kau hanyalah sehelai bunga putih kecil
di antara lebat ilalang,
berorasi. mengobral air susu pada titik didih tertinggi
untuk kupu-kupu, juga lebah dan kumbang.
-
dalam siraman bayang-bayang dedaunan,
kau menyudut. barikademu kau kikis.
sempat kulihat beberapa peluru meliuk-liuk lihai padamu.
menyembul-nyembul laksana gagap bersahutan.
-
paesanmu tak lagi empuk di mata.
sepertinya, bekapkan setagen pada netra telah luntur.
tiada sendu ataupun sembilu tatkala aku
melompat tinggalkanmu.
kerlingan detak-detak listrik bergegas kupadamkan
sebelum kau rebahkan segarmu dalam liang paranoia.
-
ya, kutimba risiko ini sebagai pilih. memang pedih.
meski terengah dan menderu tanpa stamina,
orientasiku kusemai di ladang
agar antan tak mendebu dan hilang genggam.
-
Sleman, Januari 2012
*