Minggu, 06 Februari 2011

Amnesia

         : Matahari

         Tuhan, izinkan sahaya!

ia hanya perempuan; langsing, tanpa tinta, ceria.
tersenyum semringah di sudut koridor.
laksana mawar lembap, siap lenyap.
-
pada lumpur, sahaya mengincar.
berkelindan bersama cinta dan merah muda.
rindu menyelundup kala lengah.
dan, episode pun tertabur, sembari
cakapkan luput di kulit pipi.
-
gamang terengkuh. hingga, opium jadi empu.
cantiknya, munculkan amuk dan riuh pada tiap lirik.
coraknya menyergah.
lambungkan sayang, lantas
tandus terbentang.
-
hai Jingga,
lipatlah puja sahaya.
tinggal puing-ironi belaka!

-
Sleman, Januari 2011

*

Menaksir Sakura

         : Matahari

  sungguh, bukan mudah

seperti iman,
mengasah penat dalam gemerlap rimba.
gunung teremban layaknya kantuk terlarat.
-
leher mulai terbenam. lantang.
lima mata angin tak lagi cantik.
(hanya) sisakan hangus pada titik nol.
keluarkan gurat asap keguguran.
nyeri. pun kian usang dan lamban.
-
aku terbersit.
jera menyusup,
genangi sehat dengan tera lesu-kelu.
turut pula sejumput rute merah muda; tunjukkan palsu.
dan merpati pun berkoar tentang bangkai jadi arang.
-
di balik panggung aku bergulung-gulung.
  daif.
menyongsong sayu berkicau angkuh.
-
Sleman, Januari 2011

*

Matahari

         : peri

yah …,
debarku mengucur kembali.
leleh. lewati istana di pucuk uzlah, hanya.
-
tak kunyana, kumenyaruk lantai berhijau taman.
musik selimuti malam. beberapa tambur bersinden merdu.
pada pancar, terbentang sayap.
… aku pun menyuruk.
-
di ambang duga, aku melihat kau.
kau, kau, kau, dan dia.
saling mengisap cinta di lahan pesta.
-
tegapku lungsur.
seuntai onak mengoceh deras.
takjub pada kebekuan hampa.
matahariku jadi tumbal seorang Arjuna.
-
ah,
darat tak lagi dangkal.
lahirkan senjang dan jenuh di atas ratusan pinggan.
-
aku pulang.
dalam gerai jiwa cuma muram menyalang.
-
tumbangku tertiup dingin hawa.
dan segarku tertetes gelap tanya.
-
Sleman, Januari 2011

*

Pengendara Sampan

         : Matahari

  di laut.

ada perbincangan di antara lemas-lumpuh dan jepit-kernyit.
kadang, lontarkan senyum kusam kala picing terjerang.
-
cintaku didih dalam seraut cerek.
rindunya berjibun. lamat, penuhi ujung jangkung.
-
laut mengibas, mencangkung di bawah awan rumpang.
payauku rindang. arungi sayang kian bergelombang.
-
aku tersingkir, terbelah, patah.
bunuh diri seakan arah.
pun disuguhi luluh menerkam darah.
ah,
-
tak ada mutiara. tiada mawar rekah.
hanya tempias ungu berbau teluh.
selubungi rumbia nyali
tuk merajut aliran kiri.
-
di laut,
aku membesukmu.
-
Sleman, Januari 2011

*

Histeria

         : Matahari

ya, pepatah mengata bahwa tebing ialah surga.
memang berdesis.
teguhkan konstelasi dan kibarkan mahkota, tapi
di gelap ini sahaya mengerkah.
ringkih terpenjara.
-
kerap muram. pasrah pada merah menikam.
seperti jerat, sembunyi di hampar lelap.
nuansa tiada ringan
hiasi detik hingga tegun adalah pungkasan.
-
cinta sahaya pucat: kumuh, kuyu, bungsu.
tanpa senyum dan gaun beledu.
rindu sahaya tercecer
dimangsa sumpah, diolok angka.
ah …
dan hujan sengkarut pun tiba-tiba tiba
tambatkan napas pada suntuk persepsi.
maka, sahaya cium.
berharap simpuh-ringkik jadi bukit
di akad nikah milik misteri.
-
Pasuruan, Januari 2011

*