Jumat, 05 Maret 2010

Menangkap Bintang

         : Matahari

jasmani dan rohaniku terbungkam.
mencoba menerjang sebuah podium pembopong sang surya.
-
kenangan-kenangan mulai renta.
imbas benaman sekuntum bara api di lautan risau dan igau.
-
ayunan tulang punggungku tak lagi leluasa menunjukkan nyala.
tiap malam seakan harus siap menelan mimpi keruh.
saat bangun, aku mencoba menghafal dan mengusut,
namun kian surut.
-
hari-hari kerjaku dikepung, selalu.
berusaha merendamku ke dalam masa berkabung.
-
di secuil tempat, aku terpental.
di seutas waktu, aku oleng.
di sehelai pagi, aku sembab.
di seiris sore, aku tergencet.
dan di setangkai dini hari, aku mendongak.
-
hingga ujung ini, tak ada jawaban.
semoga tak luput, berharap dapat kugenggam.
-
Pasuruan, Februari 2010

*

Lampion Hitam

         : Matahari

berkabung.
nyala pendaran terlalu rumit untuk menerjang udara.
hewan-hewan mungil hijrah seiring hati merasa terpencil.
mengeja lampion beranjak renta.
-
terasa lengang dan senyap.
mengerucutkan komitmen di antara deretan kelam.
hingga secuil angpau tiba-tiba mencoba mengevakuasi.
menyuarakan gaduh, pun merisaukan candu di belukar api.
-
aku mencoba menafkahi.
menyulut kreasi ketika beberapa rival
menepis kegagapan dalam diri.
ceceran kenangan belum lunas, masih berkutat di timbunan jerami.
dan mereka sedang berteduh, (saat ini).
-
pantauan mulai beredar secara nomaden.
mengisahkan kegemaran melesat pucat.
kemudian lekas menyuarakan “selamat malam”
untuk sepasang rembulan,
bersanding anggun dalam lindungan cahaya bintang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Origami Berbentuk Hati untuk Michie

         : Matahari

pemujamu ini hanya dapat menyelonjorkan harapan bungsu.
sulung telah melebur, lantas mengidap duga.
-
bayangmu menepuk hati.
sedikit lapang dada tereliminasi.
mensuplai beberapa sekat, sarat dengan petir,
mengkudeta konfidensi.
-
kau menghendaki origami.
bersama sebatang kruk aku mencoba mengoleksi jerih payah.
kegesitan dan kelayakan kulambaikan
di atas hantaman badai. namun, ternyata
dirimu hanya mengkhayal.
buat napasku kian lamban dan gersang.
-
tubuhku ambruk.
mengolok-menyindir ke segala lamunan.
sempat kuacungkan tengadah lumrah.
tapi, mustahil semakin marak.
dan kulitku mulai tergerogoti nyeri, mengusam, lalu melepuh.
-
nada kehidupan terasa reda.
menyematkan pita-pita hitam, beranjak mendekati diri.
pengap mulai beraroma.
menghentikan solusi dan ratusan inteligensi.
origami itu menari dan memergoki kerut, menerkamku.
tiba-tiba ia berkenan membangkitkanku.
aku sempoyongan, lembek bagai jasad tak bertulang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Doa Seorang Pasien

         : Matahari

tiba-tiba, sorotmu mengapit.
menindih hingga ke ubin kendati diri tinggal sepenggal mati.
-
di benak, acapkali ada salut untukmu.
melanggengkan kasih identik.
menganut ancang-ancang sayang
ketika bintang saling menautkan binar.
lumrah namun janggal. kutawarkan cinta, justru
kau anggap terlalu glamor untuk kau cerna.
-
keresahan datang dari satu penjuru.
mengalirkan pulusi, pun kebisingan.
merosot di sela-sela instruksi berironi.
opsi-opsi bujuk membentang saat aku
mulai luruh, kikuk, dan kaku terbujur di keheningan temaram.
tapi, aku takkan tamak karena tahu bahwa adinda
hanyalah hawa. masih meliliti diri
dengan keriangan tak bertepi.
-
biarkan aku mengeksploitasi, bahkan menggerogoti kata.
menggaduhkan dunia dengan frasa dan klausa dekil terbilas makna.
sungguh, segalanya bukan gumaman lusuh.
goresan-goresan cermat akan selalu bertandang di ujung Minggumu.
jangan muak bila kau anggap itu sebagai rombeng menggelitik.
ataupun segumpal bayi haram siap pendam.
-
kuhanya ingin membeli cinta.
sudikah kau menjualnya?
-
Kediri, Februari 2010

*