untuk tumbuhkan lagi hikayat lalu tentang kita?
coba perhatikan:
biografi kita tercorat-coreti kali pertama
ketika ada balas bentur dan curiga di aliran mata.
di tengah-tengah deru pipa-pipa prostitusi
dan cerocos-cerocos germo
kita memilih apriori sebagai adopsi perdana
sampai tiba pada suatu puncak di mana kita
hanya mampu saling menimba tepi-tepi.
-
tapi, dari situlah kencan-kencan merah-biru
mulai membuku di kitab kita: sebuah “we time”;
sangkar romantis tempat kita menjanji yakinan
‘tuk mengeyelkan segala aset dan omzet berahi.
-
aku ingat dulu di salah satu sowan kita,
bagaimana dua anting-antingmu meringis kepadaku.
dan aku tak kan lupa saat kau menjawabnya
dengan zamzam lunak secara tiba-tiba. lantas,
sejak peristiwa itu, kita merasa sarang buatan kita
s’lalu semburkan mirakel-mirakel baru.
seperti pecandu madu, dua sejoli hilang
dicaplok semringah. tentunya,
belerang berbisa dan kaldron berapi
di lubuk-lubuk sanubari
adalah antagonis niscaya. dan kita melewatinya
seakan sembab-sembab tersebut ialah tanda aliansi.
-
namun, persekutuan abadi antara aku-dirimu
ternyata lekas tandus dan menyedihkan. meredup,
lalu terbunuh oleh deklarasi kenyataan.
kita sadar bahwa konser pribadi kita
bukanlah skizofrenia belaka.
semuanya memang berlepotan dan bobrok
hingga ke lutut. tetapi, tidak berarti
aku harus melemburkan ingin
ke dalam perdebatan ultramaya
sebab molek dan ayumu dapat saja kutamatkan
bila kau bersedia ambil air matamu kembali
di telapak hati ini.
-
Sleman, September 2014
*