Minggu, 08 Juli 2012

Sindrom

         : Maryama al Kad

pertama,
aku berada di tikungan emosi.
menggeser bait-bait kemilauku.
tak dapat kuelak
meski kugugat dengan lagu-lagu dari kandang doa-doa.
sebabkan kicau radang rinduku s’makin menderu
dan menggelegar.
-
kedua,
aku terbakar di atas tangis. taklukkan segenap senyum-canda
tanpa portir dan busana pelindung.
mampu mengelak agresif, menyala deras.
mengeruk seluruh ketenangan pulasku
hingga sisakan nostalgia
di tempo berdebu.
-
ketiga,
aku terguncang oleh desak. sudutkan interpretasiku
menuju afeksi dan petaka
dalam dualisme saling menyapa.
terjebak butir-butir salju optimistik nan lancung
dan inisiasi-inisiasi fiktif. merias malam-malamku
dengan gemuruh ombak laut hitam menantang.
-
keempat,
aku pun lecek di antara situasi berkabut.
kian melebar dan berulah,
membatu di bawah teduh kesal, tak sanggup kuenyah.
menyeretku menuju titik-titik proporsional nan akumulatif
untuk segera menguburku dalam kesenjangan banal
paling naif.
-
jadi, tunas pohon filsafat mana harus kucanangkan
untuk sebuah ritus suci
demi cinta amat kudambakan?
-
Sleman, Juni 2012 

*

Meditasi

di musim – tak lagi akrab dengan muhibah ini –
aku berteman infus bening. pitanya menjuntai dari arasy.
tergelincirlah angsuran embus-embus sublim
ketika sabtu tua menyelisik ke celah-celah baju
untuk menggahar disorientasi. telah bersinergi
di dalam sistem navigasi sang tubuh.
-
beberapa kelebat ilahi menyigi kampung-kampung pikirku.
semena-mena gerimiskan seribu nota visual bersih
untuk sekadar mencetak waswas di atas mispersepsi,
telah lama mengiritasi.
-
tibalah aku pada titik elitis di mana sebuah palagan memapas
dengan setangkai pulpen bertinta hitam.
aku merekam dan memburu obat, terselip
di balik pepatah-pepatah renta.
tapi, hanya kutemukan jingkat-ingsut kedaluwarsa.
menjadi dian di antara goyangan lebat kemustahilan.
maka, kututup saja aksi ini dengan segera
seiring keguyuban hidup, masih berlari mesra.
-
Sleman, Juni 2012 

*

Anoreksia Cinta 2

dari dalam kamar – tersekap oleh tembok-tembok terka –
aku merangkak ke luar dalam rintik-rintik gelak tawa barbar,
turun dari langit-langit.
aku duduk di atas relaksasi berteman meja
sedang tiarap dan bersahaja.
di atasnya
sekepal kopi cair berkacak harum dengan lancang.
piring putih bersila, merendah.
sajikan sebuah dekorasi kudapan, mengernyit
dan terkesan galak untuk sebuah diskusi dwibahasa
-
aku diam. berada pada tampuk opera hening,
menggelinding di paruh tempo.
dikelilingi kentara giris-pening,
rembesi gerigi kerongkongan
dari sekecup tanya – mulai menyelinap turun –
untuk tawarkan maut di palung dada.
-
perlahan, aku menyeka pergelangan insangku dengan setangan
sembari menunggu kurir, akan berikan nomor-nomor sentosa
‘tuk sebidang neraca. meski lapar terus meledak,
meski hura-hura ‘kan bermalih rupa
jadi khianat amat menyiksa.
-
Sleman, Juni 2012

*