sebenarnya, Justin
Kristanto punya mental dan kecerdasan di atas rata-rata temannya. ia spesial di
mata dan hati para guru. sebagai laki-laki keturunan Cina di Kota Kraksaan, ia
sama sekali tidak mendapat jamahan rasis di lingkungan SMA.
perawakannya
biasa: kurus, tinggi, dan pembedanya adalah kacamata. ia murah senyum kepada
semua orang. setiap hari ia diantar ke sekolah dengan mobil CR-V hitam oleh
seorang sopir. kadang-kadang anjing Siberian Husky ikut mengantar ke sekolah.
teman-temannya hanya suka melihat anjing itu ketika turun untuk berpisah dengan
Justin jika kebetulan mereka berada dekat di sana. mereka tidak berani mendekat
atau malah mengelusnya.
beberapa kali,
Justin juga terlihat keluar dari mobilnya bersama Fransisca. dulu, kali pertama
mereka keluar bersama dari mobil itu, beberapa teman mereka melihatnya sebagai
saksi. sejak saat itu terjadi kesepakatan tak tertulis antara Justin,
Fransisca, dan juga teman-teman mereka bahwa Justin milik Fransisca dan
Fransisca milik Justin. tidak ada satu pun omongan atau pergerakan di luar
mereka berdua untuk mengganggu hubungan itu. mereka semua telah menetapkan
teritorialnya untuk tidak masuk ke teritorial milik Justin dan Fransisca.
persamaan mereka ialah sama-sama keturunan Cina dan beragama Katolik sehingga
batas teritorial mereka benar-benar kental.
untuk ukuran
perempuan keturunan Cina, Fransisca termasuk remaji cantik. semua kawan betah
memandangi wajah dan kelak-kelok tubuhnya saat diam atau berjalan. ia punya
adab dan dapat menempatkan dirinya dengan baik dan benar sebagai Cina dan
Katolik di antara teman-teman Jawa dan Islamnya, juga para guru. sesekali ia
terlihat bersama Justin di kantin atau di perpustakaan, namun ia juga dapat
bergaul dengan teman-teman lain secara terbuka. gaya berpakaiannya sederhana
dan ia juga dapat “menggila” saat bercanda dengan teman-teman perempuan
kelasnya. ia duduk di kelas 10 sedangkan Justin berada di kelas 12.
tak seorang pun
tahu bagaimana Justin dan Fransisca dapat membuat teritorial mereka. di luar
sana, mungkin saja ada keluarga atau kenalan mereka sebagai mediator untuk
mempertemukan Justin dan Fransisca. entah bagaimana jalannya tiba-tiba saja mereka
sudah terlihat lekat setelah pekan ketiga tahun baru ajaran sekolah dengan
ditandai kebersamaan mereka berangkat ke sekolah dengan mobil Justin. tentu ada
beberapa kasak-kusuk tak berdasar untuk menyimpulkan awal hubungan mereka,
namun tak satu pun dari asumsi itu mendapat kepastian.
jika Justin
ditanya, maka ia mengata bahwa Fransisca hanyalah teman biasa. kedekatan mereka
memang hanya disebabkan oleh kesamaan ras dan pilihan religi. ia tidak menampik
bahwa kesamaan itu membuatnya sedikit lebih nyaman daripada teman-teman lain.
bila Fransisca ditanya, maka ia menjawab bahwa kedekatan itu merupakan proses
alami seperti ia dekat dengan teman-teman lain. dalihnya tentu menimbulkan
kecurigaan, namun teman-temannya tidak sampai mengejar penjelasan itu lebih
detail.
***
tiga bulan
berlalu. para siswa kelas 10 sudah tampak kerasan dan mengetahui seluk-beluk
lingkungan dan kegiatan sekolah. juga, mereka dapat akrab dengan teman-teman
baru. keceriaan datang silih berganti kepada mereka di lingkungan sekolah.
untuk kelas 12, mereka mulai berpikir untuk menghadapi Ujian Nasional pada
semester depan. sedikit tegang, mungkin iya. namun, mereka mencoba untuk
menyantaikannya agar tak jadi gila.
pagi itu,
segalanya terasa normal untuk hari bersekolah. Justin turun dari mobil dengan
perasaan tenang. tapi, tidak ada raut kesenangan saat berpamitan dengan sang
sopir. ia berjalan biasa dan tidak antusias untuk melihat situasi di
sekitarnya. sebelum masuk kelas, ia dihadang beberapa orang remaji. teman-teman
Fransisca bertanya perihal ketidakhadiran Fransisca beberapa hari belakangan.
tidak ada surat keterangan apa pun datang ke sekolah untuk mengidentifikasi
keberadaan atau kondisinya. kabar juga tak berbalas melalui pesan pendek dan
juga media sosial. mereka berasumsi bahwa remaja di depan mereka tahu perihal
Fransisca, namun Justin hanya menatap teman-teman itu dengan nanar semata.
tanpa jawaban, ia langsung masuk ke kelas dan membuat bingung remaji-remaji di
belakangnya.
di dalam kelas,
Justin segera duduk. keriuhan teman-temannya di sekitar tidak membuatnya
terganggu dan juga tidak membuatnya beranjak untuk turut. ia merenungkan
sesuatu secara mendalam. banyak pertimbangan ia munculkan dan satu per satu
menghilang lantaran sudah ia tentukan. satu pekan telah ia lewati dengan
perasaan hambar untuk menatap dunia. tapi hari itu, kehambarannya malah
menjadi-jadi. ia tak lagi bersemangat dan malah apatis untuk jalani hari. ia
merasa yakin terhadap kemampuannya dan ia punya hak untuk membuat takdir
pribadi.
bel berteriak
tiga kali, menandakan siswa-siswi mesti masuk ke kelas. satu per satu siswa-siswa
duduk di kursinya. teman semeja Justin beberapa hari belakangan mencoba untuk
bertanya dan menghiburnya lantaran ia tahu bahwa teman semejanya itu sedang
mendapat masalah. kali ini, ia tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan Justin
kendati hasilnya tidak ada. setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa ia siap
untuk berempati bila ada keterangan darinya.
hari itu ialah
Selasa. jantung Justin kian berdebar-debar, tapi tubuhnya tetap seperti biasa:
tenang. tanpa cucuran keringat, ia menanti. ia sedang bersiap untuk pergi dari
kursi dan mejanya. ia hanya menunggu momen terbaik di mana segalanya akan
menjadi lancar sesuai rencana. dari luar datanglah seorang laki-laki guru. ia
berjalan santai melewati papan tulis sambil tersenyum kepada siswa-siswi lalu
meletakkan tas jinjingnya di meja guru.
suasana kelas
beranjak hening ketika siswa-siswi tahu kedatangan guru mereka. guru itu masih
berdiri dan memerintahkan siswa pemimpin doa untuk membimbing siswa-siswi di
kelas itu untuk berdoa menurut kepercayaan masing-masing. kesunyian momen untuk
doa sejenak dilakukan hingga selesai kemudian guru itu duduk di kursinya, di
pojok di seberang pintu masuk. melalui wajahnya, dapat diketahui bahwa guru itu
sudah agak berumur. kira-kira 50-an. banyak rambutnya sudah dan mulai memutih.
ia mengeluarkan kacamata dari saku-depan-kanan kemejanya lalu mengeluarkan
buku-buku dari dalam tas.
para siswa
serentak mengeluarkan buku-buku tentang pelajaran Fisika tanpa dikomando.
mereka juga menyiapkan peralatan tulis di atas meja. seorang siswa tidak
melakukan hal itu. tidak ada apa-apa di atas meja Justin. ia hanya diam, agak
tertunduk, dan sedang mengerutkan dahi. teman semejanya melihat Justin sedang
bermasalah sehingga secara spontan ia berkata bahwa sebaiknya Justin pulang
jika dalam keadaan tidak baik. kali ini Justin mendengar sang teman. kerut di
dahinya hilang. ia menatap temannya lalu tersenyum. teman Justin lega melihat
ekspresi itu. ia merasa bahwa usahanya selama ini telah berhasil. Justin hanya
mengucap terima kasih.
sang teman
melihat Justin mengambil tas lalu pergi dari sampingnya. kolom duduk mereka
tegak lurus dengan meja sang guru sehingga Justin hanya perlu berjalan ke depan.
dengan tas dijinjing di tangan kiri, ia menghampiri sang guru. banyak dari
siswa-siswi di kelas itu melihatnya. pikiran mereka saat itu masih kosong dan
bertanya-tanya sedangkan teman semeja Justin tahu bahwa lelaki itu akan meminta
izin untuk tidak ikut pelajaran.
sekitar dua
meter jarak antara sang guru dan Justin. tangan kanan Justin merogoh sesuatu ke
dalam tas – lantaran tas itu ternyata terbuka – dan sang guru baru sadar ada
siswa di depannya. saat ia melihat ke depan – setelah tadi menunduk agak dalam
untuk melihat sebuah bacaan – ia hanya melihat sekilas cahaya dan mendengar
seentak suara lantas ia tidak sadar diri. banyak dari teman-teman Justin
menjerit sekeras-kerasnya setelah kilasan cahaya dan entakan suara pertama.
sekitar lima detik kemudian kilasan cahaya dan entakan suara terjadi lagi dua
kali. jeritan lain terjadi kembali dan beberapa siswa-siswi berlari keluar
kelas. saat itu sedang terjadi, Justin kembali mencipta kilasan dan entakan itu
sebanyak tiga kali.
kedua mata
teman semeja Justin terbuka lebar melihat temannya memegang revolver dengan
moncong menghadap sang guru. peristiwa itu membuatnya benar-benar kaget. dengan
gugup ia berdiri dan mendekat. ia menyaksikan guru itu terjengkang ke belakang
dari kursi. kepala, dada, dan bagian kelamin guru itu berdarah. pemandangan itu
amat mengerikan. ia dan Justin saling pandang di antara teriakan dan tangisan
para siswi sampai satu per satu guru lain datang ke kelas itu untuk menguasai
keadaan.
***
siang itu
Justin duduk di salah satu ruang di kantor polisi. melalui pintu kaca ia dapat
melihat orang-orang berlalu-lalang di depan pintu tersebut. di depannya ada
sebuah meja kayu besar dan memanjang menjauhinya. beberapa monitor komputer tipis
dan tumpukan berkas-berkas tertata rapi di atas meja. ia memikir lagi kejadian
pagi tadi di mana tidak sampai satu jam mobil ambulans dan beberapa mobil
polisi datang ke sekolah. semuanya serba cepat dan ia masih ingat wajah-wajah
teman dan gurunya ketika ia dibawa masuk ke salah satu mobil polisi. di kantor
polisi ia berganti pakaian untuk memakai baju dan celana pendek khusus tahanan
lalu mendekam di sel khusus. di sana ia merenungkan masa depan.
seseorang masuk
ke ruang tersebut, membuyarkan lamunan Justin seketika. seorang laki-laki
gundul, tidak berkumis tapi berjenggot lebat, tampak masih muda, berkaus putih
tanpa tulisan dan gambar apa-apa, dan bercelana kargo langsung duduk di hadapan
Justin setelah tersenyum menyapanya. sebuah map agak tebal di tangan kirinya
tadi diletakkan di depannya dan dibuka-buka. di bagian kanannya – di atas meja
– ada sebuah monitor. sesekali ia melihat-lihat monitor tersebut sambil
menggunakan mouse dan keyboard. lalu, ia memulai dan Justin
pun menjawab semuanya secara tenang.
Justin
menyatakan bahwa ia menyukai Fransisca, tapi Fransisca tidak menganggapnya
sebagai kekasih kendati Fransisca sendiri menyatakan bahwa ia nyaman berada di
sisi Justin. mereka sudah kenal sejak lama, namun Justin baru mengungkap cinta
saat baru tahu bahwa Fransisca satu sekolah dengannya. ia mengungkap cinta itu
di sebuah gereja di mana mereka selalu bertemu bersama. tapi tentu, Justin
mengungkap hal itu tatkala situasi sedang berpihak kepadanya.
ibu Justin dan
ibu Fransisca adalah teman karib. mereka bertemu di gereja itu jauh sebelum
mereka menikah. setelah menikah, mereka kerap mengajak keluarga kecil mereka
untuk berdoa di sana sehingga Justin dan Fransisca saling kenal. setelah dewasa
pun mereka sering bertemu meski tanpa didampingi kedua orang tua mereka. cinta
Justin kepada Fransisca tumbuh sejak SMP, tapi itu hanya lintasan hati meski
berkali-kali. sekolah mereka tidak sama dan mereka hanya saling menyapa ringan di
gereja saat bertatapan aura. doa Justin selama dua tahun akhirnya terkabul
ketika ia meminta Tuhan agar Fransisca didatangkan di SMA. hatinya sangat
gembira dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikatnya.
pekan lalu pada
Selasa malam, Justin pergi ke rumah Fransisca untuk bertandang seperti biasa
sebagai kunjungan ramah tamah tanpa janji terlebih dulu. ia berkunjung sendiri
dengan harapan dapat bicara berdua dengan Fransisca. sayangnya, ia tidak jadi
masuk ke rumah itu ketika ada mobil terparkir di depan rumah. mobil Avanza itu
berwarna hitam dan berkaca hitam pekat. Justin diam agak jauh pada satu jarak dengan
harapan tamu itu dapat segera pergi sehingga ia menjadi tamu berikutnya.
sayangnya, itu tidak terjadi. seorang perempuan – Justin sangat mengenalnya –
keluar dengan guru mata pelajaran Fisikanya. perempuan itu menggelayut manja di
tangan kanan sang guru. hal itu membuat Justin sangat terguncang. perempuan itu
mengunci pintu depan dan juga mengunci pagar. setelah itu, mereka berdua masuk
ke mobil dan guru itu mengambil tempat kemudi. Justin tidak dapat melihat
aktivitas mereka. ia coba menghubungi seseorang lewat telepon genggam dan
seseorang itu menutur bahwa ia tidak ada di rumah. ia juga mengata bahwa hanya
ada perempuan tersebut di rumah itu. setelah mematikan panggilan di telepon
genggam, hati Justin tambah tidak keruan. tanpa pikir panjang lantaran berniat
untuk melindungi atau setidaknya ingin mengetahui, maka ia membuntut mobil itu
dengan motor CBR modifikasi miliknya.
jiwa
kesatrianya tumbuh. ia berpikir buruk dengan membayangkan banyak adegan
sepanjang penguntitan itu. mobil itu masuk ke sebuah kampung di pinggiran kota
dan berhenti di sebuah rumah makan lesehan. karena tidak ingin ditemukan,
Justin memilih tempat parkir agak jauh dari mereka. perempuan itu keluar lalu
menyambut sang guru dengan kembali bergelayutan genit di tangannya. Justin
kehilangan akal menyaksikan adegan itu. perempuan itu tersenyum-senyum kepada
sang guru dan tampak menikmati berkobarnya gairah.
di dalam,
mereka menempati salah satu ruang lesehan. kondisi rumah makan sedang sepi dan
mereka memilih tempat agak terpencil. Justin duduk jauh dari mereka, tapi kedua
matanya dapat melihat jelas ke arah mereka. perempuan itu sesekali memegang
lembut wajah sang guru dan menciumi pipinya. sang guru juga tidak sungkan untuk
menciumi pipi dan bibir sang perempuan. aktivitas mereka hanya terganggu sekali
ketika seorang pegawai rumah makan datang untuk mengantar menu makanan-minuman
dan mencatat pesanan mereka. Justin amat tidak percaya dengan kenyataan di sana.
itu membuatnya amat sakit hati dan jauh dari nalar untuk dimengerti. ia hanya
memesan jus avokad sambil merekam kejadian demi kejadian secara saksama di
benaknya dan mereka benar-benar menggila.
saat mereka
sedang menikmati hidangan, dua orang perempuan mendatangi mereka. keduanya ialah
perempuan muda dan mereka langsung berteriak-teriak kepada sang guru. sang guru
terlihat gelagapan tak dapat melawan sedangkan sang perempuan pendamping sang
guru hanya menempel ketat di lengan lelakinya untuk berlindung karena takut.
orang-orang di
rumah makan itu mendapat tontonan. dengan berdiri, sang guru mencoba untuk
melerai kedua perempuan di sana, namun tidak berhasil. beberapa pegawai rumah
makan dan seorang petugas keamanan mencoba untuk meredakan kericuhan itu, namun
tidak berhasil pula. akhirnya, sang guru terlihat mengangguk-angguk mengiyakan.
ia keluar dari petak tersebut bersama salah seorang perempuan lantas keduanya
masuk ke mobil Avanza sebelumnya. perempuan penjemput sang guru itu terlihat masih
ngomel-ngomel saat mereka berjalan menuju mobil. lalu, mobil itu pun akhirnya
pergi meninggalkan rumah makan.
setelah
ditinggal sang guru, ibu Fransisca terlihat ingin sekali mengejar lelaki itu.
ia menangis karena ingin bersamanya. tapi, salah satu dari dua perempuan muda tadi
tinggal untuk mencoba menenangkannya. ia membayar pesanan makanan dan minuman
kepada seorang pegawai rumah makan tersebut lalu membawa ibu Fransisca pergi
dari tempat itu dengan sebuah mobil Jazz hitam. orang-orang di sana masih
tampak berkumpul untuk membicarakan peristiwa barusan. sesekali ada suara tawa,
seperti tawa ejekan.
Justin diam di
tempatnya. ia bingung sekali memikirkan semuanya dan ia amat geram. ia
menangkap beberapa kalimat dan kata-kata dari teriakan-teriakan tadi, tapi itu
masih berupa teka-teki. ia ingin mengetahui jawaban-jawaban di sana, namun ia
tidak tahu harus mulai dari mana. dan hari itu pun kemudian lewat. esoknya,
Justin tidak melihat keanehan apa pun pada diri Fransisca. maka, Justin
menyimpulkan bahwa hal kemarin memang tidak ada sangkut pautnya dengan
Fransisca. ibu Fransisca jadi oknum di mata Justin. sang guru fisika juga
terlihat santai dan kejadian kemarin seakan tidak ada efek pada dirinya. walau
begitu, martabatnya jatuh di mata Justin.
Justin melanjut
kisahnya kepada sang interogator. pada Kamis, hari pertama Fransisca tidak
masuk sekolah. Justin mencoba bertanya dan Fransisca mengata bahwa ia tidak
apa-apa. Justin tidak percaya begitu saja dan ia terus mendesak untuk
menanyakan keadaannya karena ia mengungkap bahwa ia peduli dengan Fransisca.
akhirnya, Fransisca luluh dan meminta Justin untuk menjemputnya di rumah pada
malam itu dan mereka pergi ke sebuah kedai kecil di tengah kota. Justin
sebenarnya ingin sekali melihat wajah ibu Fransisca ketika menjemput, tapi
hanya Fransisca sendiri keluar untuk menemui Justin dan Fransisca meminta untuk
langsung berangkat.
di kedai itu, Fransisca
bercerita bahwa kemarin malam rumahnya didatangi seorang perempuan. entah
kebetulan atau tidak, penyambutnya ialah Fransisca sendiri sebab ayah dan ibu
Fransisca baru saja keluar untuk pergi beramah tamah ke rumah kenalan gereja ibu
Fransisca di kota. ia menanyakan apa posisi Fransisca terhadap ibu Fransisca.
setelah tahu bahwa Fransisca ialah anaknya dan satu-satunya orang di rumah itu,
maka ia meminta izin untuk masuk ke dalam dan membicarakan sesuatu hal serius.
di ruang tamu
itulah ia menjelaskan bahwa ia adalah anak sang guru Fisika. ia datang untuk
meminta maaf kepada Fransisca. ia memberitahu bahwa ayahnya punya ilmu pekasih
dan ia menerapkan hal itu kepada ibu Fransisca kemarin malam. ayahnya sudah
berkali-kali menggunakan pekasih itu kepada banyak perempuan, tapi kepada ibu
Fransisca hal itu sangat keterlaluan. ia sendiri tidak tahu bagaimana ayahnya
mengenal ibu Fransisca selama ini, tapi ia tahu benar bahwa ibu Fransisca ialah
keturunan Cina pertama kepunyaan ayahnya. ayahnya hanya mengakui bahwa sudah
sebulan ia berhubungan dengan ibu Fransisca. untungnya, keterlaluan mereka
tidak sampai pada tahap berhubungan kelamin.
ia bercerita
pula bahwa ilmu itu hanya dapat aktif bila ayahnya mengaktifkannya. itulah
kenapa ibu Fransisca akan terlihat tidak melakukan apa-apa kepada ayahnya bila
memang sang guru tidak berniat melakukan pekasih. saat itu juga, perempuan itu
memberikan bukti dua foto. di satu foto mereka tampak saling mendempetkan
kepala menghadap kamera dan di foto lain tampak sang guru mencium pipi ibu
Fransisca.
foto-foto
tersebut membuat kesedihan dan kemarahan Fransisca memuncak. ia menangis tapi
ia tak mampu berkata-kata. perempuan itu rela jika ayahnya dilaporkan ke polisi
untuk dikasuskan, namun ia juga memberitahu bahwa akan banyak kerugian dari
pihak korban bila hal itu dilakukan. ia kembali minta maaf kemudian pamit
kepada Fransisca. kedua foto tersebut ditunjukkan kepada Justin. Fransisca terlihat
sedih kala itu. Justin sendiri sebenarnya mengetahui kali terakhir keintiman
mereka, tapi Justin pura-pura tidak tahu. setidaknya, teka-teki di benaknya
kini sudah terjawab.
Fransisca berkata
sambil menangis bahwa ia tidak segera melaporkan kejadian itu kepada polisi
karena ia takut reputasi keluarganya akan hancur. menceritakannya secara pribadi
kepada ayahnya, juga bukan solusi baik bila terdapat dampak buruk di kemudian
hari. setidaknya, bila ia bungkam maka kenistaan tersebut hanya diketahui oleh
beberapa orang saja dan keluarganya tetap dapat hidup bahagia. tapi, ia sendiri
tidak tahu apakah itu ialah pilihan terbaik atau tidak. Justin tidak dapat
berkata apa-apa. ia hanya diam menatap tangis perempuan di depannya.
Jumat, Sabtu,
dan Senin Fransisca tidak masuk sekolah kembali. pesan Justin lewat BlackBerry dan WhatsApp tidak masuk. nomor telepon genggam Fransisca juga tidak
aktif. di tiga hari itulah pikiran Justin mulai menggumpalkan rencana dan ia
menuntaskannya pada Selasa sebagai bentuk penegakan keadilan demi keluarga
kekasihnya.
***
seorang agen
polisi punya kewenangan untuk mencari keterangan tentang segala hal terhadap
peristiwa itu. ia ditunjuk oleh ketua timnya untuk menangani subperkara. bila siang
tadi ia memperoleh keterangan dari Justin, maka petang itu ia duduk di sebuah
kursi di ruang interogasi di lantai tiga untuk mencari klarifikasi dari saksi. kali
ini, ibu Justin berada di depannya. beragam pertanyaan primer dan pertanyaan
insidental muncul untuk ibu Justin. ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu
dengan baik dan hati-hati sebab ia terkesan berusaha melindungi Justin. tentu ia
punya trik-trik khusus untuk membuka pendaman-pendaman keterangan dari saksi. tidak
semua jawaban dicatat oleh agen tersebut karena ia hanya menemukan satu benang
merah terhadap kasus pagi tadi.
Justin adalah
anak kedua. anak pertama mereka ialah seorang perempuan, dua tahun lebih tua
dari Justin dan kini sedang belajar di National University of Singapore. mereka
termasuk keluarga kaya-terpandang dan membatasi pergerakan mereka untuk bergaul
dengan tetangga-tetangga keturunan Cina saja. ayah Justin dan dua saudaranya
punya bisnis Tour and Travel besar ke mancanegara dan berpusat di Surabaya.
maka jadi hal biasa jika ayah Justin sering tidak berada di rumah untuk
mengurus bisnis tersebut. ibu Justin hanya seorang rumahan biasa dan ditemani
dua orang: laki-laki dan perempuan pembantu.
jika kakak
perempuan Justin senang keluar untuk bermain bersama teman-teman SMP dan
SMA-nya, maka tidak dengan Justin. Justin termasuk anak introver dan
teman-teman dekatnya dapat dihitung dengan jari. itu pun semuanya ialah
anak-anak keturunan Cina. sejak SMP, ia memang suka mengurung diri di kamar
dengan pintu tidak sepenuhnya tertutup. ia kerap terlihat duduk di depan monitor
komputer dan layar monitor itu membelakangi pintu sehingga orang-orang di luar
kamarnya tidak dapat melihat langsung tayangan pada monitor.
saat Justin
berkelas 8, ibu Justin pernah masuk ke kamar anaknya untuk mengambil pakaian
kotor. saat itu Justin sedang tidur dengan monitor masih menyala. ibu Justin
iseng melihat monitor itu dan ia terkejut ketika di monitor tersebut terdapat banyak
foto perempuan-perempuan Cina. mereka semua tampil cantik dengan sebagian besar
dari mereka berlengan dan berpaha terbuka. tapi, mereka tampak bukan
perempuan-perempuan muda. mereka semua berwajah tidak terlalu muda dan tidak
terlalu tua. kisaran umurnya antara 35-45 kalau boleh ia simpulkan.
ibu Justin pun mencoba
menggunakan mouse untuk melihat ke
atas dan ke bawah. tidak ada di antara foto-foto itu ia kenal. namun, ketika ia
membuka folder lain karena di sana
tertulis nama temannya, maka ia amat terkejut ketika ia melihat foto-foto ibu
Fransisca di sana. folder itu khusus
menyimpan foto-foto teman gerejanya itu. semuanya dalam berbagai pose seksi dan
tampak diambil secara sembunyi-sembunyi melalui kamera beresolusi tinggi.
sejak Justin masih
balita hingga duduk di sekolah dasar, ibu Fransisca memang suka menciumi anak
lelaki itu di wajah. untuk ibu Justin, hal itu ia anggap sebagai ungkapan kasih
sayang belaka dalam ikatan pertemanan antarkeluarga. kebiasaan ibu Fransisca
tersebut berhenti ketika Justin telah dianggap dewasa saat baru masuk ke SMP.
ia sendiri tidak pernah melakukan hal itu kepada anak lelakinya. mungkin itulah
sebab Justin mengumpulkan foto-foto tersebut sebagai bentuk kerinduan kasih
sayang.
ia tidak
berpikir jauh mengenai hal itu. memang ia sempat berdiskusi dengan ayah Justin,
namun mereka tidak menemukan jalur sama sekali untuk menarik satu atau dua
kesimpulan logis. sejak saat itu, ibu Justin mencoba untuk melakukan pengintaian
seperti itu kembali untuk menyelidiki bila ada kesempatan tatkala masuk ke
kamar Justin, namun monitor di layar kerap mati atau menampilkan hal lain tanpa
menimbulkan kecurigaan. ketika Justin punya laptop sejak masuk SMA, ia juga
berusaha untuk melihat monitor layar tersebut bila punya peluang, tapi tidak
ada keganjilan di sana. lama-kelamaan kecurigaan mereka pun memudar dan
akhirnya hilang.
banyak hal
diceritakan oleh ibu Justin sehingga menghabiskan waktu sekitar dua jam, namun
keterangan penting itu baru muncul belakangan. setelah merasa cukup, agen itu
membolehkan ibu Justin untuk pulang. ibu Justin tidak tahu bahwa sang agen telah
merekam percakapan itu. keterangan itu menjadi sidik jari berharga pada kasus
tersebut dan ia akan menyampaikannya di rapat tim. segalanya akan menjadi jelas
dengan sidik jari di tangannya kendati Justin sendiri tidak membukanya. ia
yakin bahwa percampuran antara keterangan Justin sebelumnya dan sidik jari terbaru
itu akan membuat Justin mengakui motif aksinya. ia juga yakin bahwa media massa
lokal dan nasional akan sangat senang dengan kesimpulan di belakang nanti mengenai
motif pelaku sebab peristiwa ini termasuk anomali dalam pidana.
Pasuruan,
Juni 2016
*