Sabtu, 04 Juni 2011

Sepotong Duka di Rimba Tak Bernama

         : Matahari

takdir adalah sesuatu.
terkadang mencekik
hingga karamkan logika tiap manusia
(seperti diriku).
-
saat ini, aku terjangkit kecemasan.
pusing menerus menggelinding dalam tempurung kepala.
gelaknya timbulkan kemelut. krusial
dan tabir-tabir tragis itu tak mampu kukunci
atau sekadar kukemas.
-
jujur, ingin kumerengek kala hadapi kemelut ini.
bukan ujian pertama, --akut--
-
raut-raut bara telah jungkalkan jenjang kewarasan
tanpa antisipasi. hanya intervensi
berjibun. penuhi kolam keramikku
lantas larut seiring kehausan.
-
di ujung parak ada cengir memijat.
sepertinya, ia membina antibodi
agar lenganku mampu menangkal puruk-parakku
dengan presisi.
-
Sleman, Mei 2011

*

Inkubasi

         : Matahari

senja menyapa tatkala aku membuas di tentang altar.
merintis rindu
setelah guyuran pelangi membekap atensi.
-
baharimu telah menciumku, bersama paras.
buatku bergelinjang. tergelepar dalam kelesuan.
rona terkelupas
dan sedap cuka tak segera lekang di bantaran mapan hati.
-
aduhai, bahkan tolehmu kerap menyergap.
berondongi fiksiku dengan mimik-mimik
hingga asmaraku berkabung.
bersimbah cemburu
di adukan kopi mendung.
-
kosong ini pun tergerai.
melandai seiring khilaf melata.
tinggalkan orisinalitas magis,
kerap kukuak di balik kerdil sang fana.
-
oh Tuhan, jangan izinkan lintasan kucel ini menggapai!
aku masih ingin mematut di rida primaMu.
-
Sleman, Mei 2011

*

Ayat Alam

         : Matahari

dimensi buram ini senantiasa kurawat.
dari atas singgasana, kurebakkan ramah sebagai media.
nyatanya
megah cinta hanyalah jarum, teramputasi oleh cuaca.
-
hati lapang kian punah.
terlilit rajam dan kungkung di liang limbah
tanpa jendela.
-
takdir pun siap menguburku.
denting pedang inapi dada, bertalu-talu.
berisik, bersahut.
melejit bersama kalap, kucerna
tanpa benah.
-
ingin kutancapkan sayang padamu dengan renyah
atau rembesi indahmu dengan kesatria.
agar cecapku ringan,
agar aku tak terperangkap oleh kotak pengap.
-
Sleman, Mei 2011

*

Sajak Butut

         : Matahari

di ujung kebutaan aku berziarah.
menggali ideologi
meski gelagap begadang di titik hitam.
-
tiba-tiba,
kutemukan sajak di barat.
kugahar, dan cantiknya menculik tahta.
api terdeteksi pada kata-kata.
aku tergiur, lalu berdansa.
na.. na.. naa…
-
kuberlari menerobos dini, --padamu--
menabrak kekusutan guram, seperti lelaki
tanpa beban.
lari.. lari.. lari…
-
badan adalah baju, mental adalah tajam.
istimewa!
seperti madu mencuci hasrat.
-
tapi,
tak pernah kugapai gelarmu.
janggal. tanpa prediksi
bagai gelaran potret jumbo.
tak mampu kurengkuh dengan pita merah.
-
pada murung, atmaku telah jumud.
hausku berlutut di tentang almanak tua.
menunggu secangkir nikotin, bebaskan luka.
-
Sleman, Mei 2011

*

Madah untuk Michie

         : Matahari

pada hangat secangkir teh, aku berorasi.
kuawali dengan decak ‘tuk sang primadona.
lengkungkan rumbai rambutnya dalam imaji.
-
sepasang bayang kuhadirkan; Kau dan Aku
tanpa peluk. hanya sekadar jamuan minum.
ingin kuduplikasi
untuk hari-hari sebelum binasa.
-
kumanjakan kau dalam setangkup layar kolosal.
jangan berpaling!
harapku, ikon-ikonmu kujelma jadi nyata.
kuisap, lalu ‘kan kubela dari kemungkaran sang fasad
agar kau tetap agung,
terjinjing rantai kepolosan sang adiluhung.
-
tapi, kau menjerit kala tunggal kurengkuh.
terbunuh.
capaianku hilang, sisakan kebohongan.
dan, aku terusik oleh sitir malam,
mengukir bulan dengan kecerdikan.
-
pada hangat secangkir teh, aku menangis untukmu.
-
Sleman, Mei 2011

*