Senin, 01 Februari 2010

Memeluk Matahari

         : Matahari

terlentang. menatap rupamu secara rinci
dan menapaki garis bibir.
ini bukanlah bermakna peyoratif atau sinis.
tapi, merupakan pemangkas sekaligus pembongkar abadi
agar kudapat memerankan prioritas.
-
terlalu menunggak.
membalut cinta dan sayangmu seperti mengais pilu.
membuat sekumpulan parau mengoyak nada kehidupan,
telah lama berdentang. ini ajang dalam irama.
dan rindu menjadi antusias untuk segera menuntas
di balik kelopak dahaga.
-
tak perlu interogasi.
kuhanya ingin menyita Melati yang kian basi.
-
Kediri, Januari 2010

*

Mencerna Juara

         : Matahari

tak ada kepopuleran terencana.
segalanya jebol tatkala refleks untuk terus mencintaimu
menerus memunculkan hasrat, mengeruk rindu.
bolehlah jika kau sebut profesi berjenjang
dan akan memerkarakan kerunyaman.
tapi, aku masih menderai rutinitas di temaram malam.
-
kendati telah tervonis, takkan kubiarkan indah jasadmu
luput dan meliar bersama lain.
itu tak setimpal dengan pengorbanan labilku.
ini bukan masalah trauma namun setangkai cara
untuk melabuhkan hatimu di dekapku.
menggiringmu agar dapat memaknai celotehku.
-
tolong, jangan jelmakan sayangku padamu
sebagai perkakas usang.
-
Pasuruan, Januari 2010

*

. . .

         : Matahari

semangat melaju, pulas dengan beberapa anggukan
sambil mengobrol bersama lamunan.
menghabiskan banyak ongkos tenaga saat menjaring kebugaran.
dan tiba-tiba, khayal mencuci mata.
pun mencuci otakku lalu mengguncang mimpi
ketika dirimu menampar kejantananku.
ini takdir yang dapat kuubah atau nasib yang harus kerela?
-
Kediri, Januari 2010

*

Sajak Terakhir

         : Matahari

sebatang kapak menemui,
menawarkan sebidang ranjau penyurut nyali.
indera hati peka, menomorwahidkan satu racikan maut tiada tara.
tiba-tiba, olesan api merambati diri.
mencicipi bisikan kegagalan di kerumunan sabda khalayan
-
hari-hariku tersaput senyummu saat pose-pose menyambar
dan menguar dari dalam layar.
semerbak indah hiasi buana kemudian limbung terkena pancaran.
seisi angan menjadi melompong,
hanyut terguyur tatapanmu, menggenangi kalbu.
-
cintaku mulai keroncongan.
segumpulan itik menghibur tapi pedalaman nurani tak mujur.
raga terpancang, mengingkari segenap bayang merah.
terlalu lama menghimpit dan memunculkan trauma.
aku belum tuntas menyinggahimu
namun kau pantas menjinggai harapanku.
-
aumku menyalak, mencoba mengitari daerah rawan untuk bersorak.
tak ada penat. hanya keluguan semu, menyalakan dendam.
mereguk beberapa lengking tangis dan belajar menggerus parasmu
ketika berarak ikuti tawa-duka duniaku.
muruah beranjak pergi, meratapi jiwa tak terestui dan
mengabulkan segelintir renungan, melumat kobaran api asa.
kemenangan tak lagi terlihat kekar.
hanya menyisakan ketololan di hadapan kawan.
sungguh, sebuah pahit telah menyadarkanku
-
harapku, hanya ingin melingkarkan tanganku di hatimu.
mencoba membuat jiwamu terkesima oleh rayuan malam mingguku.
aku cemas jika tak terbalas.
kan terperangah bila kau menggandeng Arjuna.
kan berubah lindap apabila dirimu ketus kutatap.
doaku, semoga kelembutanmu tetap utuh
tatkala sinarmu bersandar bukan di pundakku.
-
Pasuruan, Januari 2010

*