Tuhan, izinkan sahaya!
ia hanya perempuan; langsing, tanpa tinta, ceria.
tersenyum semringah di sudut koridor.
laksana mawar lembap, siap lenyap.
-
pada lumpur, sahaya mengincar.
berkelindan bersama cinta dan merah muda.
rindu menyelundup kala lengah.
dan, episode pun tertabur, sembari
cakapkan luput di kulit pipi.
-
gamang terengkuh. hingga, opium jadi empu.
cantiknya, munculkan amuk dan riuh pada tiap lirik.
coraknya menyergah.
lambungkan sayang, lantas
tandus terbentang.
-
hai Jingga,
lipatlah puja sahaya.
tinggal puing-ironi belaka!
-
Sleman, Januari 2011
*