Kamis, 05 Desember 2013

TentangMu dan Tentangku

         : Maryama al Kad

Phoo, entah bagaimana lagi kumesti bertingkah
ketika dirimu menjenguk detik-detik
sebelum kupejamkan mata.
kenangan cinta kita
terlalu ampuh kau hunjamkan ke jiwa.
tubuh ini kehilangan mampu ‘tuk sekadar menahanmu
di depan pintu.
karena seperti tiada ketuk terdengar
saat kubersemayam di ruang imaji.
-
Phoo, memang bercak-bercak cerita kita
takkan pernah sirna
di dinding-dinding kesadaran dan kelelapan.
layaknya video, ia terus menari-nari.
suguhkan ingatan dan kreasi hingga ia mendekapku,
ciumiku, dan memerkosa segala daya.
tanpa kata, tanpa suara.
-
Phoo, apakah kegilaan ini sama kau miliki?
aku sudah tak sanggup jika mengusungnya seorang diri.
terlalu berat, amat menyayat.
bila benar kau punya
sudikah kau berbagi untuk saling mengobati?
ini bukan sekadar luka
sebab ia lahir dari rahim kepundan asmara.
namun kalau itu telah raib di dalam ragamu
maukah kau membunuhku?
dunia ini akan berlanjut terasa hambar dan hampa
selama hadirmu masih mengusik
dengan beragam utopis berjubah bianglala.
-
Phoo, sayangku padamu adalah terang di antara gulita.
itu niscaya, dan itu ialah seutuh-utuhnya niscaya.
-
Sleman, November 2013

*

Kamis, 07 November 2013

Tentang Sendu

         : Maryama al Kad

saat mentari bersandar di balik gigir awan
dan dingin datang diantar oleh tangan-tangan hujan
kau tiba-tiba menjenguk saat kuberada di ruang angan.
-
di sisiku, ikatan di antara kita sepertinya masih berkokok
dalam hangatnya cinta.
masih teringat jelas bagaimana tetes-tetes asa
kita susun menjadi setumpuk genangan.
meski keruh, kita tetap mengerami
dengan harap agar ia menetas di bawah naung
segala restu dan doa.
-
tapi, Tuhan ternyata melirikkan cerita lain.
bangunan air-air itu jadi samudra,
membentang-melebar pisahkan semua kerlap-kerlip rencana.
ada sampan kayu namun tak ada mampu.
ada bahtera bertiang baja namun tak ada daya.
ombak terlalu tinggi dan menembok di tengah ngeri cuaca.
ingin kumelesat terbang di atas petir biruku
namun gelegar guntur terlampau gelap untuk membunuh.
-
barangkali, getar pedih ini sempat tersangkut
pada salah satu ranting-dahan logika-rasamu.
menggugahmu ‘tuk sejenak berpikir dan hadirkan air mata.
barangkali, tidak sama sekali.
meski demikian, aku mengerti bahwa niscaya angin kan pergi.
aku dapat menitip kisah putih ini seiring gemulai tubuhnya
supaya dilayang ke satu taman berbidadari jelita.
-
aku tak tahu di mimpi mana pesan itu akan tiba.
mungkin saja ia memilih membuangnya
karena ia lebih paham tentang makna indah.
-
Sleman, Oktober 2013

*

Dosa

         : Maryama al Kad

daftar garapan nan berkelok-kelok di landasan utopia
kini benar-benar terguling.
tiada lagi polis suci antara aku denganMu.
hanya sisakan keluh kesah kasip
di kelopak ingatan.
-
ada rasa bahwa aliansi terbuka kita
berubah jadi unit-unit dosa.
ciptakan horor di peranti-peranti gandrungku.
kian menggempal dan mendorongku
‘tuk langkahi sendiri kesepatan kolosal ini
di selat-selat angan.
-
barangkali, melalui firman Tuhan
atau dakwah-dakwah alam
kemukus-kemukus hitam ini akan terseka
satu per satu. pelitur harap sudah erosi,
terbetot tanpa akurasi oleh suatu tirani.
mungkin Kau belum menampung
seluruh rekam jejak sayangku itu
meski gurih kode-kode cinta
telah satroni organ-organ berahiMu.
-
bila ada sedikit entakan tentangku
saat Kau pulang ke dalam kenangan
jangan takut boros ‘tuk ukir senyuman.
karena itu berasal dari air mata seorang demonstran.
karena itu pernah diperjuangkan
dari darah seorang gerilyawan.
-
Sleman, Oktober 2013

*

Kamis, 03 Oktober 2013

Dongeng Kematian

aku ingat tentang satu cerita mitologi.
paket itu diantar oleh astronout suatu angkasa.
bak ketuban, ia mendahului ingar-bingar pertanyaan.
-
barang itu hantu, menetap di balik kedua pelipisku.
berarakan seiring seliwerannya sang waktu.
mengharuskanku menyusun skema atau silsilah misteri
pada saban lengking sang berahi.
-
kadang, zat itu menegur melalui sebilah keris,
bayonet, atau pistol mandraguna.
bagai jaksa, ia membawa ke alam gerutu.
hamburkan tepuk tangan busuk sampai rekuiem itu meletup.
memecundangiku hingga ke sumsum tulang
dalam kelambu kenistaan.
-
hasta demi hasta harpun hitam itu mengulas tubuh
‘tuk berikan tetanus biru.
pepohonan keseimbangan hilang digdaya;
morat-marit dan bengkok-bengkok
seperti terlucut dari nampan doa-doa.
-
meski kincir kesyirikan mulai terjaga
dan hijab cemooh mulai terbenam,
aku sama sekali tiada ingin terkerek
maupun terseruduk tanpa pamit ke sana,
ke puak-etnis berideologi benci. kuping manisku
masih sanggup dengarkan suara-suara orkes merah muda
juga lonceng-lonceng magenta.
dan itu adalah monumen apiku
untuk kembali kupakai berlaga
di palagan asmaraloka.
-
Sleman, September 2013

*

Perayaan Cinta

sebenarnya, memorabilia turnamen cinta lalu
masih tergantung pada beberapa dengkur.
selalu berdamping dengan tingkrangan kreasi
saat kucipta proyeksi-proyeksi baru.
-
entah, tiba-tiba organisme seperti ini
muncul begitu saja bagai portal. mencegat,
laksana ingin bertengkar secara terbuka.
ketaatan ibadah di atas ketabahan ini pun semburat.
berlayar ke sana ke sini
kendati perban belum tergugah sempurna.
-
ada ingin untuk melepas kekang
dan kembali bertarung ke dalam sasana bak kesatria.
coba mencuci segenap buntu
supaya tak lagi latah dan berani menangkap konsekuensi.
namun ingatan mengenai pusara-nisan itu
senantiasa bergelantungan di titik-titik gigih.
menggugatku ‘tuk menekuk pintu rapat-rapat.
-
aku tahu bahwa amplitudo penolakan ini bukan manipulasi.
itu adalah pesan di mana aku harus tentukan parameter
di antara kepatuhan dan egoisme.
belajar membina artefak tanda-tanda
dan perlahan-lahan memamah catatan idealis agar lebih adaptif
‘tuk temukan satu warsa istimewa
berdasar kabulan birokrasi doa-doa.
-
ini semacam arisan tanpa figuran.
aku cuma butuh menganut undi,
menunggu para kepiting dan ikan-ikan selesai
bermain teka teki.
-
Sleman, September 2013

*

Pemutilasian Cahaya

         : Maryama al Kad

saat jati diri ini terbakar
tiada satu pun definisi dapat menguntit.
-
kejadian itu terlalu sumir.
mengubahku bagaikan seekor laron terbusuk
         di kolong sunyi
meski ada gumam gerutu di laci daya.
-
kau adalah titipan dewa.
partikel ideal ‘tuk kutautkan di telapak cahaya.
namun aku sendiri juga belum tahu
mengapa transaksi itu harus terjadi.
dan ketika tombol itu bergerak ke belakang
maka alur kerisauan itu menjadi lara
dalam konfigurasi kepedihan paling sempurna.
-
mungkin segenap cengkok artikulasi maafku
takkan pernah sampai di kelingking hatimu.
kuakui bahwa aku memang tak punya institusi
untuk melawanNya
tapi kau mesti tahu bahwa pada kebimbangan itu
kuselipkan doa di antara tangisan api
agar kau selamat dari tangan dan lidah berahi.
-
Sleman, September 2013

*

Minggu, 02 Juni 2013

Perempuan yang Berdiri di antara Kata-kata

         : Maryama al Kad

sebenarnya, ia tak mendapat duduk
di atas papan genting nan dramatis itu.
sebagai murid alami sang rasio
ia mengupah kualitas kesadarannya dengan ilmu.
belajar dengan rajin ‘tuk ciptakan ruang pribadi
saat bubuk-bubuk protes untuk masa silamnya
telah jadi sedimen tak berarti
pada beberapa rasi kondisi.
-
di sekitar keasrian tubuhnya
terdapat spasi-spasi katalisator.
saling terhubung dan tersambung
sebagai strategi dalam satu pesta.
ada legal, ada mangsa. ada setuju, ada seteru.
ada cemburu, ada hormat. ada benah, juga ada patah.
ada batas, ada lintas. ada buang, ada patuh.
ada pandang, ada ribut. ada pelihara, juga ada senjata.
-
ia takkan pernah inginkan hasil gila
tertato di sekujur padat jasadnya.
ia mengerti bahwa lesu dan penat di tiap ronde
mesti direhab tanpa kebebalan dan kepincangan.
ia hanya belum tahu
di mana letak kristal terbaik sang panembahan itu berada.
segalanya masih bertabir.
belum tertanggap dan tertangkap oleh mata jiwa.
-
di suatu dekade
sesuatu akan segera menemaninya,
menyahut aroma doa-doa,
pun mengurus sanggar cinta. dan senyum itu
akan selalu terpasang di atas kasur tidur
ketika gelap di bahunya perlahan mencair
lantas terlempar jauh seiring rentetan peluk
seorang lelaki pembawa kunci surga.
-
Sleman, Mei 2013

*

Selasa, 07 Mei 2013

New Year's Eve

         : Maryama al Kad

siapa saja yang bersama saat hitung mundur
mereka akan bersama selamanya[1]


di dermaga akhir tahun itu
kami hanyalah dualisme lumpuh;
         terpelanting dari medan laga.
urat leher feminin dan maskulin telah rompal,
hanyut dan luput ke dalam debit tanah.
-
pada satu malam di suatu tarikh berpigura,
kami bersentuh.
kosmis di sekitar sedang cerlang
dan menyala-nyala. di pesisir itulah
kami merakit segumpal terumbu karang
sebagai cikal bakal legal tentang gubuk kebersamaan.
membundelnya dalam sebuah kabin berwarna senja kala
agar tak terusik, tereduksi, tergusur, atau bahkan terkhianat
oleh ikhtiar para petaka.
-
dua tahun berlalu, kaktus-kaktus laut itu ambyar.
terpreteli arus dinamika jalanan.
jadi gagu, dengan sorot mata penuh debu
dan tubuh berlubang dalam kerontang.
-
sepanjang kemudi, memang ada reportase dan referensi
dari delapan arah mata batin tentang lapang,
namun gelombang domestik
ternyata kaldera berpalung magma;
         pantang-pantang tengik nan akut terburai dari sana.
secara berangasan liur apinya membakar segala
‘tuk dijadi mendiang
tanpa sisakan serat-akar kehidupan.
-
kini cuma timpang tersisa.
seperti gelandangan, terisolasi di penampungan nista
sembari menunggu tercabut dari teater mahakuasa.
-
Pasuruan, April 2013

[1] Cuplikan kalimat pada film My True Friend tahun 2011. Disutradarai oleh Adsajun Sattagovit.

*

Saat Pelupuk Matamu Terpejam

         : Maryama al Kad

saat kesadaranmu kau enyah-bekukan di bawah tanah
maka di titik itulah dukacitaku tercerai
dari metabolisme haru di tubuh
karena pada wajahmu ada sekumpulan kosmetik
tentang sandi-sandi cemerlang.
terbit seperti hujan lantas banjiri lumpang hati
dengan total dan sengit.
-
di dunia ini
kuingin menyelamatkanmu dengan karunia.
program standar untuk merawani tentakel jiwamu
telah terpantau dini dari para tersangka.
saban orang akan menimpakan sepotong runyam,
juga mencolokkan suara-suara fitnah
di tiap selter persinggahan.
-
katalog-katalog perangkap itu
akan senantiasa bertebaran seperti petasan.
mengobral undangan dari suatu populasi
‘tuk memperturutkanmu agar terduduk-tunduk
sebagai lakon sebuah tipu alegori.
mereka adalah budak kelamin.
berobsesi untuk menihilkan tubuhmu
karena tenggat takkan bisa diralat
ketika tahun baru bergulir untuk mendamprat.
-
seandainya nyana itu terjadi
maka nilai merah ‘kan jadi gerisik
di gempal tegarmu, sayang.
dan aku tak sampai hati
jika kiamat telah memeluk dan merekrutmu
untuk melanglang bersama
ke suatu suram tanpa pijar cinta.
-
bila nanti kau mengutarakan pandang kembali
di pancuran mata berlapis sutra ini,
maka isaplah argumentasi
di sela-sela punggung retinaku
agar kau temukan aksioma tentang secuil intuisi
untuk dilisan-rembeskan
ke pori-pori tubuh dan bibirmu
demi sebuah estimasi janji penuh candu.
-
Sleman, April 2013

*

Jumat, 05 April 2013

Sebuah Pengembaraan dari Luka Diri

sidang tentang talak tiga itu
sudah berprosedur dalam sumpah.
ia bagaikan berondong proyektil.
tengoki kantong-kantong psikis violetku
dan berprakarsa ‘tuk membuat prestasi
jadi tergelincir dan gaduh.
-
mediasi ilmiah
memang sempat menyelidik dan berkontribusi
sebagai jalinan diplomasi.
namun peta kurikulum imaji
telanjur terbelit kawat-kawat berduri.
kupu-kupu kebajikan itu pun
hanya mampu kucurkan alegori.
gemanya sekadar bertabrakan
dengan pemikiran, lantas lesap
di antara gita kemaluan.
-
maka, kupentalkan diri
dari pelataran residu dan awan-awan lusuh itu.
berjalan pada seutas benang tekad
di dalam terowongan nisbi
agar keasrian sadar
tak direnda oleh pena-pena durjana.
juga agar tak terlalu lama singgah dan terlelap
di rumah elegi saat ajang tanya-duka
jadi lancang berapi.
-
mencari mula tentang asal usul
bukanlah telaah mudah.
ia seperti bohlam padam.
tergantung sendiri di sudut aula
seakan-akan tertegun
menyaksikan simbol-simbol tergenang di lantai
tanpa nama. tapi kuyakin
bahwa cip dalam rongga dada ini
takkan selamanya berkalang prahara
karena Tuhan takkan selalu memaki
dan menampar hati sebagai uji
di setiap performa.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Peleleh Hati

         : Maryama al Kad

kau, adalah bunga mawar putih.
tumbuh dari setetes dawat nasib
di sebuah lapak waktu.
berdesakan di antara percaturan retorika
sekaligus memproteksi diri
pada sandaran kitab-kitab konvensi.
-
pada satu celoteh masa
harum dan indah infrastruktur tubuhmu mendayung.
lewati etape-etape elementer
hingga temukan koridor bertudung gapura.
menggedor, berusaha mendobrak, bahkan berontak
saat etis berlapis itu tak kabulkan suluk goda.
dan di pangkuan rekaan berdarah dingin itulah
tenangku direbut.
-
beserta keris di tangan kiri sebagai siaga,
perlahan kubuka.
mereka terlihat girang pada pandang,
sesekali terbahak untuk menyapa.
         di detik itu pula
kor dan mars tentang depresi hasil perang lalu
masih belum menumpul.
masih ada rasa terpukul dan mencekam
di sela-sela rambut kesadaran.
karena itulah aku bergegas menikam sasaran
untuk melawan
tapi lolos dan menghilang.
-
kukejar. telusuri saluran tak bermarkah
beratribut perca-perca darah dan air mata
sampai kudapatkan ruang terbuka
di salah satu gantungan kehidupan.
-
         dari jauh
kusaksikan sependar motif cahaya.
tak ingin sungguh kulatahi lagi jejak duka
karena keranda hitam pasti kembali merayu
agar singgah.
tapi impuls ini mencubit dan gerakkan langkah;
mendekat dalam tertib dan ogah.
-
         di sana
aku bersua dengan ayumu.
sedang bergelimpang
di tengah-tengah taburan bunga kamboja.
nampak lemas dan tuntas
namun sanggup memikat kebingunganku
pada sentilan pergaulan.
-
lambat laun aku jadi pendiam.
seperti ada martil berayun
tubuh ini ditancapkan pada batang kemanusiaan.
kau pun akhirnya berhasil merebutku
ketika tubuh ini dihibahkan sebagai penyempurnaan
kasih dan sayangmu.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Perawan yang Mencintai Cahaya

         : Maryama al Kad

pada rinai persimpangan masa
ada balita tertampung
di salah satu kerangka keluarga.
angka dan huruf mentah sebagai skenario Tuhan
telah dilekat di pertigaan hatinya.
mereka pun kemudian membiak. menjangkiti akhlak
saat ia remaja sekaligus menjadi santri
di daratan konsentrasi penuh berkah.

di hilir periode
bulan madu itu akhirnya harus tergusur
karena ia memilih ‘tuk jadi imigran.

pada sebuah gerendel ia membuka pintu.
tak mengerti dirinya
bahwa ruang itu adalah perang.
sontak, mimik jiwanya dikerubuti resensi
mengenai reinkarnasi kepribadian.
tersedot menuju kubu-kubu permainan
tentang perca-perca kematian.
terbanting. berguling-guling di atas mara
tanpa sempat protes untuk membaca diktat wasangka
dan mencipta kartu-kartu skala.
-
lendir di sekujur indahnya tergeret, tetes demi tetes.
tergantikan dengan beling-beling pemangkas segala.
membuatnya mirip seekor binatang legendaris;
lantang berteriak di parit-parit waktu
untuk menantang ajal.
-
peluru kehancuran dan terik pertaruhan
ditumbangkan.
curam sang maut di balik impitan justifikasi pun
ditundukkan.
lambat laun, ia sanggup berdiri sendiri
di permukaan sungai – bahkan di atas banjir! –
untuk memimpin pertempuran.
-
berteman butir-butir salju
mereka saling mengganjar tawa
seiring aliran dingin dari sudut-sudut hampa.
ia pun tahu bahwa waduk di perhentian berikutnya
ialah gulita
dan alam juga mengerti bahwa ia terus belajar
mendidik kotak-kotak kultur di dadanya
untuk menjenguk keikhlasan
demi merampungkan cahaya.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Saputangan yang Mengapung di Mataku

tisu kain itu mulanya adalah badai.
datang dari laut bersama secuil daging dan darah.
masuk melalui jendela dan tiba di mesin ingatan.
-
awalnya ia berkutik dan beberapa kali tersaruk-saruk
tatkala energinya membentuk syair. (ada vibrasi di sana).
dengan prakata dan sedikit argumentasi,
perlahan ia lompati pagar besi untuk mendekat
meski terancam jadi beban dan asam
di tenggat hari.

         dengan akhlak dan integritas putih
         ia berubah bentuk, menjelma selembar kain.

selintas, ia terlihat lembek dan sebak.
nampak baru pulih dari durasi hardik dan pancung
di umur senggangnya.
-
saat mencapai normal
senarai suci tentang kasih pada halaman mukanya
mendadak memahat seberkas tubuh.
seperti makhluk beradab ia diumpan ke mata
hingga aku buta; pikun ilmu, pikun rasa.
entah berada di dalam kardus waktu
atau koper warsa.
hanya cicipi sedak pedih dan petaka.
dan akhirnya terguling-giling dalam malu
laksana arca tua di dalam tong sampah.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Penyempurnaan Luka

halaman-halaman penuh dialog dan bertata bahasa
di buku akidah ini telah kosong.
miliaran benih-benih perjuangan
sempat tertulis dan bertasbih di sana.
namun, mereka terbetot dari lembaran-lembaran langkah.
meninggalkan bekas arti tentang kasih
di pelataran batu-batu masam.
gema pergerakannya pun lebur
seiring munculnya gempita
sebagai akumulasi ledakan benci dan ketakpuasan.
-
alam seolah dungu.
tak berikan oksigen satu gram pun
sebagai logistik medis untuk krisisku.
mungkin telat untuk membentrok kawat berduri
di baris terdepan.
barangkali pula sel-sel nyaliku sudah rata
atau malah memburuk
hingga tak perlu lagi ada selisik dan jaga.
-
langit ketujuh mengeruk
lantas menyeret roh dari kostum dagingku.
mengajaknya berdansa di sehampar hutan anonim
dengan kawalan cahaya.
layaknya siswa, ia patuh laksana alat peraga
sampai kelelahan di titik sucinya
melamban dan habis
karena mereka memberi lisensi secara perlahan
untuk sebersit niat baru
demi kemenangan perang di depan.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Sabtu, 09 Maret 2013

Tarikan Terakhir dari Sebuah Eliminasi

surya di jenjang teratas itu
hanyalah infrastruktur sebuah tatanan.
seperti musik, ia melintas sekejap
selaku penyangga khitah dan kriteria
lalu pergi tanpa tinggalkan kesakralan
di balai-balai harap dan doa-doa.
-
di titik tenggat, ia terhenti
pada satu kombinasi pembatas.
seberkas anasir hambar mengantarnya
masuk ke dalam konstelasi metafora.
didudukkan di atas kursi
dengan suguhan pagelaran penuh aniaya.
-
ia menyaksikan mesin-mesin sakti
berkoar dan mendekat
dari pelataran reruntuhan pasir-pasir kemapanan.
tentakel-tentakelnya terudar.
kulitnya tersentuh oleh serabut-serabut lancang.
merambah temperamen di kandungan
lantas setubuhi ketakutan
‘tuk jadikan sarang kelemahan.
-
kedewasaannya takluk.
urat-urat hayatinya tergetar hingga terbelalak.
tergusur dari keharuman esensi dan kreasi
tanpa sempat bertanya
dan tak tercatat di menu resmi sebagai siapa.
-
ia mengerti
bahwa rohnya ialah titipan Tuhan.
sekadar sempalan pendek tiada makna,
dicocol-cocolkan ke dadu hitam beriskan
untuk diuji dan berjuang
atas nama cinta. tapi ia kalah.
tertendang dari lini upaya
dan kian menciutkan diri dalam diam tak bertepi
di batin ini.
-
Pasuruan dan Sleman, Februari 2013 

*

Teror Mental

debur mimpi-mimpi itu
semestinya terjangkar dan tersekat jauh
dari ufuk kerasionalan;
dimakamkan di sebuah resor tak berpeta
atau dijemur di hadap api mentari
agar lekas binasa. nyatanya,
ia justru sanggup merayap dan bernapas di kesadaran.
bahkan menari-nari di atas meja rias kudusku
pada tekstur waktu tertentu.
-
resonansi lolongnya adalah tur sarkastis.
seakan-akan memapah panik
menuju detik-detik negatif.
terasa sumir, melayang dalam kelebat.
namun senantiasa mencium kerut galah-galah stamina
tatkala tangguhku tumpah
dan berceceran di pantai asing;
serasa membunuh usia, jadi sebatang kara.
-
para penggarong itu meluncur
dari gayung-gayung kenangan.
seperti lahar, mereka adalah menyilaukan.
meledak menjadi pasukan hujan
kemudian mengganas di sekeliling dua mataku
dengan bintik-bintik ngeri
‘tuk berebut mengangkut kenyataan dari harapan.
-
memang, sekelumit hidayah sempat terpahami
di balik huruf-huruf braille kehidupan
saat kerumunan totol-totol sucinya termakna.
tapi, tampaknya tiada kans ‘tuk awali misi baru
di zona gelap ini
meski aku berlama-lama memegang percaya
demi satu titik di sudut prahara.
-
Pasuruan, Februari 2013 

*

Pohon Cinta

pada sepasang cangkir gembur di pekak sang waktu,
kami berusaha menggali ekspresi
untuk sama-sama menyentuh ngarai di dasar itu;
mencetak busa-busa baru ‘tuk dijadikan guna-guna
pada permulaan.
-
lambat laun, bentang pematang pemisah
berangsur terampas oleh alam.
prosesi kasih dari dua kiblat berbeda pun
dapat disatukan. merawatnya sebagai platform nabati
untuk ditempa dan disiram
dengan percak-percik koreografi.
-
saat merayakan bincangan psikologis
dalam keesaan hati di tiap-tiap dermaga itulah
racun tersebut berkunjung perlahan-lahan
dari terompet hitamku.
mereka adalah unit-unit lacur, bak semut amoral.
dengan kapak bermata setan, mereka membuat retakan
pada tatanan dan baiat tertanam.
mengisinya dengan kurikulum penuh iri-emosi,
juga dengan argumentasi penuh caci-benci.
manis pun akhirnya tak lagi tersenyum
dan bergelantung di jari-jari ranting,
namun menjadi reruntuhan busuk
dalam kapar dan hening.
-
tiada satu pun pihak berikan awal
atau benahi gelar milik kami.
mungkin karena kemudi sudah telanjur terpeleset
dan tercopot dari tangkai berahi. mau tak mau,
aku pun segera memadam-rapikan sisa-sisa.
memasukannya ke dalam peti kemas metawicara
lantas membuangnya ke atas bara.
meninggalkan angan-angan nisbah
meski sempat menepi di samping rumah.
-
Sleman, Februari 2013 

*

Senin, 04 Februari 2013

Kecupan Pertama

sebelum kantuk mendulang pelosok tubuh
dengan keleneng-keleneng instan,
selalu saja keringat kecup pertama itu
terasa merundung pusaran kendali.
-
ya, akhir-akhir ini
peristiwa itu kerap mengarsir
molekul-molekul kesabaran.
dalam kias, ia adalah sinden; menyerahkan
sekaligus menyengatkan transisi elektrik
pada satu lingkar laga.
ia seperti pelacur. duduk mendamping
dengan segerbong alfabet di kedua siku sayapnya.
mengemban sebuah tampah di ribaan
sebagai ruang cangkok dan kontrol kata-kata
‘tuk dijadikan pusara.
-
kalau sampai
baskom berisi lamaran makam-makam itu
membusung padaku, maka amputasi pemikiran
dalam satu parameter tertentu
adalah keharusan
agar aku tak melepas landas
meraih kegilaan.
-
Sleman, Januari 2013 

*

Dunia, Bukan Lagi Sebuah Makna Untukku

dalam demam dan datar
di bawah reruntuhan pengorbanan,
jelas kusaksikan pecah dan remang
tercantum di atas nampan.
sejenak lalu, mereka menyerang dengan gedor
dari balik segel perban nisbi. tapi,
kini ayat-ayat pedang itu
telah menusuk, menggeledah,
dan menjajah ruang-ruang cerita.
-
digit pengembaraan ini
seakan-akan jadi tempias harian.
tak ada lari dan tak terawat oleh tradisi.
hanya sanggup bersimpuh tunduk beberapa meter
dari oncor api bertudung darah.
siap terima titah
‘tuk menyambut para pelayat
dari tanah durjana.
-
Sleman, Januari 2013 

*

Segumpal Napas yang Berdarah

ibarat kreasi, lentera tasawuf ini
adalah celurit tak berkatup.
dibentuk dari tutur cerita
ketika kehebohan tuts-tuts kusut sang piano itu
kupanjatkan.
-
sejak instruksi dari dalam akordeon itu menodong,
alat peraga itu kumainkan sejenak
dengan spesifikasi modis
pada bait-bait percakapan kami. kukira,
ada detail idam atau desain riang terperi di sana.
ternyata, hanya ada cekik dan pikul penuh kendala.
mempererat sabuk derita
juga mempercepat tumbuhnya tumbal
di antara alam kami berdua.
-
pada satu linting masa,
turnamen keragaman itu akhirnya terpilih
dan tersembelih oleh dua poros ambisius
dalam dua embara.
puluhan anak-anak napas muncul
dari paru-paru rotan kurusku.
mereka berlari berhamburan
dengan tubuh penuh darah.
mencari pelampung seadanya untuk bertahan
atau sekadar menyingkir
dari kejaran pemburu tak bertuhan.
-
ya, akhir-akhir ini penyakit primitif itu
memang kerap selingkuhi jiwa
sebagai narator tunggal.
entah, apakah perempuan di sana
juga didakwahi oleh psikiater serupa atau tidak.
-
Sleman, Januari 2013 

*

Jumat, 04 Januari 2013

Perjamuan Cinta

         : Maryama al Kad

tawa tepuk tangan di silam adalah baringan prestasi.
layaknya bukit; terlihat megah nan keren.
namun ada bentol-bentol musibah termaktub
di lipatan kurikulum.
-
drama pelayaran kita adalah periode hiruk-pikuk.
ada tabrak terangkat oleh tombak idealisme di sana.
memuncak menuju laut neraka dalam derit penuh kecam
meski ada dukung turut terbeber
di lapangan perkasihan.
-
keleneng kegagalan mengalun sayu dan kian mengawang
adalah siuman magis, keluar dari portal pendopo perjumpaan.
memaksa kita untuk membongkar segenap incar dan kejar
pada terowongan sarat bujuk rayu
dadu-dadu keriilan.
-
di gerbang ini, kita masih saling mengusut
di antara bising gema-gema peluit jaga dan amanah.
menaruh tato-tato rencana di atas angin silir
sembari berkonsultasi dengan tindak dadakan
untuk belajar melepas atensi
dan saling melupakan.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Embun yang Mengapung di Mata

         : Maryama al Kad

saban kali aku menukik menuju kemanunggalan halusmu
selalu saja ada unsur menutup.
bangkai-bangkai larva itu
silih berganti berikan santunan dari tur maut
‘tuk mengompres antik matamu;
seperti ada gendam dirilis dalam kegaliban.
seperti bius kolektif dibual dalam kewajaran.
memperdaya konsentrasi taktismu dalam samar.
kelak membekuk kastel indahmu
dalam kemaluan tak tersadar.
-
bila nanti spekulasi sucimu telah dicuci
lantas diledek oleh gegabah,
maka aku ‘kan datang dengan mukena dan doa.
dengan segenap ketakmampuan dan kegagalan
sebagai seorang pelayat bertangis luka.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Butir-butir Pasir yang Menguyupi Tubuh

         : Maryama al Kad

bijih-bijih pasir di kontur indahmu adalah buah aksi para petani. ingin menggarisi tepuk dan ketuk sintal. silih berganti memupuk dengan anggukan dan sanjungan berkala hingga kelabu dan tipu jadi simpang nan enggan kentara. 
-
aku bukanlah wira dengan lembaran epos dan paragraf-paragraf sejarah. juga bukan seorang pejabat psikologis dengan lagu-lagu alegori dan tutur kosakata pelipur duka. tapi, aku adalah gembala dengan bendera angkasa dan benih batu karang. kuhimpun dari tetes keran surga. 
-
aku hanyalah sukarelawan kotor untukmu. berkehendak menumis jiwamu dan berikhtiar ‘tuk mengurai lumuran butir-butir subtil di siar lahan rapuh agar ilmu tertusuk lidi keteguhan tetap rapat tersimpan dan takkan pernah tercabik dan tertukar oleh perilaku jahanam. 
-
sampai di titik ini, aku masih berusaha meraih tali kepang undian milik penguasa sembari berjudi dengan caci maki, benci, dan tensi kekesalan. ada lekas mesti kujuang sebelum arang menjadi indikator menghantam. bila kelak bertunas, maka kegirangan itu akan bersulang bersama gurau di antara bulu mata liar kita. bila kelak tumpas, maka itu adalah cetak biru milik Tuhan, memang harus ditunaikan sebagai pameran kehidupan. 
-
Sleman, Desember 2012 

*

Memungut Rindu

         : Maryama al Kad

sayang, aku ingin memungut rindu dalam tubuh kerucutmu.
coba mengais rangkuman rezeki
oleh harum jasad mamalia
pada satu basis persalinan. diapit gerimis
di atas jerami kebanggaan.
-
sayang, aku ingin memungut rindu dari sekar misterimu.
berjalan mengitari tepian kertas-kertas negosiasi
seraya berinteraksi dengan sebuah majelis hujan
dan diiringi parade kasih sang bintang-bintang.
-
sayang, aku ingin memungut rindu di episentrum cintamu.
berenang di petak-petak kampung tua, tergetar oleh rasa
saat erang kegalauan itu
meneteskan mukjizat. merombak tongkat kepekaan
menjadi origami kepatuhan.
-
jadi, bolehkah malam ini rindu itu kupungut
demi menit-menit erotis bakal kuketik?
-
Sleman, Desember 2012 

*

Janin Kebencian

kartu pos itu selalu datang bertubi-tubi.
dikirim dari bukit bencana sebagai jawaban
untuk satu pertanyaan
tentang tengadah tatkala kujemur
di ranting malam.
-
ada definisi terukur di atas bidang pualam itu.
mengabarkan tentang cipta bakal bayi
dari ekspedisi nafsu
tatkala kemanjaan tak terarah dariNya
ditanamkan di alis belakangku.
-
konon, banyak orang terjebak
pada irigasi penafsiran sama, bahwa
siulan kecengengan ini adalah skema temporer
sebagai satu kejutan. tak perlu dihindar;
menganggapnya sebagai tuah atau berkat.
masih terbungkus kapas tua
dan terkontaminasi aturan-aturan lama.
-
tapi,
tembusan panggilan siluman batin bak amunisi ini
memintaku untuk mengusut. setidaknya,
aku menatap dengan saksama
sebagaimana seorang editor jiwa, mendiagnosis rasa.
dan jika kabar dari terminal periode itu adalah benar,
maka ia patut kubunuh sebelum ia berbagi tawa
dalam kebencian utuh nan angkuh.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Tinta Darah

kayu dan batu muruah kububuh dengan tinta darah.
masih tersimpan di lipatan senyap.
kasidah terlampir di pinggiran animasi surganya
senantiasa melepaskan musik-musik dewata
pada deretan siang.
-
aku adalah peziarah. kerap terjebak, – dan tak sengaja –
mendomisili kodrat. termenung
di kolong kemufakatan itu: sebuah kampung diam
dengan ribuan musuh di dalam tenda siaga
untuk menghadang dan merampas.
-
barisan ajaib nan kotor dan menyimpang itu
adalah penyakit berkerumun.
mereka adalah pemburu dengan rahang terbelalak.
melompat-lompat di antara ambang-ambang krusial
untuk menakuti. dan kuku-kuku mancung mereka
adalah parang, mesti kuwaspadai.
-
tentu, desain sang arsitek menjulang
di atas hektare keabadian. di sana adalah sebuah misi.
adalah picik bila batu dan kayu itu kupungut
dengan satu kaki dan perspektif skeptis
seraya mengamini instingku. cenderung siap
‘tuk menumbang kepul harapan
dan empaskan rukuk pancangan dukungan
di pusaran waktu.
-
maka, di kasur kepedihan inilah aku berjanji bahwa
gulungan magenta kudus itu ‘kan tetap kukelola
dengan segenap pupur spirit tersisa meski
burung-burung gelap di sana sedia berkompetisi
‘tuk hancurkan bubung rinduku
hingga berkeping-keping
atau bahkan mati.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Jejak Tawa yang Termaktub di Tembok Duka

aku sudah mengembara dan berpelesir
‘tuk hilangkan prihatin. telantar di saung khilaf.
kusempatkan pula ‘tuk pergi
ke berbagai undakan. menampung debur-debur cahaya.
namun, kepada mural itu jugalah aku pulang.
-
misteri di balik selempang warna itu
masih saja menabuhkan syak wasangka.
ia bagaikan busur. selalu melempar tegur.
menuding keterlibatanku
tentang anakronisme. kulayang dan lintaskan
pada satu identitas. kutunggang tiada batas.
tersungkur di sana.
tiada pula coret tawa tercetus
lantas runtuh ke dalam tangki amarah.
semua itu hanyalah memori. belum terpilah
dan masih tengkurap di atas sajadah.
-
kuartal terakhir di tahun lirih ini
memanglah liang lahat, belum sepenuhnya kupahat.
besar kemungkinan bila di sana
ada sebongkah visi nan gadang,
terkubur di dalam lemari berjendela.
‘kan berikan benih karunia
untuk sebuah pemandangan baru
sebelum kokok ayam menerpa
dan mengekang tanyaku hingga tak berarah.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Firasat Kematian

suatu saat,
embusan wangi pada galur tubuhku ini akan musnah.
kancing-kancing tulang punggungku akan lemas
dan tunduk kepada satu tembang, tengah berkecamuk.
itulah fase di mana keberanianku sedang bergidik.
tersesat di atas landasan kepahitan
dan disambut oleh halusinasi tragis, leluasa
mencorakkan cengar-cengir kengerian.
seorang sinden bundar terjun dari langit
pasti akan mengirim lebam untuk menjamah jiwa
dan segera menjebak usus-usus pikir agar mereka
mengarungi rumus edan, gemar terpingkal-pingkil.
-
rangsang kewaspadaan itu
akan senantiasa kupijak dalam hunian batin.
kujamu dengan parfum dan kemenyan merah
sebagai sikap negosiasi di sekujur arah.
dan jika keranda itu tiba
aku akan bergegas mempersunting rayunya
karena tak ada lagi cinta menjilati kotak maduku
di kepadatan harmoni tertata.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kubangan Kesengsaraan

di masa kesejukan sebuah negasi,
aku menilik selembar almanak di teras karunia.
kerumunan angka dan hurufnya terlihat lentur dan tengkurap.
segelintir dari mereka terkelupas dan menjadi kepundan.
-
pada cekungan metaforis itu,
aku merasa seperti balita kehilangan gerak dan gesit.
dimandikan oleh ilusi, melumat kemampuan dan kecerdasan.
menggeser dan mencukilku ke hamparan kemirisan menyeramkan.
tiada dian berkeliaran di sana.
hanya sisakan sinopsis hampa
berdasarkan menit-menit kilah dan perkara
dari sempalan proklamasi cekcok dan kisruh terarah.
-
profil diriku tampak seperti mayat tak bertema
laksana seonggok kiasan terlempar jauh
ke dalam sumur multiduka.
berdiri di antara aral dan sorak ledekan sembari guncangkan sirip.
berharap dapat naik ke sebuah stasiun kemesraan,
ke dalam satu kubu hangat dijanjikan.
– tapi, aku tak bisa –
-
aku mengerti bahwa itu bukanlah sebuah mitologi
atau iklim selalu terdampar
dan mengarsir kekuatan positif di tanah pusaka.
ada dalil-dalil kudus mesti kusitir
dan kutafsir secara realistis di dalam lambatnya gravitasi.
meski kegamblangan dukacita ini menerus kambuh
dan menyerang secara brutal dan biadab.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Senja yang Meleleh di Pangkuan Malam

senja, kecantikanmu di rongga subuh dulu
kini tak lagi berkumandang.
terperangkap oleh retorik sang waktu. menyabdakan ilusi.
kibaran denyar dari pancaran bohlam di matamu pun telah lunglai.
terbendung gorong-gorong mayapada tak berkatup
di atas ambal kecemasan.
-
kau terlilit sumbu kematian.
bertudung kutuk gulita, menyangkal dan menyanggah.
segala komunikasi manusiawi kau umpatkan
kau adalah pusaka, berdiri di atas ladang kaca
di antara satu batalion jenazah. siap mendaki harum tubuhmu
tanpa risih, demi melampiaskan berahi terakhir tak tertanggungkan.
-
hari ini, kulihat kau masih sanggup berselancar
di atas batuan keridaan.
suara beduk mengorbit dan timbulkan berkas-berkas muhasabah,
tak juga tiba di kumparan hatimu.
ingatlah senja, suatu saat, –niscaya–
benang-benang karunia itu akan meroboh-jatuhkanmu ke parit.
lesapkan dirimu ke dalam lahan cemooh.
dan rohmu, akan dijamu dengan tari-tarian perkabungan.
lantas, kau ‘kan menempuh labirin pipa-pipa paranoia
hingga masuk ke dalam guci kecil berjelaga.
-
mungkin, malam terlebih dahulu menekuk amanah,
dilesatkan dari gedung ketujuh.
sampai-sampai kau tak sadar, kekenyangan, lalu tertidur
akibat pengukuhan sahih bertalu-talu.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Menyekap Sejarah

pada selembar akta,
ada sebuah isbat tercelup dan terbujur di dasar tinta.
lembar itu terlihat lemas
terimpit jutaan rim kertas-kertas klimis dan masih bertempur
dengan buku-buku tegak dan mendongak ke matanya.
-
ia adalah peranti, terborgol keniscayaan
relik. ditangkap oleh tubuhnya
adalah ganjal, mengempiskan segenap hidayah
di dalam rute-rute kehidupan. sudah dan akan diorbitkan.
ia hanya ingin melepas napas, telah diwujudkan
oleh noda merah. dengan ornamen cahaya sebagai jubah
figur itu menjelma menjadi caci maki zalim dilematik.
ia lahir dari air mancur spirit dan syiar kekhidmatan. namun kini,
ia hanyalah imbas dari jerat disorientasi menggebu
saat bibir merah di pusat kota itu menyemburkan plakat-plakat pemanis
di kelana petangku.
-
relik itu telah tertampung dan terkandung di atas karpet sejarah.
mustahil jika ia memindah-parkirkannya ke pantai durjana
atau ke satu lokasi penuh dengan kecengengan belaka.
ia hanya mampu menyekapnya pada level gradasi terendah
hingga langlangan ideologi darinya tertutup
oleh keroyokan ciuman. muncul dari tunas cengkerama.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kelok Berahi

adakalanya teluk cinta bertolak dari laut lepas.
adalah atmosfer majemuk, limburi dan mengontaminasi dialog hati.
komposisinya terdiri dari potongan-potongan gradasi kaku, bahkan
kucuran kehangatan dari talang kemesraan pun masih beku.
-
tak usah bingung, menggerutu, atau malu.
tantangan mengecam dan menindas takkan pernah runtuh
bila hanya bergantung pada doa dan dogma.
nikmati saja setiap jengkal transisi dengan leluasa.
dan, jika tekanan hatimu mendadak terkokang dalam lengking
lantas saling bersahutan dengan sentakan arus romantis
maka, saat itulah kau tersangkut di kelok berahi.
terendam di kubangan nirwana, sajikan sebuah situs cahaya
tanpa rupa, tanpa logika.
-
tubuhmu akan merekayasa sebuah catatan
tentang teknik dan tahap.
mesti disuntikkan ke dalam gerak
sebagai satu investasi kejayaan.
kelak kau sandang bersama gengsi kemenangan
dalam sepetak siklus muda terus bergentayangan.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kasidah Kembang Darah

         : Maryama al Kad

dulu, saat kita saling mengeja bait-bait naluri
ada gelembung-gelembung guncang menghardik induk hati.
dalam diskusi dan obrolan kasual, perlahan-lahan kita merayap
menuju sebuah simulasi gempita pada sebuah lahan buta.
masih berderit bila kita menyimaknya.
-
kita meloncat ke sebuah telaga cinta lantas karam.
tergolek di atas sebongkah batu tak berusia.
sendi-sendi ilustrasi pun kian masak
dan memadati sebuah senarai. kita umpati
dengan dawat-dawat suci, dipungut
dari punuk konservasi.
mengaplikasikan gejala-gejala kasih-sayang
dan saling menukar ledakan di dalam sebuah kandang
dalam kegairahan tak bertulang.
-
ketika seabad telah berlalu dan ia lenyap dalam getas,
tiba-tiba saja kita berdiri di puncak lautan neraka.
hutan dibangun dengan sihir kemesraan
kini telah terungkai dari kening asmara.
paru-paru kita tersiksa dan membusuk
karena kita serempak untuk saling melongsorkan siang
dan mengaborsi cinta di kancah pertempuran
tanpa saling menularkan bulu-bulu rindu
dan memuntahkan air mata
demi sebungkus kado pernikahan, masih kita simpan
di keranjang perjanjian.
-
mungkin, aku tak usah lagi bersekutu
dengan lampu-lampu mungil tumpul ini, karena
dia adalah jantung hati di suatu musim
dan dia juga penghancur hati di musim yang lain …[1].
-
Sleman, Desember 2012

*




[1] Kutipan dari film Kal Ho Naa Ho.

Ayat-ayat Duka

gebyar sebuah citra pernah melabrak hayatku.
memang masih terbekas dan tergantung di dahan memori.
selalu mendesis saat rumbai-rumbai lenganku coba memisahkan
dan aku tetap saja tak mampu mencampak
meski ia telah menjadi penyakit pengupas ketangkasan.
-
ia adalah teks-teks gelap. menyusup
pada selembar kertas batu dengan titel tersumpah.
menjadi sekeping deklarasi,
mengguntingi segenap semangat bercinta.
menindas kinerja otak di pusat meditasi. kubangun
dari janur transisi dan suara-suara asa
saat pendulum sihirku masih sanggup jelajahi teka-teki
di atas bundaran komitmen tak berbatas.
-
aku terkejut dalam cengang tatkala gelitik kekalahan sudah sepakat
‘tuk dampingi perilaku. mengundang perbedaan
dalam perlintasan tak terukur oleh waktu.
arca-arca kesopanan kian aus dan tersingkir dari bidang keyakinan
membuatku merasa seperti sebatang pion. ditimang oleh sungkawa
dalam kerabunan penuh aniaya.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Remah-remah Sunyi

aku menulis napas ini
dalam pelukan sebuah jalur. gugurkan angin
di atas kertas biru terpencil.
kugilaskan tutur-tutur asing ini dari lorong kegalauan.
-
aku adalah kerikil. terlunta-lunta
pada serak geladak gurun.
jantungku terbungkam oleh friksi dan sengketa,
muncul dari penetrasi klasik sang pesta.
menyelundup lewati sekat-sekat. kuteguh-tempelkan
dalam kantuk statis kian menyeramkan.
-
kepalaku pun tersaput oleh karung kegilaan.
merongrong dan mengabrasi sistem kerja otak, juga
memakzulkan rasionalitas. kuterapkan di sulur-sulur nadi
menggantinya dengan pijar-pijar sesat. menuntunku
ke surga hitam dalam syahwat.
-
aset tubuhku kini
hanyalah sebuah bubuhan peran
di tikar agenda milik Tuhan.
– tak tersangkal dan tak tertahan –
laksana selembar presentasi. mesti kujunjung
seperti payung. tetaskan hikmah
sebagai bekal pertaruhan
-
Sleman, Desember 2012 

*