Sabtu, 02 Januari 2010

Disorientasi Cinta

         : Matahari

jasadmu penuh pukau.
menepikan segala kekurangan ketika tulang belulang
mengarungi pedalaman hatiku.
terasa, menjunjung angan tak berdasar
hingga kepala membungkuk tajam.
-
parasmu tumbuhkan polemik. jadi, bukan bernada salah
saat tubuh kebablasan langkahi ibadah.
harummu layak untuk segala pria. tapi, mereka
kan menggembur bersama umpatan
bila matamu mengetuk hati selain milikku.
-
merayap setetes bisa di secuil butir pasir.
menapaki beberapa tali lalu menjongkok di lancip hidungku.
adikarya kebanggakan pun terpenjara jika itu adalah kirimanmu.
-
ingin diri meminang di bawah kunjungan mentari pagi.
mungkin, jiwa melemah tanpa elusmu.
mungkin pula menjadi inspirasi semangat biru.
ini anugerah, pun sejumput kutukan belia tiap mimpiku.
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Setangkup Cinta untuk Matahariku

         : Matahari

bolehlah, jika ujarmu memakzuli cintaku.
menyulut sebatang seokan usia dalam tabung.
-
aku tersangkut.
mataharimu menyergap, mencongkel sebagian besar malu
saat berkelit dan menggeleng di pucuk pandangmu.
-
tiba-tiba, lezatmu mengelupas.
rindu kian meruap. mencari beberapa rajah
hingga dagingku mengurus.
-
dia, sang ubun-ubun, menjadi kuno.
terlalu nikmat mengunyah segalamu pada masa lampau
lalu ia menjerat dada.
akhirnya, mataharimu menyuap pahit.
memahat ukiran sakit, tertiup ke sekujur.
-
mencolek hati bukan suatu kelenturan.
aku telah kuyup mengejar-terbakar.
pun membisingimu dengan berjuta rasa,
mengumbar derita di balik wajah
dan pula mendirikan malapetaka.
-
banyak keributan, sedikit terdengar kelegaan.
sekejap merekah kemudian terkikis
ketika firasatmu belum meraba.
percayakah kau padaku?
-
ingin memetikmu.
bentang tangan berharap mendekap agungmu tanpa terkerat.
ingin jua cincin, kalung, dan anting
kucantumkan untuk hiasanmu. namun, itu
hanya kupasan sayangku.
telah melebur bersama usapan air mata, mungkin!
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Selendang Cinta untuk Sayangku

         : Matahari

tersadar. ternyata, kau mengimpit suasana.
pijaran parau berserakan bersama telikungan getir.
setetes nyinyir sebabkan gigil.
mengenyahkan beberapa ikrar
dan berangsur diriku mencium riuh kekalahan.
-
entah, itu gugatan ataukah makam.
anarki sedih merebak. sebuah pilarnya
mengukir prestasi, merusak konsentrasi.
posisi imitasi mulai terbentuk.
kasatmata, aku beranjak tak berdaya.
-
aku berada pada peringkat terburuk.
bakat bukan jadi senjata.
ajang kematian tersebar di kota cinta.
suksesmu adalah hancurku.
harapanku berada pada lambaian manismu.
-
alam menggelegar, mengubah rangkaian rindu di sela paru.
sayang, sudikah berdansa denganku?
-
ah, percik kasihmu tak mampu kuraih.
terlalu berharga, amat sakit bila sekadar menjamah.
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Pemakaman Rindu

         : Matahari

di sebuah mimpi kau memantik, memrotes segala bayangku hingga jera.
jerit mengalun syahdu, menjubeli rongga-ceruk
pada dinding-dinding otak tak bernyawa.
-
segenggam lambai memotivasi serentak gerak.
namun sial, hati hanya berongkang-ongkang tanpa kelembutan.
siluetku angkat kaki.
dikaruniailah seutas kandidat resmi, tapi terlalu pahit.
dorongan menyerah, berjibun memenuhi pelataran pelupuk mata.
membuahi dan menyayang jadi prioritas primer.
-
izinkan diri menjelma pramuniaga.
melayani untuk sebungkus cendera mata di balik ragamu.
rohku melafalkan cinta, memberi satu gambling di ujungnya.
-
Pasuruan, Desember 2009

*