Minggu, 04 Desember 2016

Dipertemukan dalam Darah

aku selalu bingung terhadap bulan
mengapa ia menderai ayat-ayat cantiknya
untuk kagumi riwayat kami. semestinya
ia hanya jadi cakra universal di balik pagi
dan pelipur gamang dan berang ‘tuk para ikan-ikan.
-
saat masih bocah, ia pernah berbisik
saat aku gembur di masa-masa terbuka.
tak cuma satu-dua jejak belaka.
bercerita perihal banyak fatamorgana, tapi
ia punya fail spesial di mana lantunannya mengalami duplikasi.
kutenangkan zuhud, namun mustahil mendapat redup.
amplitudo kian memanas.
seismograf mengetik kenangan pada lempeng pedoman.
aku terbenam dan terjun ke lambung pengendapan.
-
sejak monoteisme itu muncul dan terus merayu,
perlahan-lahan kuping dan hidungku mampu
menerawang suatu kepantasan.
segala pragerak-praungkap sang putri
sanggup kucatat dan simpan dengan mudah.
tiada politik maupun kisruh di sana kecuali
federasi pemasok hormat antarmanusia.
kami dipenuhi beda, tetapi lekas pulih karena rasa.
-
aku sebenarnya tidak percaya jika simbiosis tersebut
ternyata bukanlah asumsi datar atau sempit.
organ-organ parsial kami telah terkendali.
menyala di dalam akuarium despotis
seiring naik-turunnya akidah dan budi pekerti.
kami adalah contoh bahwa sekar bisa dipupuk
sebelum pancaindera membangun manggala.
dan kami pun siap dibingkai jenazah
sekaligus menjadi objek taksidermi di hutan multiarah.
-
Pasuruan, November 2016

*

Kamis, 10 November 2016

Kasta

telah lama mudaku jongkok dengan artikulasi bergelombang.
alfabet dan ejaan terbaring baku seperti
tersuruh bungkuk di antara lengking-lengking bengawan.
apakah islah sedang dikotomi?
-
segala dekorasi verbal sia-sia.
bungker-bungker fantasi terperas sempurna.
pagar dan tembok bagai kelambu,
rahasia nisbi tersunggi kembali di sekaratnya lajang.
apakah getah fikih gemar memburu bakat seniman?
-
biksu-biksu itu berpikir bahwa letak warna
ada di generalisasi semata.
tuyul-tuyul gimbal di sana jua berukur bahwa
biji-biji pertobatan tidak bisa dihadirkan di rawa kebebasan.
khazanah kemulian bukan untuk kaum fantastis belaka,
namun para kurcaci, serangga, dan sampah pula.
lihatlah! gadisku hambur, biniku tenggelam.
ditanggul kriteria sekencang-kencangnya,
disekat kebangsaan segarang-garangnya.
-
siangku kini di selatan.
melebar dan mengudara bersama elegi kekanak-kanakan.
alih-alih memadatkan perwira,
dasamorseku tak teduh di zona gelora.
bak badut bujang, gitar pun enggan menukil satu seriosa.
-
Pasuruan, Oktober 2016

*

Minggu, 02 Oktober 2016

Buku Takdir

kalimat-kalimat sastra terdorong lewati tangga.
foto-foto riwayat juga bergerak romantis.
bahasa hangat berderai di kabin-kabin liat.
kudusnya membingkai harkat.
-
simpangan diameter sudah maklum.
perimeter interaktif telah progresif.
rambu dan syarat kekalkan bunyi,
pualam ungu menjaga syahadat aji.
-
baku pandang menulis dian, gelar suara menenun lilin.
menggapai perigi, menempuh safari.
-
partikel-partikel lada pernah mendonor temaram.
debu-debu tengik pun turut membadai.
namun genting dapat kering dan hitam-hitam
bisa menumpul di pesisir.
azan membela benar selama otak tak lupa melangkah.
syukur disebut, perang dipulang.
-
nebula kebanggaan terbaca.
alfabet-alfabet apiknya tuturkan epilog.
dua cula tersimpul dan diarsir kain cerah.
bisiki manusia tentang bumi kami
di tempat jelata.
-
Pasuruan, September 2016

*

Sabtu, 10 September 2016

Dan Kita Kehilangan Cinta di Sini

setan. dendam ultrasoniknya menguras masa depan.
mengirim jurang merah melewati bait-bait rasio.
banjiri kulit dan daging dengan racun kadir.
gegana lengser dan navigasi gagal terbaca.
-
lincahnya tsunami hanyutkan jasad dan kitab.
momentum untuk membina dimensi
dan mengelola mihrab privat lumpuh.
bayang-bayang jatuh ke dalam kosong.
waham tumbuh di belakang lara.
-
rembesan kemelut lubangi kwartir-kwartir ideal.
mimik-mimik gaduh menyala matang.
lorong-lorong cadangan suarakan sia-sia
dan mengangkat bungkam.
pulang jadi bangkai, datang pun tak tempuh damai.
-
katup nasab pecah. lenggak-lenggok rayu padam bertingkah.
sebenarnya bukan benci, tapi uji.
namun logaritma kalam terlalu kokoh dibubuhkan.
awal mencair, cedera memberat di permadani apkir.
-
setan. cabang-cabang peletnya merusak keadilan.
jala-jala kebatilannya seperti momok penagih mojang.
-
Pasuruan, Agustus 2016

*

Rabu, 03 Agustus 2016

Memetik Kunang-kunang di Kota Kenangan

medan salam kita tak lagi hangat.
lagu-lagu sakral kita juga tampak kurus dan hampa.
pijar-pijar pesona menipis dan melambat
bersama keengganan untuk tertawa dan memuja.
-
madu tidak pernah turun dari pohon selera kembali.
kulum-kulum delusi mengedor-gedor segala pahit kemungkinan.
tengara pupus mulai tangkas menagih piagam.
-
suamiku, kita hampir bercucu dan makin menggersang.
bayi-bayi kita memadat di warna-warni ruang-ruang perburuan.
apakah nama-nama itu mesti diinjak-injak
ke kutub-kutub nestapa?
-
dengus pluralisme antara aku dan kau
telah tumpul dan goyah.
silabus kongsi dan proteksi tersapu jeladri penafsiran.
maulid-maulid kesalehan diam tanpa kostum autentik.
maka, haruskah zahir kita menangkap kesal dan letih tersebut
lantas memusatkannya di atas piring-piring kotor?
-
bila langitku terlalu dalam menerpa,
aku siap dirantai dan dijemur sebagai tera. tapi,
jangan ceraikan pusaka dan derajat benua syariat ini
lantaran memoar sayang kita dipelihara
oleh mukjizat-mukjizat sejak kali pertama kita berpurbakala.
kita mahasiswa, masih perlu dewasakan akal
sepanjang lever tetap bertengger.
-
Pasuruan, Juli 2016

*

Sabtu, 02 Juli 2016

Justin Kristanto

sebenarnya, Justin Kristanto punya mental dan kecerdasan di atas rata-rata temannya. ia spesial di mata dan hati para guru. sebagai laki-laki keturunan Cina di Kota Kraksaan, ia sama sekali tidak mendapat jamahan rasis di lingkungan SMA.

perawakannya biasa: kurus, tinggi, dan pembedanya adalah kacamata. ia murah senyum kepada semua orang. setiap hari ia diantar ke sekolah dengan mobil CR-V hitam oleh seorang sopir. kadang-kadang anjing Siberian Husky ikut mengantar ke sekolah. teman-temannya hanya suka melihat anjing itu ketika turun untuk berpisah dengan Justin jika kebetulan mereka berada dekat di sana. mereka tidak berani mendekat atau malah mengelusnya.

beberapa kali, Justin juga terlihat keluar dari mobilnya bersama Fransisca. dulu, kali pertama mereka keluar bersama dari mobil itu, beberapa teman mereka melihatnya sebagai saksi. sejak saat itu terjadi kesepakatan tak tertulis antara Justin, Fransisca, dan juga teman-teman mereka bahwa Justin milik Fransisca dan Fransisca milik Justin. tidak ada satu pun omongan atau pergerakan di luar mereka berdua untuk mengganggu hubungan itu. mereka semua telah menetapkan teritorialnya untuk tidak masuk ke teritorial milik Justin dan Fransisca. persamaan mereka ialah sama-sama keturunan Cina dan beragama Katolik sehingga batas teritorial mereka benar-benar kental.

untuk ukuran perempuan keturunan Cina, Fransisca termasuk remaji cantik. semua kawan betah memandangi wajah dan kelak-kelok tubuhnya saat diam atau berjalan. ia punya adab dan dapat menempatkan dirinya dengan baik dan benar sebagai Cina dan Katolik di antara teman-teman Jawa dan Islamnya, juga para guru. sesekali ia terlihat bersama Justin di kantin atau di perpustakaan, namun ia juga dapat bergaul dengan teman-teman lain secara terbuka. gaya berpakaiannya sederhana dan ia juga dapat “menggila” saat bercanda dengan teman-teman perempuan kelasnya. ia duduk di kelas 10 sedangkan Justin berada di kelas 12.

tak seorang pun tahu bagaimana Justin dan Fransisca dapat membuat teritorial mereka. di luar sana, mungkin saja ada keluarga atau kenalan mereka sebagai mediator untuk mempertemukan Justin dan Fransisca. entah bagaimana jalannya tiba-tiba saja mereka sudah terlihat lekat setelah pekan ketiga tahun baru ajaran sekolah dengan ditandai kebersamaan mereka berangkat ke sekolah dengan mobil Justin. tentu ada beberapa kasak-kusuk tak berdasar untuk menyimpulkan awal hubungan mereka, namun tak satu pun dari asumsi itu mendapat kepastian.

jika Justin ditanya, maka ia mengata bahwa Fransisca hanyalah teman biasa. kedekatan mereka memang hanya disebabkan oleh kesamaan ras dan pilihan religi. ia tidak menampik bahwa kesamaan itu membuatnya sedikit lebih nyaman daripada teman-teman lain. bila Fransisca ditanya, maka ia menjawab bahwa kedekatan itu merupakan proses alami seperti ia dekat dengan teman-teman lain. dalihnya tentu menimbulkan kecurigaan, namun teman-temannya tidak sampai mengejar penjelasan itu lebih detail.

***

tiga bulan berlalu. para siswa kelas 10 sudah tampak kerasan dan mengetahui seluk-beluk lingkungan dan kegiatan sekolah. juga, mereka dapat akrab dengan teman-teman baru. keceriaan datang silih berganti kepada mereka di lingkungan sekolah. untuk kelas 12, mereka mulai berpikir untuk menghadapi Ujian Nasional pada semester depan. sedikit tegang, mungkin iya. namun, mereka mencoba untuk menyantaikannya agar tak jadi gila.

pagi itu, segalanya terasa normal untuk hari bersekolah. Justin turun dari mobil dengan perasaan tenang. tapi, tidak ada raut kesenangan saat berpamitan dengan sang sopir. ia berjalan biasa dan tidak antusias untuk melihat situasi di sekitarnya. sebelum masuk kelas, ia dihadang beberapa orang remaji. teman-teman Fransisca bertanya perihal ketidakhadiran Fransisca beberapa hari belakangan. tidak ada surat keterangan apa pun datang ke sekolah untuk mengidentifikasi keberadaan atau kondisinya. kabar juga tak berbalas melalui pesan pendek dan juga media sosial. mereka berasumsi bahwa remaja di depan mereka tahu perihal Fransisca, namun Justin hanya menatap teman-teman itu dengan nanar semata. tanpa jawaban, ia langsung masuk ke kelas dan membuat bingung remaji-remaji di belakangnya.

di dalam kelas, Justin segera duduk. keriuhan teman-temannya di sekitar tidak membuatnya terganggu dan juga tidak membuatnya beranjak untuk turut. ia merenungkan sesuatu secara mendalam. banyak pertimbangan ia munculkan dan satu per satu menghilang lantaran sudah ia tentukan. satu pekan telah ia lewati dengan perasaan hambar untuk menatap dunia. tapi hari itu, kehambarannya malah menjadi-jadi. ia tak lagi bersemangat dan malah apatis untuk jalani hari. ia merasa yakin terhadap kemampuannya dan ia punya hak untuk membuat takdir pribadi.

bel berteriak tiga kali, menandakan siswa-siswi mesti masuk ke kelas. satu per satu siswa-siswa duduk di kursinya. teman semeja Justin beberapa hari belakangan mencoba untuk bertanya dan menghiburnya lantaran ia tahu bahwa teman semejanya itu sedang mendapat masalah. kali ini, ia tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan Justin kendati hasilnya tidak ada. setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa ia siap untuk berempati bila ada keterangan darinya.

hari itu ialah Selasa. jantung Justin kian berdebar-debar, tapi tubuhnya tetap seperti biasa: tenang. tanpa cucuran keringat, ia menanti. ia sedang bersiap untuk pergi dari kursi dan mejanya. ia hanya menunggu momen terbaik di mana segalanya akan menjadi lancar sesuai rencana. dari luar datanglah seorang laki-laki guru. ia berjalan santai melewati papan tulis sambil tersenyum kepada siswa-siswi lalu meletakkan tas jinjingnya di meja guru.

suasana kelas beranjak hening ketika siswa-siswi tahu kedatangan guru mereka. guru itu masih berdiri dan memerintahkan siswa pemimpin doa untuk membimbing siswa-siswi di kelas itu untuk berdoa menurut kepercayaan masing-masing. kesunyian momen untuk doa sejenak dilakukan hingga selesai kemudian guru itu duduk di kursinya, di pojok di seberang pintu masuk. melalui wajahnya, dapat diketahui bahwa guru itu sudah agak berumur. kira-kira 50-an. banyak rambutnya sudah dan mulai memutih. ia mengeluarkan kacamata dari saku-depan-kanan kemejanya lalu mengeluarkan buku-buku dari dalam tas.

para siswa serentak mengeluarkan buku-buku tentang pelajaran Fisika tanpa dikomando. mereka juga menyiapkan peralatan tulis di atas meja. seorang siswa tidak melakukan hal itu. tidak ada apa-apa di atas meja Justin. ia hanya diam, agak tertunduk, dan sedang mengerutkan dahi. teman semejanya melihat Justin sedang bermasalah sehingga secara spontan ia berkata bahwa sebaiknya Justin pulang jika dalam keadaan tidak baik. kali ini Justin mendengar sang teman. kerut di dahinya hilang. ia menatap temannya lalu tersenyum. teman Justin lega melihat ekspresi itu. ia merasa bahwa usahanya selama ini telah berhasil. Justin hanya mengucap terima kasih.

sang teman melihat Justin mengambil tas lalu pergi dari sampingnya. kolom duduk mereka tegak lurus dengan meja sang guru sehingga Justin hanya perlu berjalan ke depan. dengan tas dijinjing di tangan kiri, ia menghampiri sang guru. banyak dari siswa-siswi di kelas itu melihatnya. pikiran mereka saat itu masih kosong dan bertanya-tanya sedangkan teman semeja Justin tahu bahwa lelaki itu akan meminta izin untuk tidak ikut pelajaran.

sekitar dua meter jarak antara sang guru dan Justin. tangan kanan Justin merogoh sesuatu ke dalam tas – lantaran tas itu ternyata terbuka – dan sang guru baru sadar ada siswa di depannya. saat ia melihat ke depan – setelah tadi menunduk agak dalam untuk melihat sebuah bacaan – ia hanya melihat sekilas cahaya dan mendengar seentak suara lantas ia tidak sadar diri. banyak dari teman-teman Justin menjerit sekeras-kerasnya setelah kilasan cahaya dan entakan suara pertama. sekitar lima detik kemudian kilasan cahaya dan entakan suara terjadi lagi dua kali. jeritan lain terjadi kembali dan beberapa siswa-siswi berlari keluar kelas. saat itu sedang terjadi, Justin kembali mencipta kilasan dan entakan itu sebanyak tiga kali.

kedua mata teman semeja Justin terbuka lebar melihat temannya memegang revolver dengan moncong menghadap sang guru. peristiwa itu membuatnya benar-benar kaget. dengan gugup ia berdiri dan mendekat. ia menyaksikan guru itu terjengkang ke belakang dari kursi. kepala, dada, dan bagian kelamin guru itu berdarah. pemandangan itu amat mengerikan. ia dan Justin saling pandang di antara teriakan dan tangisan para siswi sampai satu per satu guru lain datang ke kelas itu untuk menguasai keadaan.

***

siang itu Justin duduk di salah satu ruang di kantor polisi. melalui pintu kaca ia dapat melihat orang-orang berlalu-lalang di depan pintu tersebut. di depannya ada sebuah meja kayu besar dan memanjang menjauhinya. beberapa monitor komputer tipis dan tumpukan berkas-berkas tertata rapi di atas meja. ia memikir lagi kejadian pagi tadi di mana tidak sampai satu jam mobil ambulans dan beberapa mobil polisi datang ke sekolah. semuanya serba cepat dan ia masih ingat wajah-wajah teman dan gurunya ketika ia dibawa masuk ke salah satu mobil polisi. di kantor polisi ia berganti pakaian untuk memakai baju dan celana pendek khusus tahanan lalu mendekam di sel khusus. di sana ia merenungkan masa depan.

seseorang masuk ke ruang tersebut, membuyarkan lamunan Justin seketika. seorang laki-laki gundul, tidak berkumis tapi berjenggot lebat, tampak masih muda, berkaus putih tanpa tulisan dan gambar apa-apa, dan bercelana kargo langsung duduk di hadapan Justin setelah tersenyum menyapanya. sebuah map agak tebal di tangan kirinya tadi diletakkan di depannya dan dibuka-buka. di bagian kanannya – di atas meja – ada sebuah monitor. sesekali ia melihat-lihat monitor tersebut sambil menggunakan mouse dan keyboard. lalu, ia memulai dan Justin pun menjawab semuanya secara tenang.

Justin menyatakan bahwa ia menyukai Fransisca, tapi Fransisca tidak menganggapnya sebagai kekasih kendati Fransisca sendiri menyatakan bahwa ia nyaman berada di sisi Justin. mereka sudah kenal sejak lama, namun Justin baru mengungkap cinta saat baru tahu bahwa Fransisca satu sekolah dengannya. ia mengungkap cinta itu di sebuah gereja di mana mereka selalu bertemu bersama. tapi tentu, Justin mengungkap hal itu tatkala situasi sedang berpihak kepadanya.

ibu Justin dan ibu Fransisca adalah teman karib. mereka bertemu di gereja itu jauh sebelum mereka menikah. setelah menikah, mereka kerap mengajak keluarga kecil mereka untuk berdoa di sana sehingga Justin dan Fransisca saling kenal. setelah dewasa pun mereka sering bertemu meski tanpa didampingi kedua orang tua mereka. cinta Justin kepada Fransisca tumbuh sejak SMP, tapi itu hanya lintasan hati meski berkali-kali. sekolah mereka tidak sama dan mereka hanya saling menyapa ringan di gereja saat bertatapan aura. doa Justin selama dua tahun akhirnya terkabul ketika ia meminta Tuhan agar Fransisca didatangkan di SMA. hatinya sangat gembira dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikatnya.

pekan lalu pada Selasa malam, Justin pergi ke rumah Fransisca untuk bertandang seperti biasa sebagai kunjungan ramah tamah tanpa janji terlebih dulu. ia berkunjung sendiri dengan harapan dapat bicara berdua dengan Fransisca. sayangnya, ia tidak jadi masuk ke rumah itu ketika ada mobil terparkir di depan rumah. mobil Avanza itu berwarna hitam dan berkaca hitam pekat. Justin diam agak jauh pada satu jarak dengan harapan tamu itu dapat segera pergi sehingga ia menjadi tamu berikutnya. sayangnya, itu tidak terjadi. seorang perempuan – Justin sangat mengenalnya – keluar dengan guru mata pelajaran Fisikanya. perempuan itu menggelayut manja di tangan kanan sang guru. hal itu membuat Justin sangat terguncang. perempuan itu mengunci pintu depan dan juga mengunci pagar. setelah itu, mereka berdua masuk ke mobil dan guru itu mengambil tempat kemudi. Justin tidak dapat melihat aktivitas mereka. ia coba menghubungi seseorang lewat telepon genggam dan seseorang itu menutur bahwa ia tidak ada di rumah. ia juga mengata bahwa hanya ada perempuan tersebut di rumah itu. setelah mematikan panggilan di telepon genggam, hati Justin tambah tidak keruan. tanpa pikir panjang lantaran berniat untuk melindungi atau setidaknya ingin mengetahui, maka ia membuntut mobil itu dengan motor CBR modifikasi miliknya.

jiwa kesatrianya tumbuh. ia berpikir buruk dengan membayangkan banyak adegan sepanjang penguntitan itu. mobil itu masuk ke sebuah kampung di pinggiran kota dan berhenti di sebuah rumah makan lesehan. karena tidak ingin ditemukan, Justin memilih tempat parkir agak jauh dari mereka. perempuan itu keluar lalu menyambut sang guru dengan kembali bergelayutan genit di tangannya. Justin kehilangan akal menyaksikan adegan itu. perempuan itu tersenyum-senyum kepada sang guru dan tampak menikmati berkobarnya gairah.

di dalam, mereka menempati salah satu ruang lesehan. kondisi rumah makan sedang sepi dan mereka memilih tempat agak terpencil. Justin duduk jauh dari mereka, tapi kedua matanya dapat melihat jelas ke arah mereka. perempuan itu sesekali memegang lembut wajah sang guru dan menciumi pipinya. sang guru juga tidak sungkan untuk menciumi pipi dan bibir sang perempuan. aktivitas mereka hanya terganggu sekali ketika seorang pegawai rumah makan datang untuk mengantar menu makanan-minuman dan mencatat pesanan mereka. Justin amat tidak percaya dengan kenyataan di sana. itu membuatnya amat sakit hati dan jauh dari nalar untuk dimengerti. ia hanya memesan jus avokad sambil merekam kejadian demi kejadian secara saksama di benaknya dan mereka benar-benar menggila.

saat mereka sedang menikmati hidangan, dua orang perempuan mendatangi mereka. keduanya ialah perempuan muda dan mereka langsung berteriak-teriak kepada sang guru. sang guru terlihat gelagapan tak dapat melawan sedangkan sang perempuan pendamping sang guru hanya menempel ketat di lengan lelakinya untuk berlindung karena takut.

orang-orang di rumah makan itu mendapat tontonan. dengan berdiri, sang guru mencoba untuk melerai kedua perempuan di sana, namun tidak berhasil. beberapa pegawai rumah makan dan seorang petugas keamanan mencoba untuk meredakan kericuhan itu, namun tidak berhasil pula. akhirnya, sang guru terlihat mengangguk-angguk mengiyakan. ia keluar dari petak tersebut bersama salah seorang perempuan lantas keduanya masuk ke mobil Avanza sebelumnya. perempuan penjemput sang guru itu terlihat masih ngomel-ngomel saat mereka berjalan menuju mobil. lalu, mobil itu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah makan.

setelah ditinggal sang guru, ibu Fransisca terlihat ingin sekali mengejar lelaki itu. ia menangis karena ingin bersamanya. tapi, salah satu dari dua perempuan muda tadi tinggal untuk mencoba menenangkannya. ia membayar pesanan makanan dan minuman kepada seorang pegawai rumah makan tersebut lalu membawa ibu Fransisca pergi dari tempat itu dengan sebuah mobil Jazz hitam. orang-orang di sana masih tampak berkumpul untuk membicarakan peristiwa barusan. sesekali ada suara tawa, seperti tawa ejekan.

Justin diam di tempatnya. ia bingung sekali memikirkan semuanya dan ia amat geram. ia menangkap beberapa kalimat dan kata-kata dari teriakan-teriakan tadi, tapi itu masih berupa teka-teki. ia ingin mengetahui jawaban-jawaban di sana, namun ia tidak tahu harus mulai dari mana. dan hari itu pun kemudian lewat. esoknya, Justin tidak melihat keanehan apa pun pada diri Fransisca. maka, Justin menyimpulkan bahwa hal kemarin memang tidak ada sangkut pautnya dengan Fransisca. ibu Fransisca jadi oknum di mata Justin. sang guru fisika juga terlihat santai dan kejadian kemarin seakan tidak ada efek pada dirinya. walau begitu, martabatnya jatuh di mata Justin.

Justin melanjut kisahnya kepada sang interogator. pada Kamis, hari pertama Fransisca tidak masuk sekolah. Justin mencoba bertanya dan Fransisca mengata bahwa ia tidak apa-apa. Justin tidak percaya begitu saja dan ia terus mendesak untuk menanyakan keadaannya karena ia mengungkap bahwa ia peduli dengan Fransisca. akhirnya, Fransisca luluh dan meminta Justin untuk menjemputnya di rumah pada malam itu dan mereka pergi ke sebuah kedai kecil di tengah kota. Justin sebenarnya ingin sekali melihat wajah ibu Fransisca ketika menjemput, tapi hanya Fransisca sendiri keluar untuk menemui Justin dan Fransisca meminta untuk langsung berangkat.

di kedai itu, Fransisca bercerita bahwa kemarin malam rumahnya didatangi seorang perempuan. entah kebetulan atau tidak, penyambutnya ialah Fransisca sendiri sebab ayah dan ibu Fransisca baru saja keluar untuk pergi beramah tamah ke rumah kenalan gereja ibu Fransisca di kota. ia menanyakan apa posisi Fransisca terhadap ibu Fransisca. setelah tahu bahwa Fransisca ialah anaknya dan satu-satunya orang di rumah itu, maka ia meminta izin untuk masuk ke dalam dan membicarakan sesuatu hal serius.

di ruang tamu itulah ia menjelaskan bahwa ia adalah anak sang guru Fisika. ia datang untuk meminta maaf kepada Fransisca. ia memberitahu bahwa ayahnya punya ilmu pekasih dan ia menerapkan hal itu kepada ibu Fransisca kemarin malam. ayahnya sudah berkali-kali menggunakan pekasih itu kepada banyak perempuan, tapi kepada ibu Fransisca hal itu sangat keterlaluan. ia sendiri tidak tahu bagaimana ayahnya mengenal ibu Fransisca selama ini, tapi ia tahu benar bahwa ibu Fransisca ialah keturunan Cina pertama kepunyaan ayahnya. ayahnya hanya mengakui bahwa sudah sebulan ia berhubungan dengan ibu Fransisca. untungnya, keterlaluan mereka tidak sampai pada tahap berhubungan kelamin.

ia bercerita pula bahwa ilmu itu hanya dapat aktif bila ayahnya mengaktifkannya. itulah kenapa ibu Fransisca akan terlihat tidak melakukan apa-apa kepada ayahnya bila memang sang guru tidak berniat melakukan pekasih. saat itu juga, perempuan itu memberikan bukti dua foto. di satu foto mereka tampak saling mendempetkan kepala menghadap kamera dan di foto lain tampak sang guru mencium pipi ibu Fransisca.

foto-foto tersebut membuat kesedihan dan kemarahan Fransisca memuncak. ia menangis tapi ia tak mampu berkata-kata. perempuan itu rela jika ayahnya dilaporkan ke polisi untuk dikasuskan, namun ia juga memberitahu bahwa akan banyak kerugian dari pihak korban bila hal itu dilakukan. ia kembali minta maaf kemudian pamit kepada Fransisca. kedua foto tersebut ditunjukkan kepada Justin. Fransisca terlihat sedih kala itu. Justin sendiri sebenarnya mengetahui kali terakhir keintiman mereka, tapi Justin pura-pura tidak tahu. setidaknya, teka-teki di benaknya kini sudah terjawab.

Fransisca berkata sambil menangis bahwa ia tidak segera melaporkan kejadian itu kepada polisi karena ia takut reputasi keluarganya akan hancur. menceritakannya secara pribadi kepada ayahnya, juga bukan solusi baik bila terdapat dampak buruk di kemudian hari. setidaknya, bila ia bungkam maka kenistaan tersebut hanya diketahui oleh beberapa orang saja dan keluarganya tetap dapat hidup bahagia. tapi, ia sendiri tidak tahu apakah itu ialah pilihan terbaik atau tidak. Justin tidak dapat berkata apa-apa. ia hanya diam menatap tangis perempuan di depannya.

Jumat, Sabtu, dan Senin Fransisca tidak masuk sekolah kembali. pesan Justin lewat BlackBerry dan WhatsApp tidak masuk. nomor telepon genggam Fransisca juga tidak aktif. di tiga hari itulah pikiran Justin mulai menggumpalkan rencana dan ia menuntaskannya pada Selasa sebagai bentuk penegakan keadilan demi keluarga kekasihnya.

***

seorang agen polisi punya kewenangan untuk mencari keterangan tentang segala hal terhadap peristiwa itu. ia ditunjuk oleh ketua timnya untuk menangani subperkara. bila siang tadi ia memperoleh keterangan dari Justin, maka petang itu ia duduk di sebuah kursi di ruang interogasi di lantai tiga untuk mencari klarifikasi dari saksi. kali ini, ibu Justin berada di depannya. beragam pertanyaan primer dan pertanyaan insidental muncul untuk ibu Justin. ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik dan hati-hati sebab ia terkesan berusaha melindungi Justin. tentu ia punya trik-trik khusus untuk membuka pendaman-pendaman keterangan dari saksi. tidak semua jawaban dicatat oleh agen tersebut karena ia hanya menemukan satu benang merah terhadap kasus pagi tadi.

Justin adalah anak kedua. anak pertama mereka ialah seorang perempuan, dua tahun lebih tua dari Justin dan kini sedang belajar di National University of Singapore. mereka termasuk keluarga kaya-terpandang dan membatasi pergerakan mereka untuk bergaul dengan tetangga-tetangga keturunan Cina saja. ayah Justin dan dua saudaranya punya bisnis Tour and Travel besar ke mancanegara dan berpusat di Surabaya. maka jadi hal biasa jika ayah Justin sering tidak berada di rumah untuk mengurus bisnis tersebut. ibu Justin hanya seorang rumahan biasa dan ditemani dua orang: laki-laki dan perempuan pembantu.

jika kakak perempuan Justin senang keluar untuk bermain bersama teman-teman SMP dan SMA-nya, maka tidak dengan Justin. Justin termasuk anak introver dan teman-teman dekatnya dapat dihitung dengan jari. itu pun semuanya ialah anak-anak keturunan Cina. sejak SMP, ia memang suka mengurung diri di kamar dengan pintu tidak sepenuhnya tertutup. ia kerap terlihat duduk di depan monitor komputer dan layar monitor itu membelakangi pintu sehingga orang-orang di luar kamarnya tidak dapat melihat langsung tayangan pada monitor.

saat Justin berkelas 8, ibu Justin pernah masuk ke kamar anaknya untuk mengambil pakaian kotor. saat itu Justin sedang tidur dengan monitor masih menyala. ibu Justin iseng melihat monitor itu dan ia terkejut ketika di monitor tersebut terdapat banyak foto perempuan-perempuan Cina. mereka semua tampil cantik dengan sebagian besar dari mereka berlengan dan berpaha terbuka. tapi, mereka tampak bukan perempuan-perempuan muda. mereka semua berwajah tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. kisaran umurnya antara 35-45 kalau boleh ia simpulkan.

ibu Justin pun mencoba menggunakan mouse untuk melihat ke atas dan ke bawah. tidak ada di antara foto-foto itu ia kenal. namun, ketika ia membuka folder lain karena di sana tertulis nama temannya, maka ia amat terkejut ketika ia melihat foto-foto ibu Fransisca di sana. folder itu khusus menyimpan foto-foto teman gerejanya itu. semuanya dalam berbagai pose seksi dan tampak diambil secara sembunyi-sembunyi melalui kamera beresolusi tinggi.

sejak Justin masih balita hingga duduk di sekolah dasar, ibu Fransisca memang suka menciumi anak lelaki itu di wajah. untuk ibu Justin, hal itu ia anggap sebagai ungkapan kasih sayang belaka dalam ikatan pertemanan antarkeluarga. kebiasaan ibu Fransisca tersebut berhenti ketika Justin telah dianggap dewasa saat baru masuk ke SMP. ia sendiri tidak pernah melakukan hal itu kepada anak lelakinya. mungkin itulah sebab Justin mengumpulkan foto-foto tersebut sebagai bentuk kerinduan kasih sayang.

ia tidak berpikir jauh mengenai hal itu. memang ia sempat berdiskusi dengan ayah Justin, namun mereka tidak menemukan jalur sama sekali untuk menarik satu atau dua kesimpulan logis. sejak saat itu, ibu Justin mencoba untuk melakukan pengintaian seperti itu kembali untuk menyelidiki bila ada kesempatan tatkala masuk ke kamar Justin, namun monitor di layar kerap mati atau menampilkan hal lain tanpa menimbulkan kecurigaan. ketika Justin punya laptop sejak masuk SMA, ia juga berusaha untuk melihat monitor layar tersebut bila punya peluang, tapi tidak ada keganjilan di sana. lama-kelamaan kecurigaan mereka pun memudar dan akhirnya hilang.

banyak hal diceritakan oleh ibu Justin sehingga menghabiskan waktu sekitar dua jam, namun keterangan penting itu baru muncul belakangan. setelah merasa cukup, agen itu membolehkan ibu Justin untuk pulang. ibu Justin tidak tahu bahwa sang agen telah merekam percakapan itu. keterangan itu menjadi sidik jari berharga pada kasus tersebut dan ia akan menyampaikannya di rapat tim. segalanya akan menjadi jelas dengan sidik jari di tangannya kendati Justin sendiri tidak membukanya. ia yakin bahwa percampuran antara keterangan Justin sebelumnya dan sidik jari terbaru itu akan membuat Justin mengakui motif aksinya. ia juga yakin bahwa media massa lokal dan nasional akan sangat senang dengan kesimpulan di belakang nanti mengenai motif pelaku sebab peristiwa ini termasuk anomali dalam pidana.

Pasuruan, Juni 2016

*

Sabtu, 11 Juni 2016

Perempuan Berambut Merah dan Bertubuh Liar

aksen-aksen narasinya selalu mendorong ‘tuk menutup langkah.
giok merah terburai dan kristal mahaliar blingsatan.
hantui pasir-pasir ingatan.
-
lantaran kurikulum rupawan itulah lingkaran sedimentasi
melebur di paragraf-paragraf ibadah.
derita-derita mikroskopis menghuni gubuk-gubuk argumentasi.
membimbing jarak ke padang istiqamah.
-
dengan dawat, gending-gending harum dilepas
dan puspa-puspa necis dirilis.
ia juga memutar pranata dan membelokkan jam
ke selubung gamang.
menjura terhadap hati atau sekadar membajak atensi.
lalu, segalanya menangkapmu.
-
dua adat saling mendekat.
dekorasi dan dialektika amor gariskan serasi.
kawat-kawat kontribusi dan lampu-lampu marga
telah bersandar. endapkan polemik-polemik pengap dan pedas
ke dalam sakramen bersejarah.
-
sesudah meloncat dari globe setempat, kami
sekarang menginap di tangsi bermartabat.
bersyukur pula ekosistem di belakang
tidak keringkan biota kami secara menegangkan.
artikel kami terpajang pada skrip keluarga.
elan pun menyangrai realisasi,
menggiring paduka kepada keawetan bahagia.
sesudah nyala jadi fitri, sesudah binal jadi terpelajar.
-
Pasuruan, Mei 2016

*

Ribuan Ciuman dalam Melodi

kau mamalia. lapar aplaus dan menyalur jasa.
belukar semut selalu butuh alam dramatismu
saat kau jangkarkan tabik di celah subuh,
saat kau klimakskan indah di tiap krida.
-
tombol-tombol petisi kerap terbenam.
hakim-hakim rakus memanggangmu gamblang.
dengan dana, kehormatanmu dibedah.
membentur gugus-gugus kelam
dan membias di akbarnya regulasi.
-
aku bukan anak jenderal.
hanya arek piatu, dilupakan rumah.
aku bukan anak raja.
hanya bandit kencur tak dekat agama.
namun bila kau menari, jiwa heroikku mendesir.
-
informasi dan rumpi di kanan-kiri terlalu zalim terlafal.
mentah dan ilegal. tiada kearifan, tersisa pembiaran.
aku tidak yakin kau terlindung kencang
dalam demografi konkret di sana di mana titah
senantiasa lemahkan peran dan panduan.
-
kalender demi kalender lengser.
cakrawala tampak dan tenggelam beraturan.
namun, kau masih mengumbar madu
bersama orkes glamor itu.
ingin sekali diri ini jadi koboi bermisai dan bertopi.
menaikkanmu ke temperatur nasib lebih terpelihara.
jauh dari aroma dan kultur kafir dewan-dewan neraka.
-
Pasuruan, Mei 2016

*

Kamis, 05 Mei 2016

Helai-helai Tubuh Penari yang Kosong

sindikat detik-detik barbar susah disibak.
bintang-bintang mendingin, deras berputar-putar
di ruas-ruas temperamen.
jongkok, gagal berekspresi.
-
hujan haru membesuk diri.
mencakar dan menikam cerobong-cerobong deskripsi.
timbul trauma. syirik hampir muncul
di kandang pujangga.
-
kami bukukan olahrasa dan adilkan otot-otot instruksi.
disinformasi dan agitasi dipecahkan
di bangku-bangku anjangsana.
namun, rute mencapai keluarga serempak menyusut.
-
prinsip-prinsip palsu memuji arus kami dengan pengkhianatan.
sebuah kejahatan pintas menuntas gebyar dan alokasi.
tiang-tiang obituari membelenggu,
menjual sasis jiwa ke selokan semu.
-
rezeki mengelupas.
jadi jelaga kentara, mengepung gegap gempita.
ilustrasi mawar masih pandangi darah, tapi
sepotong-sepotong sirkulasinya makin turuni alam baka.
-
Pasuruan, April 2016

*

Memelihara Kesunyian di Musim Dingin

dalam radius kaca benggala, skema-skema rasional merongga.
buana pertumbuhan sekarat dan bekal kemapanan tersendat-sendat.
benang merah pelaminan terbalik.
-
hajat untuk menuntut lahan karunia digagalkan keterbatasan.
barikade angin banal warnai danau perak.
dini hari, sayup-sayup dislokasi.
-
mawar merah berteriak jalang di sabana.
kaktus-kaktus agresif menjangkau kayu-kayu dinasti
tanpa mengada-ada. kuman-kuman alternatif
amankan radang dan infeksi.
gatal pun menguntit di kantuk-kantuk resik.
-
berjongkok di atas amben.
menahan jam agar gading-gading disiplin
tetap mekar dan berfungsi.
serbuk-serbuk pembujuk zinahi strategi dengan teguh.
mengurung juang, kosongkan pandang.
fase fatal mendekat. alarm tamat juga menyadap.
-
hibernasi dan halusinasi penuhi bugilnya tangga-tangga raga.
hiruk pikuk lamunan di antara langit timur dan barat
kian kesampingkan mestika akidah.
tamu dan majelis sontoloyo makin menjengkelkan.
kenalkan friksi dan jahati profesi.
satu kenang-kenangan dari badai kasih.
-
keruntuhan interaksi memancar krusial
bagai dinamit merancang kerusakan.
aum tenggorokan tersengal-sengal
mendesak dendam menuju tikar pembantaian.
-
Pasuruan, April 2016

*

Minggu, 03 April 2016

Demi Matiku, Kutujukan Padamu Segala yang Tak Sia-sia

tak ada jerih saat berhala
libatkan binar kidung dan lenggak-lenggoknya
ke dalam sesaji.
lilin pamungkas membara, berbagi sirene
kepada musafir-musafir sepuh di kejauhan.
jarak mendekat, dekat pun berkhidmat.
-
ia kobarkan katarsis.
mengintai tenda dan sarana terhadap kelindan pahala-pahala.
topografi profilnya mengungkap hutan bertingkat.
alkitab merekamnya sebagai rosario tipikal.
hangat, juga tulen.
-
gawatnya, semua raja mabuk parah.
antre menilik dan meminta pengantin.
akar hajat mereka membuncit pesat.
membikin klenik dan terapkan riset
agar margin disparitas secepatnya dapat koheren.
-
tapi, lomba transenden tersebut adalah jahiliah
untuk seorang filantropis.
memepet merpati menggunakan pukat pucat
ialah tindakan psikopat.
tiada kejujuran dan kekaleman di sana.
meski demikian, kesadaran hanyalah omong kosong
bila mulut dan tulang lari dari peredaran.
-
drakula dan setan ibarat damar di lintasan.
berbondong-bondong matangkan tebar pesona
dan wira-wiri mencipta singgasana.
nasib bocah ini tampak primitif dan berat
‘tuk ikuti perkara. subuh seolah-olah lenyap
dan bermil-mil tabir bergunjing di sekitarnya.
namun, dia menjual komitmen higienis.
siap dituai dan dirangkul secara galib atau karib
demi meyakinkan sang putri.
bukan pencitraan, bukan pemanis perapian.
-
Pasuruan, Maret 2016

*