aku masih
bicara kepada cermin dan
memasang
kemenyan di depan senyum abadimu
tatkala gelap
kian mencekik biji-biji proletar.
sikapku
terengah-engah dan tingkahku wajar-wajar saja.
tiada
insting jika diamku nanti takkan pernah siuman lagi.
.
di dalam
tempurung misterius,
kujelajahi
jalan-jalan rahasia, buram dan memanjang.
sendirian.
kupikir ini destinasi palsu suatu poros sebuah bidang.
tak ada
santriwati, peragawati, maupun dewi-dewi.
bagai
benturan peradaban sedang kobarkan silaturahmi.
.
ketika
ikatan anonim tersebut kolaps, aku
hadir dan
menyaksikan defile ratapan menderu di ruang tamu.
strata-strata
kaku bercampur di mangkuk meritokrasi.
satu kolase
klasik di mana sekat-sekat predikat
mengalami
katastrofe kerukunan.
mengangkut rahimku
ke tampah kebudayaan.
.
aku pamit dari
membesut naga-naga.
derajatku hayati
ahimsa saat mereka menghiburku di gapura.
air kitab
sastra ditabur lalu si sulung mengunggah api di podium.
para
pengamat mulai menyebut-nyebut nama, padahal aku
telah
mengakrabi permaisuri di bawah pura.
.
Pasuruan,
September 2020
*