Sabtu, 10 September 2011

Karikatur Malam Milik Tuhan

         : Matahari

dengar! dengarkan satu gegap gempita di atas sana.
Tuhan mulai tumpahkan wangi jingga
pada riak-riak lelah dalam tidur.
-
Ia persuakan diriku dengan garis-garis ungu.
garis-garis meracau dan membius
serupa jasad tajam membungkam.
-
seperti puisi, rangka-rangka itu terhidang lalu memikat.
ujung puncaknya terkulai di awang-awang
dengan jalur sinar-sinar melandung.
-
nur-nur menggumpal di tentang.
satu depa; perempuan.
astaga!
ia menjorok, berkontak
lantas luluhkan hati menjadi huruf-huruf kuyu.
-
dua cuil matamu saksama lemparkan hina.
tebaran senyummu adalah racun.
penuh ranjau dan hardik.
lalu tiba-tiba kau lari memelukku
kala mata kita bertatap. serta merta kau menggigit bibir ini.
tassst…
-
… terjengkang.
tergeletak beriring kekalutan menyeramkan.
kau telungkupi raga ini. dingin
hingga kita menyatu
bersama gemerincing tangis membiru.
-
saat gerutup semu terpiuh, aku terkesiap.
melalui jendela
kusaksikan malam masih melamban.
tergosok kerlip bintang-bintang
seiring deru angin terbata-bata.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Di Tepi Kanal

         : Matahari

di tepian ini
sejarah pernah sajikan dua nyawa.
saling menimbang tara dan benturkan bisik-bisik mesra.
kujilati suhu tubuhmu
dan kau selalu melalap habis lekuk dan gerakku.
-
jika perumpamaan, maka kita adalah kerdil terasing.
mulia dalam hening badai menawan.
-
seiring ceceran tetes-tetes bius di pedalaman nurani
kita mengidam. tentang sengat-sengat muda
juga visualisasi hambar namun berat.
segalanya, kita gugah dalam derai-derai rotasi
hingga petang meraih kita
dengan cintanya.
-
tapi, sampiran ciri-ciri kita pada tingkap tidur telah lapuk.
berjajar cela dan loreng di sana
tanpa sengketa.
-
ini adalah karamnya petaka di dasar pasir kegundahan.
pengap-patah menyemburat,
menggedor-gedor pitam,
dan beberkan jaring-jaring senjang amat menyakitkan.
dan …
tiba-tiba saja aku terngiang.
terpana pada satu niscaya memaksa.
-
di tepian ini
dengan lantang aku menyesap kesah.
melebihi garis duka
agar pahit berangsur reda.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Sarang Laba-laba

         : Matahari

aku adalah penyair.
dengan kepingan kata-tanda kucipta ornamen-ornamen impresif
seperti laba-laba di atas sana.
-
sajak-sajakku berbingkai. kau boleh menyebutnya sarang.
ya, sarang penuh tali-temali telanjang.
bersiku, sempit antarjarak, juga ringan.
-
o.. o.. ow…
jangan kau terka bahwa kalimat-kalimatku adalah elegi.
memuat kelabilan dan payah berlarat-larat.
sungguh, kau terlalu lelah jika bermimik seperti itu.
-
ini adalah jerat halus dan licin.
mampu menandaskan tumbal sampai ke ulu ajal.
sekali tertikam, maka keriuhan simpul-simpulnya akan membebat.
melibas sang korban hingga terbantai dan tergilas.
-
tapi, itu hanyalah embusan kisah lapat-lapat tentang masa lalu.
segar untuk telinga, namun hanya kecumik bila dibaca.
-
kini, bait-baitku kehilangan mara.
sebuah lantunan nujum berkata bahwa syair-syairku tak lagi lincah.
semua terkikis karena cinta.
ya, cinta. cinta mengejang pada satu waktu.
timbulkan infeksi dan demam meremukkan.
-
aksara-aksara terkoyak.
menderik. jeritkan nyeri akibat erosi
lantas jadi remah-remah tanpa titah.
berserakan di antara perdu-perdu kekacauan.
-
jadi bagaimana,
apa kau sudi menganggapku sebagai penyair?
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Gerhana Matahari

         : Matahari

di satu terik berat
kulihat kerlap surya tersentuh oleh tualang.
sensor cahayanya terengkuh,
juga hangatnya raib untuk dijimpit.
-
dari balik tabung suram telentang, kau berbisik.
“cinta ini bukan untukmu”.
aku mengerlip sejenak
lantas kubalas gaung itu dengan kokok keberangan.
dan kau pun tersumbat oleh penjara,
kernyitkan reputasiku pada lirih sang tepi.
-
dalam kelugasan, langitku berkaca-kaca.
sengat mencengkeram posisi.
tempelkan janin hitam seiring tenggat
sebagai cikal bakal alergi dan infeksi.
seperti satu tawa, sekadar sisa.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*