sumbu kesabaran tiada tenang. hilang keanggunan dan keistimewaan. pembacaan penari, peragawati, dan maharani di kuil privat berubah menjadi bala tentara beserta kemelut.
-
astakona nurani sudah asimetris. mengundang tekanan-tekanan berkelas. kian bersenang-senang secara berkala adalah ladang tempat menyambut sendu dan merana. seperti gempa. sekadar membulati darurat ke dalam diskualifikasi.
-
kau mungkin tetap kibarkan makalah untuk hati ke hati, tapi untukku itu cuma berita haram. ingin sekali jembatan ini kutegasi supaya kau kenali rahasia bahwa maket-maket sawah dan peternakan kita ialah sesumbar kopong belaka. namun, epidermis pelindungmu teramat rentan bila disikapi. maka, aku merasa biadab kalau kau sampai dengungkan air mata demi menolak tabah pada lantai seremoni.
-
setangkai lipstik bekas sanjunganmu di baju ini pun perlahan melemah. kelak bisa jadi hangus karena panggilan dari senar kecapi sang tradisi terlalu sengit dan murka. jika wajahku telah melangkah dan tinggal di balik semak-semak, kau kan paham perihal belantara berawan di antara kita. semua primata seperti mereka punya perincian koreografi dan transformasi sendiri ‘tuk menggenggam arus. kita hanya inlander alit di sebuah keraton dan tak memiliki layak terhadap aksi dan navigasi mana pun.
-
Sleman, Mei 2015
*
