||| seperti biasa. Minggu pagi di
beranda, ia berteman kursi beralas-sandar bantalan beludru hitam. di tentang,
ada meja kayu bulat berkaki satu beralas pualam di atasnya. juga laptop,
beberapa buku bacaan dan buku catatan, beberapa alat tulis, juga segelas susu
putih berjahe. sepoi angin kadang jadi irama dan remah-remah dingin kadang jadi
belai mesra.
seperti Minggu sebelum-sebelumnya.
matahari menyapa dari belakang rumah. sinar manisnya jatuh manja di depan
rumah. lalu-lalang orang dan kendaraan sesekali jadi pengalih perhatian.
sesekali, mereka juga jadi sasaran atensi. segalanya terlihat seperti
biasa. tapi, waktu di pagi itu ternyata suguhkan hal berbeda.
saat ia menulis catatan aktivitas
harian tersisa di layar laptop, Rara datang dari dalam rumah, berjalan
perlahan, dan langsung duduk di samping pada sebuah kursi lain. mereka saling pandang
dan saling bertarung senyum sejenak lalu Rianti kembali kepada kegiatan semula.
mereka bertukar diam namun anak itu
tetap memerhati. ia melihat wajah, tarian jari-jari tangan, buku-buku dan
laptop, resam tubuh, dan semua hal di sekitar. ia lakukan itu dengan amat
tenang dan terkesan teliti. baru kali itu ia melakukan hal tersebut di Minggu
pagi dan itu membuat sang bunda sedikit merasa berbeda. jadi, ia menegas curiga
dengan cara menatap wajahnya sekali lagi dan Rara tersenyum kembali sembari
sedikit memiringkan kepala ke samping. lucu sekali kedua wajah tersebut saat
itu. |||
-
sang bunda pun akhirnya menanya,
tetapi Rara tidak memberi jawaban pasti. lalu secara perlahan sang bunda
menggeser atensi untuk kembali lanjutkan pencatatan. sambil memerhati layar
laptop ia seakan-akan berkata kepada kekosongan bahwa lawan bicaranya belum
dapat sembunyikan sesuatu dengan baik. setidaknya, ia tahu melalui perilaku
aneh kala itu. Rara mengerti sasaran pernyataan namun ia hanya menyahut dengan
kikikan-kikikan halus.
sang bunda mencoba meyakinkan dengan
mengundang ujung kata-kata di dalam tubuh anak itu agar keluar dengan lancar tanpa
malu. sambil menatap dan dekatkan wajah diri sendiri pada wajahnya, ia juga berbisik
bahwa setidaknya pembicaraan tersebut ialah pembicaraan antara perempuan dengan
perempuan. lalu, ia menutup dengan mengangkat kedua alis dua kali sebagai
bentuk negosiasi. Rara hanya mengikik kembali dan ia tidak berkata apa-apa
setelah itu. lantas, sang bunda pun melanjut pencatatan dan membiarkan Rara
menikmati situasinya sendiri.
belum genap dua baris mengombinasi
aksara-aksara dan juga beberapa tanda baca, suara itu tiba-tiba meluncur dengan
indah dari mulut Rara bahwa ia belum tahu bagaimana bundanya dan ayahnya
bertemu lalu saling mencinta hingga masa itu. jari-jari Rianti berhenti berdansa
dan beberapa detik selanjutnya – secara bersamaan – mereka membidik pandang ke
satu fokus agak jauh di depan.
Rara bertanya kepada perempuan itu
apakah ia bisa memperoleh sedikit cerita bagaimana hubungan antara ayahnya dan ibundanya
dapat terjadi di masa lalu. saat itu Rianti menyadari bahwa pertanyaan seperti
itu mungkin sudah tepat dilontar oleh anak SMP kelas 7 sebagai salah satu tahap
kedewasaan di dalam diri Rara. namun, ia juga memiliki keraguan apakah
pertanyaan seperti itu memang telah pantas diucap olehnya. ia coba meyakinkan
Rara apakah ia benar-benar sadar dengan pertanyaan tersebut dan Rara
mengiyakan. sang bunda kemudian bertanya mengapa pertanyaan itu muncul dari
Rara. Rara pun menjawab bahwa semalam pikiran semacam itu tiba-tiba saja bertamu
setelah melihat bundanya dan ayahnya saling memberi kasih di ruang keluarga.
banyak tawa, belaian, dan pelukan di sana. mereka sendiri tidak menyadari keterjagaan
dan kehadiran Rara. Rara sendiri pun akhirnya urungkan niat untuk mendiamkan
kegaduhan mesra itu ketika ia tahu bahwa mereka sedang di puncak bahagia.
Rianti tersenyum menanggapi anak
perempuan tersebut. tapi, senyum itu agak berat terlihat. sejurus berikutnya ia
mencoba menawari Rara untuk membahas masalah itu di waktu lain. bahkan, ia
menawari Rara untuk membukanya pada hari ulang tahun Rara tahun depan. sayangnya, Rara tidak mau. jelas
sekali terlihat keraguan pada wajah Rianti. ia tahu benar bahwa anak perempuan di
depannya masih punya rapuh hati. ia tidak dapat sembarangan menolak walau telah
berusaha alihkan jalur. kendati begitu, Rianti sadar bahwa jawaban-jawaban ke
depan adalah penting untuk Rara dan ia tidak ingin berfiksi pada masalah tersebut.
-
||| catatan ini pun merekam percakapan
dan situasi bagaimana Rianti memberi terang kepada Rara dengan sepenuh kasih
dan ketulusan. |||
-
Rianti meminum susu putih berjahe
beberapa teguk seraya mengambil ancang-ancang, menaruh gelas, lalu mulai
bercerita. ia mengawali dengan berkata bahwa ia dan ayah Rara tidak berada pada
satu kelas saat menempuh Sarjana Satu, namun mereka berjurusan sama: Pendidikan
Geografi.
Rara bertanya di mana itu dan Rianti
menjawab bahwa masa itu terjadi di kota tempat mereka berada saat itu, lebih
tepatnya di Universitas Buana Bakti. Rara mulai tampak antusias dan Rianti
melanjutkan dengan memberi tahu bahwa mereka bertemu kali pertama saat
sama-sama berada pada satu departemen di Dewan Mahasiswa Jurusan Geografi.
lantaran Rara menanya di mana persisnya, Rianti pun mengata bahwa mereka ditempatkan
di Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia. Rara kian antusias dengan hal
baru tersebut. Rianti tahu bahwa anak itu sedang bersemangat untuk dengarkan
cerita. Rianti pun melanjutkan kisah kepada Rara.
pada awalnya ia mengira bahwa hubungan
mereka benar-benar merupakan hubungan kerja secara profesional. mereka bertemu
hanya untuk berdedikasi pada tugas dari departemen. karena terkoneksi dengan
baik di beberapa kegiatan awal, maka petinggi Dewan Mahasiswa akhirnya selalu
memasangkan mereka sebagai mitra kerja pada kegiatan-kegiatan selanjutnya.
terkadang, petinggi-petinggi itu juga memadu mereka dengan personel-personel
lain di beberapa kegiatan namun mereka tetap bersama. beberapa kali, mereka juga
hanya dipasang berdua untuk mengurus satu atau beberapa masalah kecil.
Rara berkicau lembut bahwa hal
tersebut sepertinya terlihat menyenangkan untuk sang bunda. Rianti mengiyakan
kicauan Rara, tapi itu hanya awal saja katanya. sampai di situ Rara belum
mengerti hingga Rianti menjelaskan bahwa semua kesenangan itu berubah pada satu
hari di mana lelaki tersebut menyatakan cinta.
Rara terkikik-kikik halus untuk
menanggapi, namun dengan cekatan Rianti mengata bahwa ia menolak lelaki itu.
Rara terkejut dengan tangkapan indera telinganya. cepat-cepat dalam sewot,
Rianti menegas bahwa ia menganggap lelaki itu salah lantaran dengan tiba-tiba ia
membawa cinta tanpa sekalipun pernah membahas hal itu sebelumnya; tanpa awalan atau
tanpa kuda-kuda sama sekali sebagai adaptasi. Rara sedikit memberontak dengan
menyatakan secara sepihak bahwa bundanya sebenarnya memiliki rasa terhadap
ayahnya, tapi Rianti berdalih bahwa saat itu rasa tersebut belum tercipta. Rara
mengejar dalih bundanya dengan kata “kenapa” dan dengan kesan ringan Rianti pun
menjawab bahwa ia memang belum punya. Rara merasa tidak menerima alasan itu dan
mengatai bundanya sebagai orang sombong secara sewot. Rianti hanya tersenyum
hingga indah gigi-giginya terlihat.
Rara pun segera melupakan secuil
masalah tersebut dengan mengajak bundanya untuk menerus cerita. Rianti pun
menyambut ajakan Rara dengan menyatakan bahwa hubungan mitra kerja antara mereka
akhirnya selesai. dengan keyakinan tinggi dan tanpa dasar Rara menebak bahwa pasti
ayahnya marah atau benci sebab tidak dapat menerima penolakan itu sehingga
meminta hubungan mitra itu diputus. nyatanya, Rara salah telak. Rianti berujar
bahwa sebenarnya pemutus hubungan itu adalah ia sendiri. Rara kembali terkejut
dengan mengangakan mulut. Rianti pun menerangkan bahwa ia belum dapat menerima
kenyataan untuk memisah perkara cinta dengan kerja. keduanya saling
tumpuk-menumpuk, jalin-menjalin tidak keruan sehingga menurunkan konsentrasi
kerja. kali itu kerut dahi terlihat pada Rara. Rianti melanjutkan dengan
memberi keterangan bahwa beberapa pekan setelah perpisahan itulah ia malah mulai
tahu rasa cinta. sebelumnya, ia belum mengerti benar bahwa cinta itu sebetulnya
dapat bersemi melalui perjalanan biasa. ia bodohi dirinya sendiri kala itu dan
ia benar-benar menyesali. ia pun sanggup memahami cinta setelah peristiwa itu;
tidak menye-menye dan tidak unyu-unyu seperti di SD, SMP, atau SMA
pada umumnya.
Rara mengikik agak keras kali itu
lantas bertanya apakah bundanya kemudian menemui ayahnya untuk coba memperbaiki
semuanya. Rianti menyangkal dengan memberi alasan bahwa Tuhan ternyata tidak
memudahkan semua seperti demikian. wajah Rara pun membentuk tanya. Rianti
meneruskan pernyataan bahwa penolakan itu terjadi sekitar dua bulan sebelum masa
kuliah tahun pertama selesai dan masa libur panjang setelah itu menjadi sangkar
tersulit untuknya di mana segala sesal terus bersuara dan daur pun akhirnya
berganti.
pada tahun kedua, ia kembali
dipercaya untuk berada di Dewan Mahasiswa Jurusan Geografi, namun ayah Rara tidak
lagi di sana. ia dipercaya untuk naik ke Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.
di satu sisi Rianti bangga dengannya, namun di sisi lain ia kecewa lantaran
tidak dapat memperbaiki kesalahan. beberapa rencana memang sudah disimpan, tapi
perbedaan habitat di Dewan Mahasiswa ternyata jadi penghalang nyata. dari
tempat, waktu, dan suasana itulah kisah antara mereka mulai tegas digariskan.
-
||| catatan ini melihat bagaimana
raut muka Rianti saat itu mulai tampak murung dan tertekan. kedua telapak
tangan saling meremas-remas satu sama lain. ada kecemasan di dalam dirinya,
tapi catatan ini belum mengetahui secara pasti hingga ia membukanya kepada Rara
dengan penuh ketegaran. |||
-
pada masa itu Rianti mendengar bahwa
ada suara-suara. sebagian mengatakan bahwa lelaki tersebut kecewa sebab tidak
dapat menaklukkan perempuan baik nan langka untuk dilindungi, disayangi, dan dimiliki
dalam cinta. dan ia benar-benar menunjukkan secara terang-terangan di hadapan Rianti.
pengungkapan itu diperhatikan oleh Rara dengan khidmat. tatkala bertemu, Rianti
memperhatikan bahwa lelaki itu membuat jarak. lama-kelamaan Rianti pun larut
dan hilanglah hormat padanya. memang tidak pernah tampak benci dan dendam pada
wajah sang lelaki, namun amarah Rianti akhirnya tersulut hingga membakar segala
kenangan; canda-tawa, diskusi-negosiasi, perdebatan, dan sebagainya tentang
dirinya. Rara diam mendengarkan bundanya. tiba-tiba, Rianti menyatakan bahwa peristiwa
itu pun akhirnya terjadi.
Rianti diam. lama sekali ia
bersembunyi di sana sehingga Rara menegur secara halus dan pelan untuk menanya
peristiwa apa. Rianti menghela beberapa napas kemudian ia memulai narasi bahwa
kala itu ialah malam hari. ia ingat bahwa itu adalah Selasa malam, pulang dari
kampus, selesai mengangsur tugas mendekorasi lobi jurusan dengan teman-teman
Dewan Mahasiswa, dan ia pulang sendirian. Rianti berhenti dan hening mengambil
alih.
Rianti melanjutkan bahwa sebenarnya dari
kampus ke kos tidak terlalu jauh, namun saat itu di jalan utama sedang dibangun
beberapa polisi tidur oleh para petugas. lantaran terlalu malam, maka jalan itu
telah dibuntu untuk memudahkan pekerjaan dan ia harus memutar agak jauh. jeda
pun terjadi dan hening kembali mengambil alih.
perlahan-lahan Rianti mendeskripsi
bahwa ada ladang pada rute tersebut, memanjang di kiri dan kanan ikuti jalan. keadaan
saat itu sedang sepi meski ada lampu jalan. Rianti
berhenti dan hening datang kembali.
tiga orang menghadang dengan
cekatan, membuatnya harus menghentikan motor secara mendadak. semuanya
bertopeng. hanya menyisakan lubang untuk kedua mata dan mulut mereka. kejadiannya
terjadi cepat sekali. Rianti berhenti kembali dan membiar hening bertandang di
antara mereka lagi.
mulutnya diberangus dengan sebuah
kain tebal nan halus secara cepat oleh salah satu dari mereka. tidak ada
teriakan, hanya guman dan gerakan. dengan lihai mereka mengamankan menuju
semak-semak. motor pun dituntun ke semak pula hingga tidak terlihat dari jalan.
-
||| aku dapat melihat kedua mata
Rianti berujar air mata. air itu jelas sekali menggores di kedua pipinya. |||
-
di sebuah gubuk kecil tanpa
penerangan, mereka mulai melucuti pakaiannya dengan kasar dan tergesa-gesa.
mulut masih diberangus namun tidak untuk telinga. beberapa kali mereka
berdialog pendek dan pelan. awalnya tidak tahu karena suara mereka benar-benar
pelan dan ia sendiri dalam tekanan. namun, dengan kesadaran tersisa, perlahan-lahan
akhirnya ia mengenali dengan baik salah satu suara kendati ia hanya berbicara
sedikit dengan kedua temannya; saat ia menikmati maupun saat menikmati
permainan kedua temannya.
-
||| laptop ternyata sudah dalam sleep
mode secara otomatis. Rianti mendorongnya agar menjauh. lalu, kedua
tangannya terlipat dan saling menumpuk di atas pualam dan ia menelungkupkan
wajah di atas lipatan itu. ia menangis sesenggukan namun pelan terdengar. Rara
juga menangis. ia ternyata mengerti. Rara lalu masuk ke dalam rumah. saat ia
kembali ia sudah siap membagi tisu dengan bundanya. Rianti menerima itu,
mengusap air matanya, lalu memeluk Rara. mereka membutuhkan waktu lama untuk
menegakkan ketegaran mereka kembali. lama sekali dan itu pun harus diawali
dengan hening pada Rianti untuk membuka kembali. tapi, sebenarnya Rara ingin
menutup sampai di situ, tapi…. |||
-
Rianti menolak. ia berujar bahwa ia
dan Rara bukan keluarga bila harus berhenti di sana. setelah itu Rianti melihat
mereka kembali dan Rara akhirnya mengikut pandang bundanya. mereka
menikmati mereka dengan penuh perhatian agak lama. lalu, Rinati
mengatakan bahwa ia kacau saat itu. akal sudah kosong. hanya berjalan perlahan
menuju jalan. dingin sekali. Rianti berhenti dan hening terjaga kembali.
di jalan, ia bertemu dengan dua
orang laki-laki berumur. mereka terkejut melihat seorang perempuan dengan
pakaian seadanya sedang berjalan dan tidak beralas kaki. Rianti berhenti
bercerita dan hening malah terdedah.
ia merasa mati rasa. suara mereka memang
terdengar dan tampak bertanya namun tidak tercerna. wajah mereka terlihat heran
dan sesekali saling berdebat. lalu salah seorang melepas jaket, untuk dirinya.
satunya melepas sarung, juga untuk dirinya. satu orang kembali ke arah kampung
dengan motor sedangkan satunya menemani dan menuntunnya berjalan. Rianti
berhenti dan hening datang kembali.
satu per satu mereka datang untuk
melihat. sebagian kecil saling bertanya dengan keheranan. ia duduk di sebuah
beranda rumah milik seseorang dan minum segelas air putih. mereka ribut
sendiri. salah satu teman kos terlihat di antara kerumunan. ia menghampiri.
berkata-kata kepadanya dan warga secara bergantian lalu ia menangis
sejadi-jadinya lantas memeluknya. Rianti kembali menangis saat itu.
Rianti baru sadar kalau ada segelas
air putih di meja. sambil menunjuk itu, ia tampak ingin bertanya namun Rara
langsung memotongnya bahwa ialah pembawanya. ia bertanya kapan Rara mengambil
benda tersebut namun Rara membalas dengan kata “rahasia”. mereka saling
tersenyum kemudian. Rianti mengelus rambut anaknya lalu meneguk air di dalam
gelas tersebut. ia meletakkan gelas, diam sejenak, lalu melanjutkan.
di antara kerumunan ada juga
beberapa petugas pembuat polisi tidur. mereka tampak berciri melalui pakaiannya.
mereka berdebat dengan beberapa warga dan teman Rianti pun mengalih perhatian
ke perdebatan itu. lalu, ia nimbrung ke sana dan tidak sampai semenit ia
terlihat marah-marah ke para petugas. warga pun akhirnya menjauhkan teman Rianti
dari mereka untuk mencegah kontak fisik lebih jauh.
setelah itu, teman tersebut membawa Rianti
pulang ke kos dengan dibantu beberapa warga. sekilas Rianti dapat melihat
motornya dibawa oleh seorang warga tapi ia tidak memunyai perhatian di sana. sampai
di kamar, Rianti tergolek lemah di kasur. beberapa teman kos dan kampus juga terlihat
saat itu. sebagian besar memang perempuan dan sebagian besar dari mereka
terlihat menangis dan memeluknya bergantian. teman Rianti kembali marah-marah
saat beberapa anggota Dewan Mahasiswa datang. teman Rianti tahu benar bahwa
merekalah orang-orang terakhir sebelum kejadian itu terjadi. tapi, kali itu teman
Rianti mendapat sekutu dari teman-teman kos untuk memarahi mereka. orang-orang
di sana pun memisahkan dua kawanan tersebut agar tidak terjadi keributan lebih
besar.
beberapa polisi juga datang, namun
mereka tidak melakukan apa-apa setelah mengetahui bahwa keadaan Rianti masih
terguncang dan butuh ketenangan. Rianti hanya ingin menutup hari itu dengan
tidur. lalu, Rianti bertanya kepada Rara apakah ia sudah tahu benar makna semboyan
“hari baru, matahari baru, dan udara baru” dengan baik. Rara pun mengiyakan dan
ia menegaskan bahwa bundanyalah pengajar itu. Rianti pun menerangkan kepada
Rara bahwa di malam pahit itulah ia menemu hal tersebut sebagai pijakan pertama
untuk bangkit dan bertahan. hanya itu satu-satunya kesadaran tersisa. Rara
hanya mengangguk.
Rianti pun baru tersadar kalau salah
satu tangan Rara sudah berada di atas salah satu tangan Rianti. Rianti pun
menimpali tangan Rara tersebut dengan tangan Rianti lainnya dan mereka kembali
berbaku senyum.
dan benar. esoknya ada sesuatu.
sesuatu itu sungguh mengejutkan kata Rianti. benar-benar mengejutkan. ia
berkata bahwa dia memang ayah Rara. setelah Rianti berungkap Rara terlihat
terheran-heran dan Rianti kian menguatkan penjelasan bahwa ia memang ayah Rara.
Rara terlihat tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Rianti pun meneruskan
bahwa dia berdiri di depan kos sebelum cahaya surya menyapa. pukul 05.30 ia kira.
ia mendapati lelaki tersebut berada di sana setelah salah seorang teman kos
memberi tahu hal itu.
Rara menanya kenapa ayahnya sedang
ada di sana dan Rianti pun menegas bahwa dugaan pada malam sebelumnya ternyata
benar melalui salah satu suara sang pelaku pada malam pahit itu. Rara diam dan
tampak berpikir.
Rianti menjelaskan bahwa saat itu ayah
Rara berdiri tegak dengan penuh kebencian dan dendam. sorot lampu halaman
parkir sudah cukup menerangi wajahnya. ia merasa bahwa saat itu lelaki tersebut
benar-benar mengerikan. Rara masih diam dan masih berpikir.
Rianti bertanya kepada Rara apakah Rara
mengira bahwa lelaki tersebut pelakunya. Rara menggeleng perlahan-lahan dalam keheranan.
Rianti pun malah memastikan bahwa memang dia pelakunya. Rara terkejut tidak
percaya sembari memekik halus. Rianti menambahkan bahwa dia memang tidak
sendirian. Rara benar-benar tidak percaya. pernyataan itu sungguh menakuti
dirinya hingga merinding dan Rianti malah tersenyum menyaksikan rupa anaknya.
Rianti berkata bahwa ayah Rara
mengetahui malam pahit itu dari salah seorang teman. ia tidak percaya. ia
datang menengok Rianti di kamar. teman-teman kos sama sekali tidak mengizinkan
orang lain untuk menengok kecuali orang-orang berkepentingan. namun, lantaran
mereka tahu bahwa ayah Rara punya rasa kepada Rianti, maka ia mendapat izin
untuk melihat.
Rianti sendiri sudah tidur saat ia
menengok. ia menangis saat itu dan ketika keluar rumah ia sudah menerbitkan
kebencian dan dendam. itu tertulis jelas di wajahnya. beberapa teman coba
menenangkan, tapi tidak bisa. wajah Rara kini terlihat datar dan konyol setelah
mendengar itu.
Rianti pun menanyakan apakah Rara masih
kenal Mas Kara, Mas Junu, Mas Ibda’, Mas Vincent, dan Mas Tomo. Rara menjawab
bahwa mereka sudah berkali-kali ke sini. ia senang dengan mereka. mereka gokil
kata Rara. Rianti cuma tersenyum menanggapi. Rianti pun melanjutkan narasi
bahwa merekalah orang-orang pertama tujuan ayah Rara. mereka sudah mengerti
berita malam pahit itu sehingga ayah Rara langsung mengajak mereka untuk
berburu. kali itu Rara kembali mengerut dahi.
ayah Rara punya geng, namanya Wise Punk.
terdiri dari tujuh orang anggota termasuk ayah Rara. Mas Kara, Mas Junu, Mas
Ibda’, Mas Vincent, dan Mas Tomo termasuk di dalamnya. Rara berpikir sejenak,
lalu ia mengoreksi bahwa bundanya belum menyebut satu anggota. Rianti pun
menerangkan bahwa di sanalah masalahnya. Rara belum mengerti pada waktu itu.
dia juga menyukai Rianti, sama
seperti ayah Rara. namun, ia begitu terobsesi untuk memiliki. Rara pun akhirnya
mengerti dan dengan gerak gesit ia menodong nama. Rianti tidak memberi dan Rara
tetap menodong dengan serius. Rianti pun tetap tidak memberi nama dan ia
menjelaskan bahwa lelaki itu hanyalah ketidakbergunaan di masa lalu. tidak
perlu diundang di masa kini. Rara terlihat mendongkol. Rianti mencoba
menghiburnya sebagai pengalih perhatian namun Rara tetap diam dan masih
mendongkol.
tanpa peduli sikap Rara, Rianti
menyambung dengan menyatakan bahwa ayah Rara tahu hal itu namun ia tiada kuasa
karena antara ayah Rara dan Rianti saat itu memang tiada pertautan. jarak
buatan ayah Rara – untuk menjauhi Rianti – dimanfaatkan dengan baik oleh
pelaku. tatkala menyebut pelaku, Rianti kebingungan ketika harus menyebut apa
untuk pelaku tersebut, namun dengan tangkas Rara mengidentifikasinya sebagai
“Pelaku Primer”. Rianti sedikit bingung setelah mendengar jawaban itu, tapi ia
setuju menggunakan frasa itu dan kemudian menutup dengan senyuman. senyum kecil
juga ditaburkan oleh Rara untuk bundanya sebagai balasan.
bulan terakhir semester tiga, malam
pahit itu terjadi. lantaran sudah mengetahui gelagat-gelagat tidak baik dari
pelaku primer, ayah Rara dan kelima temannya – malam itu juga – langsung
memburunya untuk meminta keterangan. sekitar pukul 01.00 mereka mulai bergerak.
setelah mengatakan hal tersebut, Rianti melihat Rara. Rara pun cuma menyatakan
“hemm” sebagai tanda masih mengikuti dan menyetujui penyebutan “pelaku primer”
dari bundanya.
Rianti meneruskan deskripsi bahwa
para lelaki tersebut langsung menuju rumah kos pelaku primer. sang pelaku masih
terjaga dan di situ juga ia diinterogasi. tidak sampai tiga menit ia telah
mengaku dan ia langsung dihajar habis-habisan. pelipis kanan pun robek, hidung
berkucur darah, dan dua gigi seri atas luruh ke tanah. itu belum kerusakan internal
pada perut dan dada. beberapa penghuni kos di sana keluar karena mendengar kegaduhan
tapi mereka tidak berbuat apa-apa. mereka hanya jadi penyaksi. Rianti mencoba
bertanya kepada Rara apakah anak itu tahu bagian terburuknya. Rara menggeleng. Rianti
pun memberi tahu bahwa ayah Rara hampir saja menusuk perut pelaku primer dengan
pisau, tapi kawan-kawan lain dapat cepat mencegah. Rianti berhenti lalu melihat
Rara lagi dan ada “hemm” di sana.
Rianti melanjutkan cerita. ia
menambah frasa “pelaku sekunder” dan “pelaku tersier” sambil menatap Rara. Rara
hanya “hemm” saja. Rianti mengungkapkan bahwa mereka berdua jadi mudah dilacak
berdasarkan keterangan pelaku primer. mereka juga dihajar habis-habisan di
tempat mereka ditemukan. sambil meraih gelas berair putih ia kembali menanyai
Rara apakah itu semua terasa cukup untuk para pelaku. Rara pun menanggapi bahwa
itu mungkin sudah cukup. Rianti meletakkan gelas kembali setelah meneguk air di
dalamnya lalu memberi kabar bahwa ternyata hal tersebut tidak cukup untuk ayah
Rara dan kawan-kawan. Rianti diam sejenak setelah berceloteh dan Rara tidak
berani menyela.
mereka ternyata digiring ke kos Mas Vincent,
dekat dengan kos Rianti. warga di sana sudah terlelap. di beranda, kedua tangan
para pelaku diikat ke belakang, mulut mereka disumpal, dan tubuh mereka
diletakkan begitu saja di atas tanah. mereka berenam tidak tidur di sana.
sehabis Rianti bercerita hening melanda.
pagi-pagi, mereka membawa ketiga
pelaku ke kos Rianti. ayah Rara memang pelakunya, tapi ia tidak sendiri. kelima
temannya terlihat berdiri di depan pagar kos, di jalan. ketiga pelaku tergolek
lemah di halaman parkir untuk tamu dan di belakang mereka ada ayah Rara;
berdiri dengan penuh kebencian dan dendam.
Rianti mendekati ketiga pelaku dan
memang benar perihal duga bahwa suara itu berasal dari dia, si pelaku primer –
teman ayah Rara sendiri. Rianti hanya salah perihal satu duga: ternyata ayah
Rara sama sekali tidak terlibat atau malah menjadi pencetus masalah. Rianti pun
membeber satu rahasia kecil kepada Rara bahwa hingga di masa itu ayah Rara
belum tahu duga hitam tersebut.
Rianti meraih selembar tisu untuk
menyeka kedua matanya satu per satu. paras ayunya telah segar kembali. tidak
ada lagi ketegangan di sana. wajah Rara pun tidak lagi menunjukkan empati untuk
bundanya dan ia sudah mengerti alur cerita. ia sendiri sudah tenang lantaran
tahu bahwa bundanya telah memperoleh pribadinya kembali.
setelah peristiwa itu, Rianti keluar
dari universitas. di kampung halaman tidak ada seorang pun tahu masalah
tersebut kecuali keluarga. hal itu tentunya amat membantu untuk pemulihan
mental. teman-teman kuliah pun tidak mengetahui di mana rumah pasti Rianti,
jadi itu pun dapat menjadi keuntungan lain.
tapi, hal paling tidak terduga ialah
munculnya ayah Rara sebagai tamu beberapa pekan kemudian. tanpa tahu sang tamu,
Riantilah pembuka pintu ketika ia di sana. belum genap tiga detik menyadari
kenyataan, Rianti sudah beranjak menutup pintu dengan harap ia pergi. namun,
salah satu tangan lelaki kejutan itu menahan tepian pintu tanpa Rianti sadari.
tenaga perempuan itu terlalu besar sehingga pintu tidak tertutup sempurna lantaran
tangan ayah Rara jadi ganjalan di sana. sang lelaki sedikit menjerit sebagai
tanggapan.
Rara menanggapi dengan menyatakan
bahwa bundanya kejam sekali, tapi Rianti berdalih bahwa ia sungguh-sungguh tidak
bermaksud demikian. Rara tampak jengkel dengan sosok di sampingnya tapi ia
tidak bertindak apa-apa. Rara lalu bertanya apa kejadian kemudian dan Rianti
menutur bahwa tentu saja ia membuka pintu untuknya. ia masih ingat betul
bagaimana lelaki tersebut memijit-mijit jari-jarinya. wajahnya menahan sakit
dan tampak keheranan menatap perempuan di depannya. namun, momen itu tidak
lama. mereka pun saling pandang; pelan-pelan, lelaki tersebut kehilangan rasa
sakitnya dan sang perempuan malah mendapat sakitnya kembali di dada.
Rianti tiba-tiba tertunduk dan
menangis. ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. rasa sakit itu kembali
mengusik dan rasanya sama sekali tidak berkurang. sakit sekali, katanya.
tiba-tiba, ayah Rara mendekat kemudian memeluk sang perempuan dengan erat. erat
sekali, katanya menegaskan. sang perempuan pun tidak mengerti mengapa ia tidak
berontak. tapi, ia hanya tahu bahwa ia benar-benar merasa nyaman kala itu.
sejak pertemuan itu, semua jadi
berbeda. orientasi dan perasaan Rianti berubah drastis terhadap ayah Rara. sebagai
awalan, sang perempuan memang kaku. tapi, lama-kelamaan ia mampu mengatasi. sang
lelaki pun datang saban akhir pekan tanpa pernah sekalipun memberi penjelasan
bagaimana ia mendapat alamat rumah sang perempuan. ia masih berkuliah dan juga tetap
berorganisasi. di kota itu pula, Rianti akhirnya mendapat universitas baru
untuk melanjutkan kuliah dengan surat-surat resmi dari universitas lama. alasan
kepindahannya benar-benar jauh dari kenyataan. itu demi menyelamatkan karier Rianti.
tidak ada pengalihan kerugian sama sekali di sana kepada siapa pun.
hubungan Rianti dan ayah Rara terus
berjalan dan berkembang. ayah Rara tidak sekali pun pernah menyinggung kejadian
malam pahit tersebut. ia mengenal kedua orang tua Rianti dan Rianti pun
mengenal kedua orang tua sang lelaki ketika beberapa kali bertandang ke rumah
sang lelaki. geng Wise Punk baru pun juga kerap bertandang ke rumah Rianti di
sela-sela kesibukan kuliah. ada beberapa di antara mereka membawa kekasih
mereka tatkala bertamu untuk menemani Rianti. mereka semua tidak pernah
merendahkan Rianti berdasarkan peristiwa itu melalui pandangan, kata-kata, bahkan
perasaan. tidak pernah, kata Rianti meyakinkan.
-
||| terlihat, mereka berjalan
mendekat. Rianti dan Rara menatap mereka secara serempak namun kini
mereka memandang dengan rasa berbeda. Rianti berdiri, mengulurkan tangan, dan Rara
menyambut. mereka berjalan dan berdiri di mulut beranda sembari memandang. |||
-
Rara bertanya apakah bundanya akan
memberitahu duga hitam itu kepada lelaki tersebut dan sang bunda menjawab bahwa
hal itu semestinya impas karena hingga kini lelaki itu pun belum memberi tahu
dari mana ia mendapat alamat rumah dirinya. tapi, Rianti menegas bahwa hal itu sebenarnya
bergantung kepada Rara sendiri. ia akan memberitahu kepada ayah Rara kapan pun
dan di mana pun Rara suka. jika Rara tidak ingin hal itu terbuka, itu pun juga
bukan masalah. Rara bertanya kenapa dan sang bunda mengatakan bahwa ia ingin
mengajari Rara tentang tanggung jawab dalam memilih di antara dua pilihan.
keduanya sama-sama baik namun memiliki makna berbeda.
-
||| Rara mengerutkan dahi. Rianti
tersenyum melihat kedunguan eksentrik itu. karena melihat bundanya tersenyum,
maka Rara pun tersenyum. indah sekali pemandangan mereka berdua saat itu.
ah, aku baru sadar kalau mereka sudah sampai di
mulut pagar halaman rumah. di salah satu tangan mereka ada bunga-bunga
bertangkai dengan beragam warna, bentuk, dan aroma. mereka membuka pagar
sembari tersenyum kepada mereka dan mereka membalas senyum itu. Rara berlari
menyambut mereka dengan penuh kegirangan. ia langsung memeluk seorang
lelaki dewasa dengan amat erat. si lelaki agak terkejut dengan aksi itu namun
ia membalas pelukan Rara dengan penuh kasih sayang seraya berlutut.
sambil mempertahankan pelukan, Rara
mengatakan sesuatu namun tidak sampai terdengar jelas oleh Rianti, juga olehku.
raut muka si lelaki tiba-tiba berubah: dahi berkerut sebab terkejut. ia melepas
pelukan dan memandangi Rara dan Rianti secara bergantian hingga Rara menuntaskan
bicara. satu menit saja kukira. Rara masih terlihat ceria saat memandangi si
lelaki dewasa.
tiba-tiba, Rara mengatakan sesuatu
kepada lelaki satunya. lelaki itu terpaut satu atau dua tahun lebih tua dari Rara.
aku tidak tahu pasti. sebenarnya, lelaki belia itu sedang mencerna pernyataan Rara,
namun Rara berhasil membujuk lelaki belia untuk segera menjauh dari rumah,
menuju tempat lelaki dewasa dan lelaki belia berada sebelum mendekat.
tangkai-tangkai bunga di tangan lelaki belia itu pun ikut menjauh. Rianti pun
bertanya-tanya sendiri kepada hati perihal perkataan Rara kepada lelaki dewasa.
ia menuruni jenjang, berjalan
sepanjang jalan halaman rumah dalam apitan tanaman-tanaman dan bunga-bunga
taman, hingga sampai di hadapan si lelaki. si lelaki mulai berkata-kata tentang
sesuatu, begitu juga dengan Rianti. namun, aku tidak bisa mendengar dari beranda
karena teramat pelan. meski dipunggungi, aku tahu bahwa Rianti sedang menangis
seraya berbicara. lelaki itu pun demikian. mereka seperti itu lama sekali di
bawah lindungan sinar mentari sampai Rianti memeluk si lelaki dengan amat erat dan
lelaki itu pun membalas tidak kalah erat sebagai penutup kata-kata. |||