sembilan batang hio kunyalakan. dan keping-keping asapnya berteriak ke segala penjuru. merayu, sesatkanku. hingga aku tenggelam dalam kerumitan intuisi; tentang cinta.
-
molekmu terendus oleh umurku. ada decak di sana. lembut, namun menyekap nalar. buatku linglung. terbuang dari petak kreasi. lantas opsi-opsi ilusi tertulis sebagai isi pada utuh sujudku. miris menginfeksi. melaknat segenap opini. dan sodorkan teror, berlalu-lalang di alamku. ah…
-
ingar-bingar sosokmu adalah elang. mengintai, lalu membuas. menghantam, menggerogot, menggulung, dan melahap pion-pion proteksi. seperti mendikte. merombak belasan juntaian inisial nyawa. bahkan sesekali menggugah curam saat aku bersekutu dengan santai.
-
kau menaruhku di atas tungku. tangan-kakiku merangkak di atas kawat derita.
kau menyumpalku. agar bibir ini tak jadi potlot yang lukiskan doa.
inikah eksekusi untukku
?
-
kini,
habitatku tersobek. buraikan embus-embus skeptis untuk ranting-ranting curiga.
di sana,
sang iblis masih bercinta dengan para selir.
tapi ia siaga membidik
tatkala seonggok tubuh tercelup dalam kolam getir.
-
Sleman, Juni 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar