Jumat, 09 Agustus 2019

Penembak Cahaya

bulan sabit berbinar. energinya menombak malam.
duduk di kamar, tatapanku mendaki lereng tujuan.
.
di kebun sayur-buah rimbun, dulu
model kulturku hanya menunggu dan diam.
cita rasa mendamba paras Minangkabau
tanpa pernah menggamit. sosok pramugari mendekat
ke penganut Jawa, tapi benak dan logat tak mereguk acara.
.
seberkas igauan menginjak anak tangga biru muda.
bait-bait motoriknya menghibur bagai balerina.
sesekali terpancar sore di keningnya, terangi pohon kakuku.
sekilas ia anggun lalu menggonggong. 
.
ia maki mimbar bakuku karena salah menjalar.
rutinitas sadarku juga remeh mengitar.
ia menebas riasan di rongga-rongga guram.
memendam bakatku ke puri multidimensi.
.
ia menasihati bahwa juara pernah tunakarya.
jiwa besar mampu meraih sekarung anggapan.
ia mendorongku agar membalik nol.
tiada daging dan susu bila beternak boneka.

         tiba-tiba ia berjarak, berpencar, beredar, menghilang...

bak gembel tak lengah, kubedah strategi tunggal
dengan trik Yunani. muka kupajang di ketinggian,
pantat kuturunkan ke kubangan pagi.
.
lintasan bening dan parameter harian kusedia.
canting penebal muslihat kupetik langsung dari teras cendekia.
.
empat putaran barzanji kulepas di hitam-putihnya agenda.
keranda kematian melebur, terganti gerobak mandiri.
sang noni memeriksa kabinku dalam-dalam.
ikatan batin kita memilin, jurnal hidayah kita menukil.
.
rahmat menusuk atma. strata-strata hayati saling bertegur sapa.
petak-petak keramat kami terendam di palung wangi.
si salmon dan si putri malu bergandengan tangan,
dalami kulminasi lewat refrein perapian.
.
Surabaya, Juli 2019

*

Selasa, 09 Juli 2019

Kenikmatan Sesaat

saat kanak, kosakata pergerakan samar menggapai langkah.
titik-titik tunggal berbenah.
kain-kain kosong dipanjati tembang dan adegan.
mengukur kepingan.
.
sarung dan peci hitam hampir selalu menggandeng nyawa.
perilaku suarakan derit dan denting dewata.
pasukan langit terang-benderang penuhi pura-pura merah,
nyanyikan teks-teks purba di kuncup-kuncup gulita.
.
lalu nasib melempar polan ke suatu kerumunan
di atas karpet di satu kota. mula-mula lidah masih berzikir
dan meletakkan pangkal respirasi di pintu semesta.
lambat laun gundik-gundik peradaban memeras persembahan.
induk semang dibunuh mesin kapitalisme.
.
sajadah berubah jadi embung busuk.
menara-menara bertingkat terbenam ke lubang-lubang api.
panji-panji positif hijrah ke madu semu.
pindah ke pesulap absurd atau taat kepada pendeta feodal.
menyambut reputasi melalui tender-tender sakti.
.
manekin-manekin cacat banjiri lidah.
jala para babi menekan kuping. pening.
masing-masing pedoman serong ke dapur musibah.
galeri setan menggetah sempurna.
sehari-hari pikun menjuntai.
.
ialah tamu murahan. mengayun sejenak namun dalam.
perca-perca bahagia tersuling ke wajah kriminal.
merangkai pola pikir abu-abu, menyusu pada bambu cekak.
dikekang pajak.
.
helai-helai upaya tertahan di pundak senja.
serat-serat kerendahan hati tercabik-cabik di pelana lamunan.
menemukan tujuan dan memandu perilaku.
buku dan bukti hanyalah distorsi sebab Tuhan senantiasa
membuka perbincangan bagi musafir miskin nan kelimpungan.
.
Surabaya, Mei-Juni 2019

*

Jumat, 03 Mei 2019

Pengantin Remaja

Mas, bab-bab duet kita
akan ditampung dalam novel kencana.
persilangan bakat menempuh keluarga. tapi,
lanskap luhurku tentang deretan sederhana kemarin
masih membayang. jadi, kau perlu tahu
kaliber peduliku supaya pretensimu tidak buta.
.
Mas, aku belum paham aturan main,
pun simpang-simpang primermu.
aku sebatas calon istri tak merdeka,
patuh pada hasil tarot orang tua.
sebelumnya, kukenal ayam jantan lain.
jati diri dan masa depannya terang-benderang.
simulasi rumah dan mainan kita tergambar,
disusun dan dihitung dengan lirih dan mapan.
namun mereka mencabut siaran
lantaran jumlah usuk hidup kami terlalu bertolak belakang.
.
Mas, akulah bakal abdi halalmu.
beringin dan zaitun kan terbuka untuk kauserap restunya.
hajat dan niat orang tua pastilah lebih putih
daripada selera dan etika kita berdua. maka,
izinkan aku membereskan alam di luar galaksi
agar riwayat kita semata-mata jatuh dan tertambat di kebun merpati.
.
Surabaya, April 2019

*

Rabu, 10 April 2019

Mengunci Ingatan

entah setan dari lapis mana pulihkan daya.
oceh tidak, komentar tidak. ujug-ujug jatuh di selat mata.
.
benteng-benteng sistem terbabat. benang-benang kompetensi terlumat.
mereka pojokkan adat individu ke tangsi kerontang.
.
sebetulnya aku sudah mempan menangkap lupa,
menganggap keping fiktif ialah gagasan kering semata.
nyatanya, badai megah.
.
kerut mimik, pantat, wangi, tato, anting, dan mahar patuhnya
menindih mimbar malam hingga subuh.
kusangka berita acara itu lunas di atas tikar, ternyata
matra-matra terjalnya masih berdenyut sebagian.
.
televisi di otakku menyala, dedahkan rupa telanjang
perihal warna-warni di mana garis-garis jiwa terbaring,
terdampar miring. sebuah tur identitas tayang,
memutar suara baku dan visual sendu.
.
kucoba saja menipu karya sang seniman,
menggugat sesi-sesi lugas bak hama korosif agar
tak tegak mendendang jeram. namun, jengkal-jengkal bencana
telanjur merundung sekotak soja.
menggiring malu ke depan laguna ingatan.
.
ingin sekali kuserahkan aura legit ini
ke satu gudang di alas bumi tergersang.
membungkusnya dengan peti sederhana dan pasir emas.
bila sekadar hanyut, kembali ia kan bisa jelajahi kembara
ke tajuk-tajuk dirgantara. mereduksi laga atau malah menubuhi
pilar-pilar lelakiku secara radikal.
.
Surabaya, Maret 2019

*