: Matahari
di tepian ini
sejarah pernah sajikan dua nyawa.
saling menimbang tara dan benturkan bisik-bisik mesra.
kujilati suhu tubuhmu
dan kau selalu melalap habis lekuk dan gerakku.
-
jika perumpamaan, maka kita adalah kerdil terasing.
mulia dalam hening badai menawan.
-
seiring ceceran tetes-tetes bius di pedalaman nurani
kita mengidam. tentang sengat-sengat muda
juga visualisasi hambar namun berat.
segalanya, kita gugah dalam derai-derai rotasi
hingga petang meraih kita
dengan cintanya.
-
tapi, sampiran ciri-ciri kita pada tingkap tidur telah lapuk.
berjajar cela dan loreng di sana
tanpa sengketa.
-
ini adalah karamnya petaka di dasar pasir kegundahan.
pengap-patah menyemburat,
menggedor-gedor pitam,
dan beberkan jaring-jaring senjang amat menyakitkan.
dan …
tiba-tiba saja aku terngiang.
terpana pada satu niscaya memaksa.
-
di tepian ini
dengan lantang aku menyesap kesah.
melebihi garis duka
agar pahit berangsur reda.
-
Pasuruan, Agustus 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar