Minggu, 06 November 2011

Katastrofe

         : Matahari

lembab tangis masih saja masif dan tertambat pada ambang nirsadar.
melayang-layang seperti perantau, tak pernah pulang
jika belum temukan restorasi sebagai pungkasan.
-
di sana, aku dapat melihat rangkaian kesakitan. menerus terajut,
terpahat pada kilauan khusyuk-khusyuk hati.
seperti penulisan naskah, pena-penanya digeser oleh para ahli
tatkala langit menjingga dan usia masih bersantai.
ada pula tuangan tembakan.
sesaki kabur kendurku, terbang di tubir keutuhan.
-
hmm…
pinangan semu ini takkan pernah tercabut dari semangatnya.
takkan pernah menguap lantas lenyap beriring sengit doa-doa.
takkan pernah!
-
Sleman, Oktober 2011 

*

Tentang Hujan, Gitar Tua, dan Sebersit Cinta

         : Matahari

hujan ini ingatkanku tentang karakter. pernah meletus kala kuterjemahkan merah. seperti sebuah gambar, tertuang dari kegemilangan ke dalam satu inspirasi. lebat, menggempur, dan mengikis kenyataan lugu, telah lama kuanggit seiring kelugasanku. apakah ini asli? entah.
-
gitar ini sebagai saksi. tentang tercerai-berainya nada-nada ramah tingkat iba. di balik medium-mediumnya ada enggan; apakah harus kucomot atau sekadar kurobohkan? tidak tahu. kumengerti hanyalah lupa. tertanam pada igaku, hilang di jalanan.
-
aku bermutasi ke sebuah lokasi janat. coba hindari petaka dan taji-taji. mungkin akan mengganjarku dengan kerumitan tak bertuntas. aku lari untuk kunjungi sekuntum benak. selalu berikan revisi. jika peluangku telah mati maka mendekatlah. kau akan maklum dengan sang cinta. dan tangis adalah ulah setimpal untuk rayakan merdeka.
-
Sleman, Oktober 2011

*

Serbuk Sari

         : Matahari

di sela-sela relung nyawa, kau setubuhi dengan setia.
aku datang; tanpa kabut, tanpa hujan.
aku bersimpul di hadapmu.
bertekuk nafsu, menunduk, dan memegang rahasia
tentang setangkai serbuk sari, kuboyong dalam wujud asasi
dari butanya halaman umurku.
-
         sayang, sudikah kau menerimanya?
-
Sleman, Oktober 2011

*

Pesona

         : Matahari

pada gagang malam
kutemukan dirimu. lunglai di atas selembar pualam.
kusentuh, lantas kuremas dingin sensual tanganmu.
lalu, kupanjati tubuhmu
         untuk menggugat.
-
sayang, aku telah berlari. kitari tujuh samudra dunia
dengan satu akselerasi. terpatri dalam satu rute
         untukMu.
apa hanya geming dan kerling kau sembahkan untuk piluku?
-
aku kerap menghuni tekstur-tekstur maut, terpajang
         di lorong-lorong tua
bertelekan teror dan tusuk-tusuk celaka.
tubuhku terkoyak. ditimang keabsurdan, timbulkan cengang.
kau bisa mengidentifikasi bercak-bercak luka
pada kepolosan hati ini.
bercak-bercak akan buatmu mengerti
bahwa aku adalah aktor, setia menggubal cinta
         untukMu.
-
         sayang,
sampai kapan kau menerus mencangkung tanpa ekspresi,
hiraukan diriku, ingin melamarmu dengan kasih?
-
Sleman, Oktober 2011

*

Chaos

         : Matahari

dengar!
saat ini fondasi jantungku meliar.
tertepuk-tepuk daulat halus,
datang seiring endap oksigen bola-bola meriah
         dari luar.
-
ia mencambukku; kau.
kau.. kau.. kau.. kau.. kau…
lagi-lagi kau berkibar di atas sayat-sayat rapuh.
membikin pori-pori itu kian lebar, dan
kali ini kau adalah aral.
menelungkup padaku. menghijab hingga hilangkan pesta.
karamkan jiwa ini ke hatimu tanpa kata.
uhh…
-
kau menjibaku.
daya tarikmu bertumpu di atas kestabilanku.
ada kagum, juga dendam
seperti konsep-konsep. tak sanggup kueja dengan gagah
atau sekadar kutelan dalam tegas cahaya bulan.
-
tapi, di edisi ini
kau terlalu cantik, sayang.
memadat pada kesingsetan rindu.
buatku membatu.
asimetriskan lalu lintas mengalir deras
di sulur-sulur darah.
tertutup oleh tirai-tirai kemuakan.
-
kau ialah bintang.
masuk ke bubung mimpi-mimpi ajaib
dengan aksesori menawan.
kau piawai permainkan sendu. instruksikan akalku
agar senantiasa mengimpor lekuk-lekuk merah muda
         demi semerbak cinta.
         kerap kuteken dalam doa
         sembari tuangkan air mata.
-
sayang,
apakah kau akan menerus mengikat lalu menggulungku
         seperti ini?
-
Sleman, Oktober 2011 

*