Rabu, 02 September 2009

Impian Mujarad

         : Matahari

persentase khayal telah berkibar dengan lantang.
petikan zikir dan ayat-ayat kejiwaan
tak mampu meraih kedahsyatan.
terpacu memberi sedikit hela pada tapak demi jejak.
-
wajahmu sanggup mengganti sang pencipta
: begitu kuat, amat memikat.
menunggumu diriku di atas batu surga bercahaya
rembulan purnama.
-
hati terbakar, jiwa kan beku bila indahmu didekap nyawa selainku.
tiap irisan malam terlalu kejam menghampiri.
mimpi-mimpi melanjutkan propaganda,
dan cantikmu hinggap bersama dingin airmata.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Hampa

         : Matahari

aku berdiri pada seonggok melati kering.
esok tak ada lagi mata cerah, pun nur berwarna.
detak jantung meminjam hidup dari kelegaan,
menatap wajah putih berhias senyum menggoda.
mencegah kacau bukanlah prioritas karena
mutiara hati juga membohongi jisim.
-
helai rambut menutupi sebagian merah
buatku ingin tuk membelainya terus,
menerus hingga aku merasakan nikmat api cinta.
tak bernilai saat sang cantik hanya tersenyum di balik dompet.
tanda bahaya meraung dengan sempurna di pangkuan dada.
satu usiran dapat melumpuhkanku
dalam keheningan siang-malam.
pesan mimpi-mimpi makin membuat tersudut menjauh darimu.
gerimis biru mengucur; meratapi rindu.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Belaian Secangkir Kopi-Susu

         : Matahari

kehangatan lama kembali bersemi
namun kepulan asap rokok mengingatkan
pada setangkai wajah berpesona.
canda tawa dalam file kutampilkan sekadar mengenang.
suara trotoar timbulkan kebisingan rindu,
pun petikan senar gitar.
membangunkan mata dari secuil keheningan.
-
secangkir kopi-susu bergerak melumuri sepasang kecupan.
: tak ada, kecuali lembutmu menusuk dada.
-
sebungkus data manis tertayang di lembah bayangan.
hanya beberapa detik saja kunikmati
karena memang bukan menjadi milik secara pribadi.
gelembung kecepatan memacu agar terus menikmati
dalam indah bayangan.
diri mengerti kepahitan kan menerus membayang tanpa kejelasan
bergelimang pelukan tajam melukai pribadi.
generasi putih bergelayut pada pintu tanpa spirit,
menunggu jeritan tangis siap meledak di hadapan cantik.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Tarian Rindu

         : Matahari

angin-angin saling berpesan
sebuah hentakan berbuih padaku.
gelombang sunyi meneriaki diri saat kucangkungi foto.
         “tinggalkan saja dirinya, sobat!
         kesabaranmu telah berkarat”.
-
renungan mimpi-mimpi kucoba selidiki.
memang tak ada kemenangan nyata ‘tuk jiwa,
tak ada kemesraan pada raga.
amarah sudah lancang melintasi alam kesucian
dan aku tak mau lebih mendurhakainya.
-
helai cinta semakin merapuh.
gemerlap rindu beringsut membusuk
bersama ketakpantasan.
hujan menitikkan airmatanya secara sempurna.
puing-puing khayalan semakin jelas menerbitkan jemu.
perjuangan ini mungkin membosankan.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*