi, sinar-sinar semangat menjawab.
segala seloroh dan kriya mampu mengasah jalinan administrasi.
mengingin dan menebak istal antah-berantah
walau karapan kalkulasi masih limbung dan konyol.
sayangnya, akar-akar diskusi hanya meruncing setengah-setengah.
selat jiran belum runtuh dan hujan barat terlalu gigih memandang.
memorabilia menggelap di panti karantina.
siulan dan gumam kembali jadi sumbang belaka.
-
pada salah satu pori-pori rekonsiliasi, ada gurat muluk menatap.
iktikad mereka tertegas pada selembar beton sebuah reca.
suatu aklimatisasi akan didalami secara optimal.
anak-anak amerta kelak terungkap lewat sendangnya.
begitu pula dengan telur-larva gana-gini.
beronjong-beronjong kosmis sudah dikembarakan,
saatnya menggagas harapan untuk secangkir otonomi.
-
Pasuruan, Desember 2016

*