Kamis, 08 Oktober 2009

Terlalu Indah

         : Matahari

sendiri, tak mampu meraih angan terbayang.
mencintaimu ialah anugerah pedih
mesti kucerna dengan batin mengiba.
tidak lama lagi ku kan terbang,
menjelajahi tiap serpihan matahari di balik daun dan embun.
-
mungkin kau mengenangku
sebagai sang pemuja gagal pemberi kemesraan.
tapi kutetap menunggu senyum di belakang sayapmu.
terus berjuang hingga aku
bisa menikmati taburan alunan cinta darimu.
-
Pasuruan, September 2009

*

Kosong

         : Matahari

kembali, meratapi nasib nihil.
tak ada bentuk aroma profan seperti cerita-cerita lampau.
rindu kian lenyap seiring letusan bunga api di kelam awan.
alunan takbir dan tahlil sahut-menyahut dengan lantang
namun jiwa masih saja terbaring.
berdoa bersama benih cinta.
-
perjalanan tak lagi gemerlap teraliri dayang-dayang bercahaya.
nanar menemani pikiran dan pilu memetakan sebuah lajur berbahaya.
di ceruk jasadku rinduku menggelantung dan bersarang
di sela lekuk senyum simpul.
sembilan malaikat mengawal tiap doa
tapi hingga akhir penantian keheningan itu tetap bisu.
tak bernyawa, tak bersuara.
-
kosong…
aku terlalu takut jika cintaku ompong
-
Pasuruan, September 2009

*

Nyanyian Pamungkas

         : Matahari

setetes kesempatan menemui tanpa ajudan.
guratan senyum di paras tak lagi bermetamorfosis
menjadi sebuah harapan.
kumenanti sebuah kepelikan kesadaran hati seorang dara
ketika kusentuh dengan kecup.
seakan sirna, sebuah belenggu cinta
dalam keindahan dan kekilauan bentuk tubuh dan iman.
-
ajari aku untuk mendapatkan cantik jiwa,
pun jasadmu wahai jelita!
-
telah lama aku berdoa, telah lama aku beristiqomah,
namun masa depan terlalu suram menghalang.
syukur kan kusematkan bila bersedia mempertemukan
meski gangguan itu kuanggap sebagai nyanyian terakhir.
-
hamba tak sanggup untuk berlama-lama.
sahaya ingin merdeka.
-
Pasuruan, September 2009

*

Detak Perjumpaan

         : Matahari

rindu kian menganga seiring detik.
manis benih cinta mulai tercicipi
kala perjanjian tersepakati pada Senin malam.
hati berdebar menunggu perjumpaan bersejarah.
kacau terus menggelontori angan, bahkan aku
harus menyediakan teks-teks maya ---
kan kugunakan saat kita bercanda.
tak ada penyesalan namun juga siap ‘tuk sebuah jawaban.
ingin diriku mengajak lebih jauh;
untuk ibadah, pun bercengkerama.
-
bayangan-bayangan rekayasa tampil silih berganti.
sepenuhnya memutar cantik dan indah
dalam nuansa keakraban.
meski hanya khayali tapi aku
kan menghelanya sebagai penyambung nyawa.
di kamar ini aku hanya menanti esok hari
saat rasa nikmat kan kau semai ke raga ini.
-
Pasuruan, September 2009

*