Minggu, 02 Oktober 2011

Diktum

         : Matahari

aku
tegak lurus. dengan keringat tiada mahkota. berdiri. di ujung spiral kehidupan. kuas dan buku gambarku kuseret ke gudang. tak ada lagi seni mulia tentang kata-kata cinta. ya, aku lara. 
-
kau
memetik buah dari sketsa milik Tuhan di keintiman malam; tentang isi. lantas, membidik lalu lemparkan satu tanda ketakramahan. menderu lantang menuju hatiku. dan clapp… menembus tujuh lapis makna. aku nestapa. 
-
kita
pernah bersua pada pernak-pernik semampai. jua bersitegang dalam iritasi, tercopot dari jalur-jalur api. opsi kita masih panjang. memang sukar dan ekstrem. tapi, aku telah mengusut. bahwa, mungkin kau tidak nyaman, pun alergi, berada di antara kerut-kerut ketakwajaran ketika kutempelkan pada tembok-tembokmu. jadi, lebih baik aku memungut kembali hatiku saat dulu pernah jatuh di depanmu. 
-
Sleman, September 2011

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar