Minggu, 10 Juli 2011

Telepati

         : Matahari

sari-sari, aku temukan cemberut pada gagang hati.
relief-relief di sana hidangkan timpang
seperti arometerapi tawar, bubuhkan dilema.
-
hai sayang, sudahkan kau aktifkan lampion telepatimu?
-
aku masih berdiri di selit canggung, tanpa kopi.
ingin sekali kuziarahi paru-parumu
untuk kupagut
atau sekadar memahat tujuh daging sucimu
dengan motif cinta.
atau, kutindik saja sukma bening itu
dengan anting-anting asmara.
-
ambisi picik ini harusnya terdengar di sana.
setidaknya, beberapa legiun maharku mampu menyergap.
tapi diammu terburu mengebiri tanpa indikasi.
-
kala jenuh, pernah kulayang banyak upeti. seketika
coba melawan kaku, terbeber di atas rumput
agar mampu kumenghafal tanah basah pada bibirmu.
ingin kupinang dengan air hujan
namun kau tak berkutik.
-
kini, pada kepulan pejam ini
tak lagi kumenyelam dalam pot-pot palsu.
semuanya telah kedap.
riak-riak jingkrak tersisa pun akan segera luluh.
mengalir bersama kuah curiga dan bimbang.
lantas, sendi-sendi teramputasi akan enyahkanku
dari rayu peraduan.
-
Sleman, Juni 2011

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar