Minggu, 05 September 2010

Mengarau Cinta

         : Matahari

di kancah kehinaan, ada ambisi.
beberapa ronde dan sesi, jua opsi.
seluruhnya sengketa, adakan duel multicedera.
menjelma seperti reuni lumrah, terasah.
nobatkan berjuta rindu, edarkan replika.
-
di sudut karantina, sahaya terjun.
antusias mencari warta:
            terkadang rela, jarang jauhi papa.
ingin gulirkan cinta.
coba memikat ranggasan surya.
daraskan kasih dan sayang ialah harap berkelindan.
(senantiasa, mendekap masai-lapuknya matahari tanpa bulan)
-
sahaya tersangkut.
tercerabut dari akar prima lalu terterjang gerbong merah muda.
            “aku meratap. kehilangan kecermatan dan menggaet ribuan duga.
jasmani-rohani bersitegang. rampungkan gamang tertunda”.
akhirnya, tertuduh. ketenaran terbangun luruh.
-
sahaya, gencarkan konspirasi.
berembuk untuk muluskan satu hati dengan Michie
-
Perjalanan Surabaya ke Yogyakarta, Agustus 2010


*

Remah Hati

         : Matahari

tiba-tiba, engkau melantik kemelut absolut.
            (segelintir pangkal tertenteng. seperti sebuah harmoni
menyantap dengan sengat).
-
harkat beringsut, menjadi gersang-jadi pantangan.
ada orasi di kehausan.
semburkan kesima dari leding rindu terbelenggu.
merajalela. memasung aspirasi ungu di antara gegar hasrat.
-
padamu, tergolek seekor gundah. berkoar.
terlelap di rimbun kelepak.
di hadapmu, logika terbengkalai.
percik-percik performa tak mereda.
(ada semutasi) bugar ke begah, jenaka ke petaka.
-
malam lesapkan lidah, dini lamurkan netra.
aku, mulai terpupus dari semestamu.
coba menggurat riset untuk referensi.
aku, menilik.
selidiki isu demi menghardik akad nikahmu.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Sajak Pasi

         : Matahari

         “tak kan kulalaikan, tak kan jadi bualan”,
         janjiku untuk seperempuan.

aku memulai dengan kompromi. menghuni rimba cinta berlambar kasih. ada introspeksi, ada autentik, ada agresi, ada gelora. bergelimpangan kembang-kumbang, berceloteh tentang etalase merah muda seperti investasi jinak tak terkuak.
-
aku berkumur wangi. tak gegabah untuk merancang dan memerinci. kodratku laki-laki: mengadopsi salah, menantang kendala. namun, pelitur rindu meruyak. berjibun, berkilat, menilap harap. memereteli indera. akhirnya, trauma menguntit. kehilangan solusi dan dapati nahas diri. tercecar. suntuk dan mutung pun jadi mandat.
-
aku membalut luka di kelingking sukma. sinis menatap asa. tiada salut, kecuali diskriminasi kian elegan. hanya sebagai penggemar, mungkin. coba tautkan hati pada matahari untuk hidupkan semi. hanya sebagai furnitur, mungkin jua. jauh dari kata “suami”, jadi lempung termaki.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Ode untuk Michie

         : Matahari

aku maestro.
melucuti segala humor dengan tegar.
adakalanya ada hening, berguyur komplikasi.
ikuti mazhab ataupun membekap derap.
-
tiap malam, ada ode untukmu.
menjangkau dan menghantam, memukau mapan.
seperti boneka imut merongrong kontan.
-
ode itu bongsor, seperti kegigihan belandar.
refleksikan satu akselerasi menuju timpang.
di situ ada cinta: memanggul asumsi, jua talenta.
Mengabrasi, keriapkan janggal dan tunaikan deportasi.
-
ode itu cantik, memantik.
paparkan garang kepada khalayak.
dengingkan kebimbangan gamblang menyelempang.
beberapa sajak menginterogasi
laksana buraian razia di semak gulita.
tuk berdeku, menunggu.
-
ode ini untukmu, kau tahu?
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Bersedekah Sajak

         : Matahari

inilah retorika. sajam atraktif sebagai pamer.
representasi debur jiwa yang nistakan cahaya.
         beberkan cinta, purukkan asa dalam mesra.
-
hari-hari kian parau.
tergelontor parasit lantaran meniti pahit.
tiada grasi, hanya teror berkelintar.
tak ada negasi, hanya rindu memutilasi.
-
padamu, kutangkarkan benih,
beriring fitrah terhala pada konklusi.
konon, khatamkan juang ialah menang
-
untukmu, kumenyelidik.
tunggangi klarifikasi atau lancongi diri.
sempat terpegun.
mencibir alur, omeli lajur, bahkan menukas tempur.
ah...
-
menenung di atas katil merah, syahdu.
mencomot aksara, memandu kata.
rumuskan konvensi dan padankan kemurnian laten.
imbas kegundahan rangup,
sirnakan kegirangan teraup.
-
peranti malam menjadi mentor, afdal.
implisit: sembunyikan kisah sunyi bercalar-balar.
merekognisi gurau ‘tuk membingkas galau.
lalu, aku tersipu.
menunggu bangkai memberus layu.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*