Minggu, 05 Juli 2009

Hentakan Peluru

: Matahari

peluru di ujung mata setan siap bersua.
tidak ada lagi kisah-kisah manis kan terdengar.
belaian senyum jadi harapan terakhir saat era kewenangan kian punah.
peluru meluncur, menghentakkan denyut nadi pilu.
burung-burung lari menghindar seakan lupa pada doa.
peluru itu membelah dan jadi saksi bahwa aku mencinta.
darah mengalir, mengumandangkan angkuh dan gempita.
sorak-sorai ombak laut sekejap melupakan waktu.
rohku terbang bersama rembulan,
dirimu menangis dalam penyelasan.
-
Surabaya, Juni 2009

*

Raungan Kucing Jantan

: Matahari

raungan itu tetap terbuka dan menghembus bersama tangisan darah.
ia membiarkan pujaan dalam basah gemilang tawa
karena jantan juga menikmati canda senyum dari delima bibir betina.
dua mata mencengkeram tanpa acuh,
membawa lembaran lamaran tiap helai bulu terdiam.
cakar takkan dapat merebut hati, begitu juga taring runcing.
endusan di malam jelita hanya bisa terekam saat rintik air mulai lirih.
kibasan ekor berikan sebuah maksud tuk menaklukkan sambil menyayang.
getaran gelombang di tubuh betina tak lagi menghibur.
jantan mulai terkulai, lemah dengan ribuan jarum tertancap tepat di limpa.
arus terus berputar, namun tak jua terlihat berguna tuk sang jantan.
-
Pasuruan, Juni 2009

*

Kelana Tasbih

         : Matahari

bukan tajamnya pedang membuat padam.
bukan pula sengatan lidah jadikan terkulai lemah.
namun tusukan matamulah menyebabkan mati
dalam genangan kegilaan.
-
api menyembul dari hati
saat melihatmu bercengkerama di asmara seorang adam.
tak lagi ada sinyal-sinyal kehidupan
pantas untuk dikecup dengan cinta.
dirimu telah tebarkan kengerian penuh
; ketakutan pada kehilangan sebuah,
mutiara berlapis permata.
-
ingin membuang wajahmu ke tempat sampah
tapi tak sampai hati jika melakukan.
biarkan saja kumembuang indah dalam untaian aksara diari
dan keheningan pagi hati!
-
Surabaya, Juni 2009

*