jejak-jejak libas melanda. bercokol di dada, mesra.
seperti perigi, senantiasa pancarkan gundukan-gundukan petaka
tiap edisi.
-
seakan menimba aral,
lengket itu tak henti-henti tawarkan secuil stereotip.
tentang pasir putih berkutu,
merebut imun batinku.
-
sudah lama aku menafsir secara resmi,
namun hanya lapar dan sia-sia terbuka.
bahkan kau panik;
pintu khusyukmu kau tumpas dengan selenting siut
hingga dingin darahmu ciptakan laga.
-
menjelang lelap, secarik patron terdampar.
menggeser lelah
lalu menukar palsu, tergantung di usiaku
dengan sekedip edukasi tentang gengsi.
-
dan,
aku pun pulas dalam kawah aspirasi
-
Sleman, Maret 2011
*