senja menyapa tatkala aku membuas di tentang altar.
merintis rindu
setelah guyuran pelangi membekap atensi.
-
baharimu telah menciumku, bersama paras.
buatku bergelinjang. tergelepar dalam kelesuan.
rona terkelupas
dan sedap cuka tak segera lekang di bantaran mapan hati.
-
aduhai, bahkan tolehmu kerap menyergap.
berondongi fiksiku dengan mimik-mimik
hingga asmaraku berkabung.
bersimbah cemburu
di adukan kopi mendung.
-
kosong ini pun tergerai.
melandai seiring khilaf melata.
tinggalkan orisinalitas magis,
kerap kukuak di balik kerdil sang fana.
-
oh Tuhan, jangan izinkan lintasan kucel ini menggapai!
aku masih ingin mematut di rida primaMu.
-
Sleman, Mei 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar