Senin, 01 Juni 2015

Ruang Tawa, Ruang Tersunyi

sumbu kesabaran tiada tenang. hilang keanggunan dan keistimewaan. pembacaan penari, peragawati, dan maharani di kuil privat berubah menjadi bala tentara beserta kemelut. 
-
astakona nurani sudah asimetris. mengundang tekanan-tekanan berkelas. kian bersenang-senang secara berkala adalah ladang tempat menyambut sendu dan merana. seperti gempa. sekadar membulati darurat ke dalam diskualifikasi.
-
kau mungkin tetap kibarkan makalah untuk hati ke hati, tapi untukku itu cuma berita haram. ingin sekali jembatan ini kutegasi supaya kau kenali rahasia bahwa maket-maket sawah dan peternakan kita ialah sesumbar kopong belaka. namun, epidermis pelindungmu teramat rentan bila disikapi. maka, aku merasa biadab kalau kau sampai dengungkan air mata demi menolak tabah pada lantai seremoni.
-
setangkai lipstik bekas sanjunganmu di baju ini pun perlahan melemah. kelak bisa jadi hangus karena panggilan dari senar kecapi sang tradisi terlalu sengit dan murka. jika wajahku telah melangkah dan tinggal di balik semak-semak, kau kan paham perihal belantara berawan di antara kita. semua primata seperti mereka punya perincian koreografi dan transformasi sendiri ‘tuk menggenggam arus. kita hanya inlander alit di sebuah keraton dan tak memiliki layak terhadap aksi dan navigasi mana pun.
-
Sleman, Mei 2015

*

Proposal Cinta

karya Khoirul Anam, Juni 2015.

sebagai penyidik, telah kutempuh pagi dan ombak secara kesetanan. membesuk semua tuan rumah di sentra dan samping piramida pergelaran. tremor-tremor sasmita menyusup ke selat-selat desah satu per satu lalu tiba-tiba aku terkubur dan menjadi tahanan di balik tembok kuningmu.
-
sebagai petaruh, telah kuziarahi suatu aroma dan kehangatan pada jarak dekat. menyongsong griya-griya penabur opium teratur dan terselubungnya. tapi, cuma kosong melompong kupergoki. tahu-tahu, akhlakku sudah tergantung manja di tulang belakang birumu.
-
sebagai pendaki, telah kukumpul serbuk bersukma berdasar geometri. kupakai ‘tuk berinteraksi dan sebisa mungkin merapat ke dalam kenangan pirangmu. namun, kusadari kau sengaja meledek dan ceraikan sekujur sakit dan siksa ini tanpa pernah sekalipun terpaku dan tertarik ‘tuk melacaknya lewat kehalusan dan ketulusan riset pribadi. jadilah aku mati raga, duafa, dan sekarat. terguling ke bawah tatanan aneh berumbar pilu.
-
saat terbaring di kehampaan, kerikil-kerikil konsekuensi berembus dari ranting-ranting sebuah panggung perdebatan. ternyata, selama ini ia mengamati dan menalar segala konteks logistik milikku. ia bangkitkan konfrontasi, dengarkan halusinasi, dan bahkan merevisi eksperimen itu dengan karnaval menghibur. tentu ia tak mengancam kabel-kabel komando di kepala atau membawa-bawa kesulitan ini lebih kalap dan berkobar-kobar. ia sekadar ingin mengirim tim atau terapis agar terjelma rekomendasi bahwa kau memang korban terimut di pesantren beliaku nanti.
-
akhirnya, selinting penilaian menemui; berkedip-kedip dan bernapas seiring tasbihku kepadamu. hanya melalui azimat mentereng inilah ada harap dapat menarik dan mengangkut detik dan menit sinambungmu supaya terjemput janji mulia antara aku, kau, dan kita berdua.
-
Sleman, Mei 2015

*