Jumat, 03 April 2015

Damini

karya Khoirul Anam, Juni 2015 

hai manusia!
tak semua konflik adalah berhala.
bukan pula seteru menjijikkan, partner delusif
di stan-stan keseimbangan.
-
penting disulut pada jalur hijau kecerdikan
bahwa tangga talenta selalu tunduk
di bawah lutut.
ruang geraknya tak kan pernah berani tukangi kelahi
terhadap rutinitas tipikal. kecuali,
mereka tertantang lantaran tema-tema berkala
terkena demam – atau setidaknya
perabot-perabot iman sedang tidak berkemeja,
tidak bercelana.
-
kawan, cobalah
‘tuk mereda kontraksi kejutan di sana sebentar
lalu sumbangkanlah pejam pada ilham.
-
bila kau percaya diri pada isbat itu
maka ganggulah. sedikit berfilsafatlah secara primitif:
apakah Tuhan memang usil
ketika menyembelih pekan-pekan berlevel pelangi
saat kau masih tersihir dan tersenyum
kepada peradaban betina?
-
pemenggalan misterius itu jelas merupakan telegram.
tiada veto sanggup membunuhnya.
anggap saja keburukan itu
seperti perjudian tak beruntai hoki,
seperti persaingan tak berganjal koalisi.
ributilah sensasi-sensasi galaknya,
juga caci makilah bisnis-bisnis mayornya.
desak pula aura-aura depresinya supaya kau sehat
dan sembuh dari benalu-benalu klimaksnya.
berkhidmatlah bersama kualitas sesungguhnya
tentang bagaimana
kau mesti menggarap kemuliaan normatif
di butik mahasuci sebagai agen revolusi.
jangan sampai tersandera oleh kungkung madani
sebab ia cuma mengelabui. jadilah damini
agar mampu kau kejar etape-etape teranyar berikutnya
dalam stadium elegan penuh kosakata.
-
ujung pena tentu belum beku.
kau dapat corat-coreti labirin romansamu
melalui ranah ketauhidan. ingatlah,
Ia hanya ingin membayar kehancuran
dan kelacuran klien-klienNya
dengan harga terhormat. kita
terpajang dan terjebak pada teater ini
tanpa bisa campuri dan jarah tali cerita, sekali pun.
tapi, – selaku desainer mahasakti nan mahaasih –
Ia tahu mana saja editorial tersip
untuk ternak-ternak milikNya
kendati durjana menjadi satu-satunya kenduri.
-
Sleman, Maret 2015

*