Selasa, 07 Oktober 2014

Noni

         Sayang, masih kompletkah lendir amormu
         untuk tumbuhkan lagi hikayat lalu tentang kita?


         coba perhatikan:
biografi kita tercorat-coreti kali pertama
ketika ada balas bentur dan curiga di aliran mata.
di tengah-tengah deru pipa-pipa prostitusi
         dan cerocos-cerocos germo
kita memilih apriori sebagai adopsi perdana
sampai tiba pada suatu puncak di mana kita
hanya mampu saling menimba tepi-tepi.
-
tapi, dari situlah kencan-kencan merah-biru
mulai membuku di kitab kita: sebuah “we time”;
sangkar romantis tempat kita menjanji yakinan
‘tuk mengeyelkan segala aset dan omzet berahi.
-
aku ingat dulu di salah satu sowan kita,
bagaimana dua anting-antingmu meringis kepadaku.
dan aku tak kan lupa saat kau menjawabnya
dengan zamzam lunak secara tiba-tiba. lantas,
sejak peristiwa itu, kita merasa sarang buatan kita
s’lalu semburkan mirakel-mirakel baru.
seperti pecandu madu, dua sejoli hilang
dicaplok semringah. tentunya,
belerang berbisa dan kaldron berapi
         di lubuk-lubuk sanubari
adalah antagonis niscaya. dan kita melewatinya
seakan sembab-sembab tersebut ialah tanda aliansi.
-
namun, persekutuan abadi antara aku-dirimu
ternyata lekas tandus dan menyedihkan. meredup,
lalu terbunuh oleh deklarasi kenyataan.
kita sadar bahwa konser pribadi kita
bukanlah skizofrenia belaka.
semuanya memang berlepotan dan bobrok
hingga ke lutut. tetapi, tidak berarti
aku harus melemburkan ingin
ke dalam perdebatan ultramaya
sebab molek dan ayumu dapat saja kutamatkan
bila kau bersedia ambil air matamu kembali
di telapak hati ini.
-
Sleman, September 2014

*

Minggu, 03 Agustus 2014

Malam yang Mengurung Kata-kata

limas kesabaranku akhirnya menajam
setelah sekian lama terkunci
di dalam sajak-sajak emosi.
setrip-setrip puncak berimpitnya
sudah tak lagi membengkak. jadi,
di situlah puisi-puisi santai baru berawal.
-
pada gigil dan bintik kelabu di lalu,
arak-arakan tentang derita selalu datang sebagai tema.
pujian-pujian paradoks dari perutnya senantiasa
menggunting akar-batang-dahan trek perjalanan,
sangkarkan gagasan di bilik-bilik pilu,
dan kerap membikin perdebatan egosentris.
membuat kecerdasan bercetus jadi antagonis
dan bersaing dengan respons-respons kearifan. tapi,
kelemahan tersebut mengalami pengayaan
seiring turunnya wahyu selaku hibah
dari sekretariat ketuhanan.
donasi-donasi itu berdandan lucu
dan dipasang di pohon-pohon penentu.
meloloskan seluruh bencana
hingga cincin semangat ditemukan
lantas diantar ke arah kerukunan. dan kini,
kesembuhanku sepenuhnya ditopang oleh malam.
-
iming-iming untuk tetap menjejali kejujuran
memang sebuah tantangan. namun sejauh kronologi,
fleksibilitas neraca tidak pernah ramah dan senang
‘tuk kenali diri. aku pun belum menegas
terhadap kegagalan kebandelan perfeksionis ini;
apakah meski bersyukur
karena terbaptis oleh hitungan reformasi
atau malah terpukul
lantaran tiada daya mengangkat keindahan beruntunnya
bak sang juara. setidaknya,
paku-paku rantauan dapat kembali dipalu
sehingga kata-kata di kertas-kertas klasiknya
lebih gampang bersuara.
-
Sleman, Juli 2014

*

Kamis, 08 Mei 2014

Menginvestasikan Hati pada Tubuh Surga

koloni di belakang pertahanan sudah jadi arang.
toksin telah terhunus dan tandas dari nada-nada. maka,
musik pun kembali bangkitkan animasi
meski rantai penghormatan
sesekali tersangkut pada perca-perca kontrak.
-
terjun ke dalam perbincangan kembali adalah krusial
dan tarik-ulur tanpa disertai acuh dan becus ialah mati.
memang solusi, tapi
mesti mampu mengatasi semesta keberisikan
dengan mandiri. sebab
aset di rol kekerasan bukan untuk diperinci
menggunakan kengerian.
-
materi baru akan selalu dituntun secara edukatif
sebagai pembuka.
ditabrakkan dan digebrakkan ke arah keengganan
kendati ujung gincu belum utuh diselamkan
di ujung busana. tentu saja tiada anulir
karena limbah abad lalu
harus diinsaf-entaskan agar tak lagi menjadi adendum
di perkumpulan depan.
-
unjuk rasa di tiap sukma merupakan niscaya.
seorang tukang konservasi pun
amat sukar mengamankan seluruh ekspresi elastis di sana.
bahkan pendekar sejati
hanya sanggup menjemput momongan melelahkan tersebut
menuju musabab
lantas menimpuk sarinya ke sumber atensi
demi representasi perburuan.
-
Pasuruan, April 2014

*

Kado Istimewa

semalam, sebuah gerbang fatamorgana
mengimpor suatu resensi
ketika kuberada di tengah jalan.
perkakas nokturnal itu
menitipkan satu logam berwarna-warni
di sela-sela kekolapsan.
-
awalnya, spesies ikonis itu
tampak cebol dan gemar bergonta-ganti kepolosan.
namun seiring kematangan ciri,
aktris itu kian muluk dan memblokir
segala titik evaluasi. ia melindas
sekaligus meremukkan seluruh alur komunikasi di otak,
tak segan mencuri tuas kendali di pusat tata,
pun menyelipkan beberapa platform purba
di puncak-puncak siaga.
semua itu ia kerjakan
untuk melepaskan racun dan kuman anonim
agar aku berpikir.
-
saat siuman, kabut pesona itu
telah berintegrasi dan berkolaborasi dengan konsentrasi.
tiada luber kejut maupun apriori protes di alam brata.
hanya sekadar bungkam dan kembang kempis antena
tatkala coba menggeledah bukti di antara langkah-langkah.
-
seorang dokter dan perawat mungkin tidak mampu
menangkap jawaban di masa keemasan ini.
meski begitu, sirkuit kafah ini
takkan kucemooh atau kubuang
ke dalam lemari hitam.
ia cuma perlu dikikis perlahan-lahan.
siapa tahu, ia adalah novel maskawinku
di masa mendatang.
-
Pasuruan, April 2014

*

Jumat, 04 April 2014

Amigurumi

boneka ini adalah titisan kekakuanku. di dalamnya,
telah kuinapkan segala plot dan resonansi tentangmu.
-
detail-detail dokumenku
memang tak tersurat di sana. bukan berarti
perburuan dan kerajinan untuk mencokok hatimu
mesti berkemah selamanya di lingkungan tanya
dan terongkang-ongkang.
oleh sebab itu, dengan segenap intuisi
gangguan statis ini pun akhirnya kuforsir keluar
agar bergolak
meski hilal harap berada di ambang tanding terendah. maka,
sebelum boneka ini uzur dan jadi belatung
sudikah adik menanggap upeti ini? setidaknya,
melalui benda ini akan tercipta benturan di antara kita
lalu terbentuk cerobong silaturahmi
sehingga kita dapat saling bertukar sapa. lebih-lebih,
adik berkenan mengreasikan sinergi dan reputasi
demi satu dinasti suci di pekarangan ultracahaya.
-
Sleman, Maret 2014

*

Selasa, 04 Maret 2014

Tadarus Cinta

terbukanya kelopak hati adalah wangi;
mengalir dan terbang memenuhi berbagai perlawatan.
-
perkelanaan masa merupakan suatu media.
suatu sistem uji coba ‘tuk menakar tolok ukur
bagaimana hasil adalah puspa.
setiap jalur ialah tangga.
menukik dan melambung berdasar peta cuaca.
sesekali, Tuhan memberi marka. sisanya,
hanyalah imajinasi, juga halusinasi.
-
saban langkah pasti tersusun seiring tema.
memang ada sub-sub tak tentu. asing.
namun itu berlandas waktu.
bahkan ranting-ranting kering pun bukanlah benalu.
itu cuma anasir. memerlukan tafsir
agar terdedah di alam zikir.
-
lorong-lorong itu terbuat
dari lentik tangan sang mega-mega.
sebuah bangunan dengan beragam ornamen
meliuk-liuk di tabir-dinding-pintunya.
di sanalah aksara-aksara gaib itu akan memeriksa.
berikan tipuan dan tekanan agar mereka mengerti
akar riwayat sang Ilahi.
-
bila jarum titimangsa telah utuh
dan tegak pada kulminasi,
maka matahari sudah purnama.
di situlah rapor kembara kan dikembalikan.
segala tawa dan duka menjadi sejarah. pun,
kelak kan jadi pusaka.
putih atau hitam semuanya berasal
dari gerak keikhlasan, jua keberuntungan.
jangan pernah terbitkan praduga hitam
sebab serat-serat nasib ditulis sebelum nama.
dan takzim itu memang harus disembahkan
di bawah kaki-kaki kuasa.
-
Sleman, Februari 2014

*

Minggu, 02 Februari 2014

Damn!

         : Maryama al Kad

pada tumpukan kerlap-kerlip planet-planet itu
terlampir satu rona: “Mu”.
akulah peletaknya. sewaktu-waktu
dapat sekadar kujenguk dengan cinta.
-
aku memungut janin itu saat ia bertudung sendu.
kami memulainya dalam suka
ketika segalanya adalah opsi untuk berbuah.
perlahan, akar kami saling bercengkerama.
membiarkan umbi-umbinya sungsang dan menari
hingga tumbuh subur di bawah letup berahi.
-
tatkala semuanya tampak muda
kami pun melarut ke alam negosiasi.
membarter beragam dahan dan ranting kualifikasi.
mencoba bertahan di batang keyakinan
bahwa kami mampu menerjang racun
penyebab pertengkaran. tapi, kami ternyata tiada.
lesap ke pelukan takdir dan beringsut
ke liang duka.
-
di gelap itulah aku tahu
bayang-bayang ingin menculik kenanganku.
tak ada hasrat ‘tuk melepas bening
kendati harus melawan segenap jelaga di raga dan jiwa.
namun kusadar, gigih nasib terlalu tegar.
aku berlari, ada hadang di ujung terbang.
aku melayang, ada halang di pangkal kecepatan.
maka, di kepanikan kala itu
aku pun membuang bulir itu ke angkasa,
ke suatu entah tanpa nama singgah.
dan lambat laun aku tertidur
setelah berjuta pikir berdoa
demi selamat dan afiatNya di sudut sana.
-
malam ini, kembali
sinarNya menemani sepi. Ia mengerti
bagaimana merawat dan membelai gelisah
meski harap sudah tandas ditelan arah.
aku hanya sanggup biarkan gamit-gamit ini
bergerak di saban renung. memang perlu,
sekali-kali menantang auroraNya.
setidaknya, dapat tetap ingat
dan menghadiahiNya sari hikmah melalui tafakur
walau mesti dimaki oleh Tuhan
juga para malaikat di setiap dimensi perjumpaan.
-
Sleman, Januari 2014

*

… di Kaki Pelangi

komando agar menyisir lantai tanjakan
dan menyabari polah tingkah guncangan
akhirnya tak sia-sia.
perjalanan ke satu jurusan itu telah purna. tapi…
-
di bawah situ ada sesuatu sinar nan ayu.
dalam lambat ia melar dan mengempis,
pun bergeser perlahan ke kiri dan ke kanan
di atas sebuah pualam hitam.
laksana seorang bocah,
daya pikat itu sungguh seperti guna-guna.
hati ini terasa terseret ‘tuk segera menyeruduk.
nyungsep di dekatnya dan tengkurap pada suatu gap.
-
namun, sebelum tindak benar-benar bergelora
tiba-tiba ia terpental ke arahku.
muncul terali dari tubuhnya
lalu secara cepat melendir di kulit dan mata.
mendadak, aku terdiam bak maneken.
-
di bawah kuasa
ciap-ciap berisiknya mulai membasmi kesadaran.
bukan siksaan, tetapi lebih dekat kepada berbagi ciuman.
entah kenapa aku tidak berteriak
atau melakukan rekonsiliasi terhadapnya
seakan-akan ini merupakan inovasi prematur.
-
meski demikian, tantangan itu kubiarkan saja berkonspirasi
karena epik di kantung ruh ini tiada lagi berfungsi.
sudah waktunya haus-getir ini mesti direm.
jadi, kuterima saja
semburat-semburat warna baru ini di belasan titik arteri.
hingga lelap kian mengganda,
hingga gumpal-gumpal nada di palet kalis
berhenti bicara dengan wajahNya.
-
Sleman, Januari 2014

*

Sabtu, 04 Januari 2014

Taman Gaib

ingatan perihal seluk-beluk dirinya
selalu saja datang di suatu taman.
tak pernah layu dan kerap berbumbu.
mungkin itu semacam kontrak atau kesepakatan spiritual
antara pesan dan kesan
melalui tanggul-tanggul rumahku.
berbondong-bondong tumbuh untuk mengotori konsentrasi
dan tak jarang berbisik
‘tuk menyemprot kasak-kusuk
tentang karung-karung mimpi.
-
meski begitu,
tak pernah ada kolong atau tangga
agar dapat mengelupas atau mengkhianat dari sana,
sekadar kembangkan hidung ini
agar insang mampu monggondol lain kisah.
dan bila catatan-catatan fiktif itu
terus berumur dan kian membaja
maka Tuhan sepertinya memang berkenan merekrut
agar aku menerapkan kekerasan
dan sanggup berkelahi dengan waktu
di bawah atap ujian.
-
Sleman, Desember 2013

*