Kamis, 08 Oktober 2020

Saling Peluk di Kubur

aku masih bicara kepada cermin dan
memasang kemenyan di depan senyum abadimu
tatkala gelap kian mencekik biji-biji proletar.
sikapku terengah-engah dan tingkahku wajar-wajar saja.
tiada insting jika diamku nanti takkan pernah siuman lagi.
.
di dalam tempurung misterius,
kujelajahi jalan-jalan rahasia, buram dan memanjang.
sendirian. kupikir ini destinasi palsu suatu poros sebuah bidang.
tak ada santriwati, peragawati, maupun dewi-dewi.
bagai benturan peradaban sedang kobarkan silaturahmi.
.
ketika ikatan anonim tersebut kolaps, aku
hadir dan menyaksikan defile ratapan menderu di ruang tamu.
strata-strata kaku bercampur di mangkuk meritokrasi.
satu kolase klasik di mana sekat-sekat predikat
mengalami katastrofe kerukunan.
mengangkut rahimku ke tampah kebudayaan.
.
aku pamit dari membesut naga-naga.
derajatku hayati ahimsa saat mereka menghiburku di gapura.
air kitab sastra ditabur lalu si sulung mengunggah api di podium.
para pengamat mulai menyebut-nyebut nama, padahal aku
telah mengakrabi permaisuri di bawah pura.
.
Pasuruan, September 2020