Minggu, 04 Desember 2011

Kausalitas Biru

         : Matahari

pernah kubertanya kepada takdir
apakah bahasa kepada mentari adalah normal.
(tiada jawab)
-
terka tunggangi dahan ingatan,
tak sanggup kulucuti dengan seka keceriaan.
berdenyut pada selaput firasat,
melansir remah-remah penyesalan.
hantui segala performa tatkala kucoba menjadi biasa.
tapi, gumam sayu itu tetap saja mengibar-ngibarkan asing
seperti cengar-cengir genta amat menjemukan.
-
seperangkat pelaminan hiasi taman kencana.
ada sepasang merpati sedang bercumbu
jua satu gua menembus ke satu bilik
di mana aku bisa mendekapnya dalam guncang berahi.
juga kisahkan tentang rindu terpompa dari liat asmara.
namun diri tiada mengerti
mengapa hanya lirik mata ia oleskan di atas sekarat.
setidaknya, ia berusaha menekan tuts-tuts konspirasi
agar mampu pahami sebuah raung sumbang. tawarkan cinta
atau sekadar dengarkan rentetan siul ikal.
hadirkan seruan ‘tuk meninjau cuaca kemesraan
-
hilang sudah semesta sebab.
terisolasi oleh bambu-bambu derita
dan, sepi ialah ritual kremasi sempurna.
-
Sleman, November 2011 

*

Apologia

         : Matahari

mungkin, tak ‘kan pernah ada sinar ataupun aura
untuk sekadar bertegun mengenai sebuah resepsi.
kita untai dalam naung panggang
di atas bara gairah membentang.
-
mungkin, kau pun tak ‘kan pernah mengerti
bahwa ujian sesal padaku meregang.
melimpah dari satu dunia lusuh
lantas mengalir ke bait-bait aksi dan mimpi.
bergerak seiring getar landai sang kelana
hingga tiada lagi cerita.
juga sejuk senyum para boneka.
-
mungkin, kau juga tak ‘kan pernah tahu
tentang pekik lemah dan garis kegentaran.
belum sempat kuserut ‘tuk kujadikan simbol-simbol ampun.
berharap bisa segera kutuai, lalu kutembakkan padamu
sebagai mata air sekaligus saksi bisu.
lambaikan permohonan mungil
perihal ketaksanggupan diri
saat mencoba luluri cuping hatimu dengan cinta.
-
mungkin, dirimu ‘tak kan pernah menduga
jika gurat maaf tengah kukelola
adalah alienasi berat dan menganga.
-
Sleman, November 2011 

*

Menawar Nestapa

         : Matahari

remuk ini menggelegak.
sekian lama terkurung dalam cangkang beta.
seperti celoteh timbulkan nyeri dan sembilu
tanpa peneduh.
-
tiang-tiang beta melentur.
tanggul-tanggul pengikat perkasa, pun
telah tergerus dan tak lagi terbaca.
sisakan serumpun engah, tengkurap tiada daya.
-
pernah beta lari, tuju tanjakan.
cari kepatutan ‘tuk sinergikan geliat
agar beta tetap beriak dan mampu merancang kemesraan.
tapi, beta cuma temukan lompong dan beling.
jua bongkah-bongkah undi, sudah putus dan menghangus.
-
beta hanya tergantung di atas dipan tua.
hilang sirip, juga nircipta.
bertempur dengan rumus-rumus tak terinci.
sekadar menanti getar bening ‘kan berikan rasa
dari tetesan samudra cinta.
-
Sleman, November 2011 

*

Sasmita

         : Matahari

bel di dalam kabin ragaku meriuh.
redup sebuah pelita pun menjadi akta ampuh, bahwa
kunjungan untaian sekar putih wangi padanya
telah terberai dan melebur.
-
dengan desah
aku bergerak pada jalur-jalur fakta.
coba mereka kembali sesal dan timpang terjelajah.
-
di sana, terbayang dirimu tampil jelita.
melintang di depan diamku,
terbujur di antara panik dan pusingku.
         perlukah kita berdiskusi lagi?
-
nada-nada bahasa ini mendesak untuk segera mengelak.
helai-helai tafsir sudah hilang surya, juga setia.
hanya haus tersisa,
menyusul pula tikaman-tikaman nirsengketa
menguruk hangat cintaku di dalam parit berparasit.
-
aku berada pada jagat superhening.
leluasa persepsikan ambisi-ambisi alami. terpental.
pun lekas pipihkan rinai rindu. mengencang.
agar sebuah mahakarya tak luput lagi dari kelokan tak bertuan.
-
Surabaya, November 2011 

*