Minggu, 05 Februari 2012

Sebuah Jali di Pelupuk Mata

         : Maryama al Kad

kau hanyalah sehelai bunga putih kecil
di antara lebat ilalang,
berorasi. mengobral air susu pada titik didih tertinggi
untuk kupu-kupu, juga lebah dan kumbang.
-
dalam siraman bayang-bayang dedaunan,
kau menyudut. barikademu kau kikis.
sempat kulihat beberapa peluru meliuk-liuk lihai padamu.
menyembul-nyembul laksana gagap bersahutan.
-
paesanmu tak lagi empuk di mata.
sepertinya, bekapkan setagen pada netra telah luntur.
tiada sendu ataupun sembilu tatkala aku
melompat tinggalkanmu.
kerlingan detak-detak listrik bergegas kupadamkan
sebelum kau rebahkan segarmu dalam liang paranoia.
-
ya, kutimba risiko ini sebagai pilih. memang pedih.
meski terengah dan menderu tanpa stamina,
orientasiku kusemai di ladang
agar antan tak mendebu dan hilang genggam.
-
Sleman, Januari 2012

*

Pelaminan

         : Matahari

memang, tambang cinta gembur di renda-renda senyummu.
tiada lagi mulia untukku
meski pintal pinta dan belukar paksa kutandangkan
tatkala rinai bunyi dawai-dawai ungu bersulang
seiring bising busa lisan.
-
semut di jalur itu pun pasti berempati
bahwa rakitan organ-organ asmara
tak sanggup lagi kutopang hanya dengan firasat
atau taksir meloncat-loncat.
suara tik.. tik.. tik.. pun mengacak peti-peti angan.
bubarkan segenap spasi. ingin kuhias dengan kaca-kaca mesra
meski kini aku hilang simak
untuk seberkas ritu, tak sempat kupinjam
dari tangan Tuhan.
-
selamanya, mungkin pelaminan itu akan tetap kosong dan terigal.
sisakan bercak-bercak asa. telah reda
dan terjemur di bawah batas gubris. kian linglung
atau beringsut roboh
lalu tanggalkan hari esok. tertendang
ke dalam arus pikun para manusia.
-
Sleman, Januari 2012 

*