Jumat, 04 Januari 2013

Perjamuan Cinta

         : Maryama al Kad

tawa tepuk tangan di silam adalah baringan prestasi.
layaknya bukit; terlihat megah nan keren.
namun ada bentol-bentol musibah termaktub
di lipatan kurikulum.
-
drama pelayaran kita adalah periode hiruk-pikuk.
ada tabrak terangkat oleh tombak idealisme di sana.
memuncak menuju laut neraka dalam derit penuh kecam
meski ada dukung turut terbeber
di lapangan perkasihan.
-
keleneng kegagalan mengalun sayu dan kian mengawang
adalah siuman magis, keluar dari portal pendopo perjumpaan.
memaksa kita untuk membongkar segenap incar dan kejar
pada terowongan sarat bujuk rayu
dadu-dadu keriilan.
-
di gerbang ini, kita masih saling mengusut
di antara bising gema-gema peluit jaga dan amanah.
menaruh tato-tato rencana di atas angin silir
sembari berkonsultasi dengan tindak dadakan
untuk belajar melepas atensi
dan saling melupakan.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Embun yang Mengapung di Mata

         : Maryama al Kad

saban kali aku menukik menuju kemanunggalan halusmu
selalu saja ada unsur menutup.
bangkai-bangkai larva itu
silih berganti berikan santunan dari tur maut
‘tuk mengompres antik matamu;
seperti ada gendam dirilis dalam kegaliban.
seperti bius kolektif dibual dalam kewajaran.
memperdaya konsentrasi taktismu dalam samar.
kelak membekuk kastel indahmu
dalam kemaluan tak tersadar.
-
bila nanti spekulasi sucimu telah dicuci
lantas diledek oleh gegabah,
maka aku ‘kan datang dengan mukena dan doa.
dengan segenap ketakmampuan dan kegagalan
sebagai seorang pelayat bertangis luka.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Butir-butir Pasir yang Menguyupi Tubuh

         : Maryama al Kad

bijih-bijih pasir di kontur indahmu adalah buah aksi para petani. ingin menggarisi tepuk dan ketuk sintal. silih berganti memupuk dengan anggukan dan sanjungan berkala hingga kelabu dan tipu jadi simpang nan enggan kentara. 
-
aku bukanlah wira dengan lembaran epos dan paragraf-paragraf sejarah. juga bukan seorang pejabat psikologis dengan lagu-lagu alegori dan tutur kosakata pelipur duka. tapi, aku adalah gembala dengan bendera angkasa dan benih batu karang. kuhimpun dari tetes keran surga. 
-
aku hanyalah sukarelawan kotor untukmu. berkehendak menumis jiwamu dan berikhtiar ‘tuk mengurai lumuran butir-butir subtil di siar lahan rapuh agar ilmu tertusuk lidi keteguhan tetap rapat tersimpan dan takkan pernah tercabik dan tertukar oleh perilaku jahanam. 
-
sampai di titik ini, aku masih berusaha meraih tali kepang undian milik penguasa sembari berjudi dengan caci maki, benci, dan tensi kekesalan. ada lekas mesti kujuang sebelum arang menjadi indikator menghantam. bila kelak bertunas, maka kegirangan itu akan bersulang bersama gurau di antara bulu mata liar kita. bila kelak tumpas, maka itu adalah cetak biru milik Tuhan, memang harus ditunaikan sebagai pameran kehidupan. 
-
Sleman, Desember 2012 

*

Memungut Rindu

         : Maryama al Kad

sayang, aku ingin memungut rindu dalam tubuh kerucutmu.
coba mengais rangkuman rezeki
oleh harum jasad mamalia
pada satu basis persalinan. diapit gerimis
di atas jerami kebanggaan.
-
sayang, aku ingin memungut rindu dari sekar misterimu.
berjalan mengitari tepian kertas-kertas negosiasi
seraya berinteraksi dengan sebuah majelis hujan
dan diiringi parade kasih sang bintang-bintang.
-
sayang, aku ingin memungut rindu di episentrum cintamu.
berenang di petak-petak kampung tua, tergetar oleh rasa
saat erang kegalauan itu
meneteskan mukjizat. merombak tongkat kepekaan
menjadi origami kepatuhan.
-
jadi, bolehkah malam ini rindu itu kupungut
demi menit-menit erotis bakal kuketik?
-
Sleman, Desember 2012 

*

Janin Kebencian

kartu pos itu selalu datang bertubi-tubi.
dikirim dari bukit bencana sebagai jawaban
untuk satu pertanyaan
tentang tengadah tatkala kujemur
di ranting malam.
-
ada definisi terukur di atas bidang pualam itu.
mengabarkan tentang cipta bakal bayi
dari ekspedisi nafsu
tatkala kemanjaan tak terarah dariNya
ditanamkan di alis belakangku.
-
konon, banyak orang terjebak
pada irigasi penafsiran sama, bahwa
siulan kecengengan ini adalah skema temporer
sebagai satu kejutan. tak perlu dihindar;
menganggapnya sebagai tuah atau berkat.
masih terbungkus kapas tua
dan terkontaminasi aturan-aturan lama.
-
tapi,
tembusan panggilan siluman batin bak amunisi ini
memintaku untuk mengusut. setidaknya,
aku menatap dengan saksama
sebagaimana seorang editor jiwa, mendiagnosis rasa.
dan jika kabar dari terminal periode itu adalah benar,
maka ia patut kubunuh sebelum ia berbagi tawa
dalam kebencian utuh nan angkuh.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Tinta Darah

kayu dan batu muruah kububuh dengan tinta darah.
masih tersimpan di lipatan senyap.
kasidah terlampir di pinggiran animasi surganya
senantiasa melepaskan musik-musik dewata
pada deretan siang.
-
aku adalah peziarah. kerap terjebak, – dan tak sengaja –
mendomisili kodrat. termenung
di kolong kemufakatan itu: sebuah kampung diam
dengan ribuan musuh di dalam tenda siaga
untuk menghadang dan merampas.
-
barisan ajaib nan kotor dan menyimpang itu
adalah penyakit berkerumun.
mereka adalah pemburu dengan rahang terbelalak.
melompat-lompat di antara ambang-ambang krusial
untuk menakuti. dan kuku-kuku mancung mereka
adalah parang, mesti kuwaspadai.
-
tentu, desain sang arsitek menjulang
di atas hektare keabadian. di sana adalah sebuah misi.
adalah picik bila batu dan kayu itu kupungut
dengan satu kaki dan perspektif skeptis
seraya mengamini instingku. cenderung siap
‘tuk menumbang kepul harapan
dan empaskan rukuk pancangan dukungan
di pusaran waktu.
-
maka, di kasur kepedihan inilah aku berjanji bahwa
gulungan magenta kudus itu ‘kan tetap kukelola
dengan segenap pupur spirit tersisa meski
burung-burung gelap di sana sedia berkompetisi
‘tuk hancurkan bubung rinduku
hingga berkeping-keping
atau bahkan mati.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Jejak Tawa yang Termaktub di Tembok Duka

aku sudah mengembara dan berpelesir
‘tuk hilangkan prihatin. telantar di saung khilaf.
kusempatkan pula ‘tuk pergi
ke berbagai undakan. menampung debur-debur cahaya.
namun, kepada mural itu jugalah aku pulang.
-
misteri di balik selempang warna itu
masih saja menabuhkan syak wasangka.
ia bagaikan busur. selalu melempar tegur.
menuding keterlibatanku
tentang anakronisme. kulayang dan lintaskan
pada satu identitas. kutunggang tiada batas.
tersungkur di sana.
tiada pula coret tawa tercetus
lantas runtuh ke dalam tangki amarah.
semua itu hanyalah memori. belum terpilah
dan masih tengkurap di atas sajadah.
-
kuartal terakhir di tahun lirih ini
memanglah liang lahat, belum sepenuhnya kupahat.
besar kemungkinan bila di sana
ada sebongkah visi nan gadang,
terkubur di dalam lemari berjendela.
‘kan berikan benih karunia
untuk sebuah pemandangan baru
sebelum kokok ayam menerpa
dan mengekang tanyaku hingga tak berarah.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Firasat Kematian

suatu saat,
embusan wangi pada galur tubuhku ini akan musnah.
kancing-kancing tulang punggungku akan lemas
dan tunduk kepada satu tembang, tengah berkecamuk.
itulah fase di mana keberanianku sedang bergidik.
tersesat di atas landasan kepahitan
dan disambut oleh halusinasi tragis, leluasa
mencorakkan cengar-cengir kengerian.
seorang sinden bundar terjun dari langit
pasti akan mengirim lebam untuk menjamah jiwa
dan segera menjebak usus-usus pikir agar mereka
mengarungi rumus edan, gemar terpingkal-pingkil.
-
rangsang kewaspadaan itu
akan senantiasa kupijak dalam hunian batin.
kujamu dengan parfum dan kemenyan merah
sebagai sikap negosiasi di sekujur arah.
dan jika keranda itu tiba
aku akan bergegas mempersunting rayunya
karena tak ada lagi cinta menjilati kotak maduku
di kepadatan harmoni tertata.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kubangan Kesengsaraan

di masa kesejukan sebuah negasi,
aku menilik selembar almanak di teras karunia.
kerumunan angka dan hurufnya terlihat lentur dan tengkurap.
segelintir dari mereka terkelupas dan menjadi kepundan.
-
pada cekungan metaforis itu,
aku merasa seperti balita kehilangan gerak dan gesit.
dimandikan oleh ilusi, melumat kemampuan dan kecerdasan.
menggeser dan mencukilku ke hamparan kemirisan menyeramkan.
tiada dian berkeliaran di sana.
hanya sisakan sinopsis hampa
berdasarkan menit-menit kilah dan perkara
dari sempalan proklamasi cekcok dan kisruh terarah.
-
profil diriku tampak seperti mayat tak bertema
laksana seonggok kiasan terlempar jauh
ke dalam sumur multiduka.
berdiri di antara aral dan sorak ledekan sembari guncangkan sirip.
berharap dapat naik ke sebuah stasiun kemesraan,
ke dalam satu kubu hangat dijanjikan.
– tapi, aku tak bisa –
-
aku mengerti bahwa itu bukanlah sebuah mitologi
atau iklim selalu terdampar
dan mengarsir kekuatan positif di tanah pusaka.
ada dalil-dalil kudus mesti kusitir
dan kutafsir secara realistis di dalam lambatnya gravitasi.
meski kegamblangan dukacita ini menerus kambuh
dan menyerang secara brutal dan biadab.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Senja yang Meleleh di Pangkuan Malam

senja, kecantikanmu di rongga subuh dulu
kini tak lagi berkumandang.
terperangkap oleh retorik sang waktu. menyabdakan ilusi.
kibaran denyar dari pancaran bohlam di matamu pun telah lunglai.
terbendung gorong-gorong mayapada tak berkatup
di atas ambal kecemasan.
-
kau terlilit sumbu kematian.
bertudung kutuk gulita, menyangkal dan menyanggah.
segala komunikasi manusiawi kau umpatkan
kau adalah pusaka, berdiri di atas ladang kaca
di antara satu batalion jenazah. siap mendaki harum tubuhmu
tanpa risih, demi melampiaskan berahi terakhir tak tertanggungkan.
-
hari ini, kulihat kau masih sanggup berselancar
di atas batuan keridaan.
suara beduk mengorbit dan timbulkan berkas-berkas muhasabah,
tak juga tiba di kumparan hatimu.
ingatlah senja, suatu saat, –niscaya–
benang-benang karunia itu akan meroboh-jatuhkanmu ke parit.
lesapkan dirimu ke dalam lahan cemooh.
dan rohmu, akan dijamu dengan tari-tarian perkabungan.
lantas, kau ‘kan menempuh labirin pipa-pipa paranoia
hingga masuk ke dalam guci kecil berjelaga.
-
mungkin, malam terlebih dahulu menekuk amanah,
dilesatkan dari gedung ketujuh.
sampai-sampai kau tak sadar, kekenyangan, lalu tertidur
akibat pengukuhan sahih bertalu-talu.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Menyekap Sejarah

pada selembar akta,
ada sebuah isbat tercelup dan terbujur di dasar tinta.
lembar itu terlihat lemas
terimpit jutaan rim kertas-kertas klimis dan masih bertempur
dengan buku-buku tegak dan mendongak ke matanya.
-
ia adalah peranti, terborgol keniscayaan
relik. ditangkap oleh tubuhnya
adalah ganjal, mengempiskan segenap hidayah
di dalam rute-rute kehidupan. sudah dan akan diorbitkan.
ia hanya ingin melepas napas, telah diwujudkan
oleh noda merah. dengan ornamen cahaya sebagai jubah
figur itu menjelma menjadi caci maki zalim dilematik.
ia lahir dari air mancur spirit dan syiar kekhidmatan. namun kini,
ia hanyalah imbas dari jerat disorientasi menggebu
saat bibir merah di pusat kota itu menyemburkan plakat-plakat pemanis
di kelana petangku.
-
relik itu telah tertampung dan terkandung di atas karpet sejarah.
mustahil jika ia memindah-parkirkannya ke pantai durjana
atau ke satu lokasi penuh dengan kecengengan belaka.
ia hanya mampu menyekapnya pada level gradasi terendah
hingga langlangan ideologi darinya tertutup
oleh keroyokan ciuman. muncul dari tunas cengkerama.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kelok Berahi

adakalanya teluk cinta bertolak dari laut lepas.
adalah atmosfer majemuk, limburi dan mengontaminasi dialog hati.
komposisinya terdiri dari potongan-potongan gradasi kaku, bahkan
kucuran kehangatan dari talang kemesraan pun masih beku.
-
tak usah bingung, menggerutu, atau malu.
tantangan mengecam dan menindas takkan pernah runtuh
bila hanya bergantung pada doa dan dogma.
nikmati saja setiap jengkal transisi dengan leluasa.
dan, jika tekanan hatimu mendadak terkokang dalam lengking
lantas saling bersahutan dengan sentakan arus romantis
maka, saat itulah kau tersangkut di kelok berahi.
terendam di kubangan nirwana, sajikan sebuah situs cahaya
tanpa rupa, tanpa logika.
-
tubuhmu akan merekayasa sebuah catatan
tentang teknik dan tahap.
mesti disuntikkan ke dalam gerak
sebagai satu investasi kejayaan.
kelak kau sandang bersama gengsi kemenangan
dalam sepetak siklus muda terus bergentayangan.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Kasidah Kembang Darah

         : Maryama al Kad

dulu, saat kita saling mengeja bait-bait naluri
ada gelembung-gelembung guncang menghardik induk hati.
dalam diskusi dan obrolan kasual, perlahan-lahan kita merayap
menuju sebuah simulasi gempita pada sebuah lahan buta.
masih berderit bila kita menyimaknya.
-
kita meloncat ke sebuah telaga cinta lantas karam.
tergolek di atas sebongkah batu tak berusia.
sendi-sendi ilustrasi pun kian masak
dan memadati sebuah senarai. kita umpati
dengan dawat-dawat suci, dipungut
dari punuk konservasi.
mengaplikasikan gejala-gejala kasih-sayang
dan saling menukar ledakan di dalam sebuah kandang
dalam kegairahan tak bertulang.
-
ketika seabad telah berlalu dan ia lenyap dalam getas,
tiba-tiba saja kita berdiri di puncak lautan neraka.
hutan dibangun dengan sihir kemesraan
kini telah terungkai dari kening asmara.
paru-paru kita tersiksa dan membusuk
karena kita serempak untuk saling melongsorkan siang
dan mengaborsi cinta di kancah pertempuran
tanpa saling menularkan bulu-bulu rindu
dan memuntahkan air mata
demi sebungkus kado pernikahan, masih kita simpan
di keranjang perjanjian.
-
mungkin, aku tak usah lagi bersekutu
dengan lampu-lampu mungil tumpul ini, karena
dia adalah jantung hati di suatu musim
dan dia juga penghancur hati di musim yang lain …[1].
-
Sleman, Desember 2012

*




[1] Kutipan dari film Kal Ho Naa Ho.

Ayat-ayat Duka

gebyar sebuah citra pernah melabrak hayatku.
memang masih terbekas dan tergantung di dahan memori.
selalu mendesis saat rumbai-rumbai lenganku coba memisahkan
dan aku tetap saja tak mampu mencampak
meski ia telah menjadi penyakit pengupas ketangkasan.
-
ia adalah teks-teks gelap. menyusup
pada selembar kertas batu dengan titel tersumpah.
menjadi sekeping deklarasi,
mengguntingi segenap semangat bercinta.
menindas kinerja otak di pusat meditasi. kubangun
dari janur transisi dan suara-suara asa
saat pendulum sihirku masih sanggup jelajahi teka-teki
di atas bundaran komitmen tak berbatas.
-
aku terkejut dalam cengang tatkala gelitik kekalahan sudah sepakat
‘tuk dampingi perilaku. mengundang perbedaan
dalam perlintasan tak terukur oleh waktu.
arca-arca kesopanan kian aus dan tersingkir dari bidang keyakinan
membuatku merasa seperti sebatang pion. ditimang oleh sungkawa
dalam kerabunan penuh aniaya.
-
Sleman, Desember 2012 

*

Remah-remah Sunyi

aku menulis napas ini
dalam pelukan sebuah jalur. gugurkan angin
di atas kertas biru terpencil.
kugilaskan tutur-tutur asing ini dari lorong kegalauan.
-
aku adalah kerikil. terlunta-lunta
pada serak geladak gurun.
jantungku terbungkam oleh friksi dan sengketa,
muncul dari penetrasi klasik sang pesta.
menyelundup lewati sekat-sekat. kuteguh-tempelkan
dalam kantuk statis kian menyeramkan.
-
kepalaku pun tersaput oleh karung kegilaan.
merongrong dan mengabrasi sistem kerja otak, juga
memakzulkan rasionalitas. kuterapkan di sulur-sulur nadi
menggantinya dengan pijar-pijar sesat. menuntunku
ke surga hitam dalam syahwat.
-
aset tubuhku kini
hanyalah sebuah bubuhan peran
di tikar agenda milik Tuhan.
– tak tersangkal dan tak tertahan –
laksana selembar presentasi. mesti kujunjung
seperti payung. tetaskan hikmah
sebagai bekal pertaruhan
-
Sleman, Desember 2012 

*