sebuah analis mengajak tatkala aku telantar.
menumbuk tegas, tanpa identitas.
jerumuskan diri ke dalam satu parade
sarat dengan siut-siut kemurungan
dan nihil kebinaran.
-
seakan murka, aku teduh di antara spasi-spasi liar.
pecahan-pecahan ritme pergunjingan itu masih melapisi galeri maya.
seperti tamu menyiksa.
namun, aku melihat sangkar di sudut itu.
teronggok, jua menyala.
hatiku terdorong. selangkah demi selangkah
hingga sampai pada bibir jernih nan berapi-api.
(blastt…)
-
aku tergenggam sinergi antara merah dan ungu:
megah dan mapan.
bulu-bulu sukacita terjun dari atas
bagai maklumat tentang merdu dahsyat.
-
sepintas, ada kelebat senyum tentangMu di pahatan buram depanku.
terasa kerontang dan terjal. pucat!
kuhampiri lalu memeluknya, namun duka.
kuraba gelombang cantiknya, namun haru.
tiba-tiba terpecah
dan aku pun terayun ke belakang hingga menyentuh cangkang.
-
cambuk datang dengan berang.
sengit tercium. ibarat momok memenjara nyali.
ia bertanya,
kenapa?
bunuh saja!
aku tak segarang itu
lantas mengapa?
karena dosa-dosa sulungmu.
-
aku terdiam. fatwa itu telah menggigitku:
kau adalah rentan.
kepandaianmu didominasi oleh onak-onak menagih kematian.
bersemadilah!
cuci kembali kesaktianmu agar bertuah
agar desersi tak memukaumu menuju sumur darah.
(blastt…)
-
pada kestabilan awam, kudapati bubuk-bubuk retak terngiang.
kubasuh muka, tapi goresan taring sang magenta masih menumpuk
seakan terkucil dari bongkahan spekulasi.
-
tak ada lagi elu-elu asa
hanya sisakan demam dan ranjau serbahitam,¬ siap menantang
di ujung pertempuran.
-
Pasuruan, Juli 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar